Kamis, 22 Maret 2012

MOVE ON!!!!


Makhluk complicated adalah manusia,
yang mencampur adukkan semua rasa,
yang punya semua rasa,
yang merasakan, rasa…

si pendiam, nerima apa yang diberikan orang lain, mencerna semua rasa di sisi diamnya. Dengan harapan semua orang bisa tahu yang dia rasa, tapi dia mengungkapkannya dengan diam, dia sudah mengedepankan yang dia rasa, marahnya, ketidaksukaannya, senangnya, bahagianya, sedihnya…tapi orang lihat dia hanya diam. Hanya dia yang tahu rasanya diam, sisi lain dia menikmati rasa diamnya, keