Sabtu, 21 November 2015

CAPEK MANA...

Kemarin siang,
Baca post dari seorang teman, a mommy with 1 son, and a carrier woman..
This is what she posted.


CAPEK MANA?

Kita, ibu rumahtangga ini, tanpa sadar sering jadi ratu drama. Merasa diri menjadi orang paling teraniaya sedunia.

Kamu kan ibu rumahtangga juga,segitunya amat sih men-judge sesama?

Lha justru karena saya ini ibu rumahtangga, maka saya bisa menilai seberapa drama-nya saya :D

Gimana nggak drama, kalau yang saya baca adalah artikel yang hanya mendukung penilaian tinggi tentang diri saya saja. Dan mengelu-elukan profesi saya yang konon paling mulia sejagat raya. 

Suatu ketika, di saat emosi sedang mencapai puncaknya, dan kelelahan fisik mendera, kita pernah donk berandai-andai jadi ibu pekerja.. yang wangi berseri setiap pagi, dengan dandanan natural dan tas yang selalu ganti..

Sedang kita masih seperti serigala kesurupan membangunkan anak-anak yang susah makan. Belum mengurusi kaus kaki suami yang keselip entah kemana.. segala keruwetan dunia sepertinya tertumpah ke kita semata.

Kita akan berfikir, sekaligus jumawa, kira-kira bisa nggak ya, ibu pekerja itu melakukan hal-hal yang kita lakukan ini? Makan siang sambil nyebokin anak BAB, tidur siang sambil berdiri (asli ini pernah saya lakukan saking lelahnya momong dua Balita), menggoreng ikan sambil menggiling pakaian sekaligus menggendong bayi, dan mendongeng buat kakaknya.. bisa nggak ya?

Sedangkan mereka pagi-pagi sudah cantik, seolah tinggal mengurusi diri sendiri saja. Anak-anak ada asisten yang entah mengapa betah kerja bertahun-tahun dengan mereka, sedang asisten kita tiap bulan minta resign karena tak betah punya majikan ibu rumahtangga..

Uang, mereka jelas ada. Suami..nggak kalah ganteng dengan suami kita. Status sosial..oh mereka di atas kita. Kita kalah telak kalau mau bersaing dengan mereka. Ditambah entah mengapa kecantikan mereka rasanya di atas rata-rata. Lengkaplah sudah penderitaan kita..

Apa bisa mereka melakukan apa yang kita lakukan?

Padahal.. di sisi lain..

Saat ibu cantik itu melewati rumah kita ketika hendak berangkat kerja, mereka ingat akan kerinduan menyuapi nasi goreng ke perut anaknya.

Perjalanan menuju kantor itu sendiri tidak pernah mudah. Apalagi tinggal di ibukota yang kalau dituruti, jalan raya ini bisa bikin gila. 

Mereka harus berdesakan dengan banyak orang di dalam kereta, di dalam bis kota. Berpeluh-peluh padahal matahari belum juga tinggi.. bisakah kita melewati pagi dengan hiruk pikuk begini?

Di kantor..tumpukan pekerjaan menanti. Bos ngomel tiada henti. Deadline menunggu ditepati. Sementara pembantu di rumah SMS melaporkan si bayi yang panas tinggi.. bisakah kita melalui hari semacam ini?

Kita makan siang sambil nyeboki. Mereka bisa jadi tak sempat makan karena jam istirahat harus ia tebus untuk memompa ASI. Atau lari ke apotek demi membeli obat si bayi..

Kita punya suami yang sangat mengerti. Gajinya tak pernah dianggap uangnya sendiri. Mereka yang kita anggap punya uang tak berseri itu, bisa jadi tak pernah menikmati uangnya sendiri karena cicilan menanti. Atau suami yang tak tahu diri.

Kita masih bisa menunda PR anak di siang hari, ketika lelah, untuk dikerjakan malam nanti. Tapi mereka, tak boleh ada kata lelah sepulang kerja. Karena anak mana pernah bisa ditunda. Mengingat hanya malam yang mereka punya.

Kita bisa menyegerakan tidur kala badan serasa habis digebuki. Toh esok masih ada hari. Tapi mereka hidup untuk anak dan suami hanya pada malam hari. Esok pagi berarti tak ada hari yang terluang kembali.

Kalau ini yang terjadi pada kita.. bisa jadi kita yang lebih dulu menyerah daripada mereka.

Kita lelah, itu sudah pasti. Ibarat petani, kita sedang memasuki mongso labuh. Masa menanam yang capeknya lahir dan batin.

Tapi bukan berarti ibu yang bukan ibu rumahtangga memiliki level kelelahan di bawah kita. Mana pernah kita tahu di balik seragam cantik itu, ada sepotong hati yang pilu?

Seorang ibu, apa pun profesinya, adalah ibu terbaik untuk anak-anak mereka.

Mari jadi ibu rumahtangga yang fokus mengurus rumah kita saja. Biarlah mereka dengan dunia dan rumah mereka. Tak perlu membandingkan. Apalagi menyesali pilihan. Ingatlah selalu, dalamnya masalah setiap orang tak pernah ada yang tahu 

Karena menjadi ibu, mau bekerja ataupun tidak bekerja, dia tetap orang yang melahirkan anak-anaknya.

Salam ibu rumahtangga


Nice post buat saya...
Saya yang ga pernah mau tahu urusan orang lain, terutama pilihan untuk jadi wanita pekerja atau ibu rumah tangga, buat saya seorang ibu yang melakukan pilihan adalah mereka yang selalu ingin jadi yang terbaik buat anak2 mereka, yang kita ga pernah tahu apa alasan mereka dengan keputusan mereka, cuma mereka yang tahu, so...buat apa ribet mikir urusan orang.

Saya,
Nggak pernah nyinyir sama sosok ibu rumah tangga yang mungkin terlihat ga gaul, ga fashionable, ga cantik atau apapun itulah, justru buat saya mereka hebat, apalagi mereka yang tadinya berkarir hebat lantas punya keputusan to be a full mom, membayangkan pekerjaan mereka yang banyakk tanpa henti mungkin, 24 jam tanpa tergaji...
Well they are a great mom.

Iri saya,
Ibu yang di rumah itu bisa full perhatian sama anak2nya, tahu persis bagaimana perkembangan anak2nya...

Betul,
Tak mudah jadi ibu pekerja,
Banyak alasan mengapa sampai sekarang saya masih bekerja.
Buat apa?
Buat yang terbaik menurut saya...
Anak dan keluarga saya.

Lelah, pasti.
Tak cuma fisik, tapi hati dan pikiran.
Lelah fisik bisa tidur, tapi saya belum pernah merasakan tidur yang lelap di hari2 saya bekerja...cuma karena ingin punya waktu lebih dari 24 jam buat si bocah, yabg akhirnya jatuhlah menjadi lelah pikiran dan lelah hati.

Menangis...
Sedih...
Jangan ditanya...sering saya mengumpat soal ini.
Betul, ada hati yang pilu
Banyak ke-khawatiran, apalagi mengenai perkembangan si bocah...
Dapat laporan ini dan itu dari guru di sekolahnya, rasanya ingin marah saja kalo laporan itu tentang kenakalannya, terkadang ga ingin juga marah karena merasa ia nakal karena kurang sentuhan ibunya...sedih.

Ya...dengan terpaksa bocah ini saya titip ke ibu saya, sejak ia lahir.
Karena masih harus bekerja, saya ga bisa juga ambil baby sitter karena khawatir, alhamdulillah ibu saya mau membantu merawat, karena ia pun ga rela si bocah dipegang orang lain.

Tapi cemoohan ga berhenti sampai disini,
Ada saja yang ngepost tetang ini dan itu,
Salah satunya adalah (saya agak lupa isinya, intinya begini...)

"ibu kita bukanlah sosok yang harus dibuat lelah dengan mengurus kita bahkan sampai harus mengurus anak2 kita, cucu mereka, sedangkan kita asyik bekerja mengumpulkan materi..."

Tak usah dibayangkan bagaimana ini menusuk hati saya...
Sampai tidak tahu harus sedih dengan menangis atau menyalahi diri sendiri.

Merasa tidak mampu.

Tak henti lah orang2 diluar sana mencaru celah salah kita. 

Buat saya, tak apa membahagiakan orang dengan membahas gosip tentang kita, yang padahal itu menyakiti kita...
Yang terpenting saya tidak melakukan hal yang sama, karena saya tidak pernah tahu alasan mereka memilih arah hidup mereka.
Walau, tak bisa juga saya menghentikan cemoohan mereka, karena mereka tidak pernah tahu kondisi atau alasan saya memilih arah hidup saya.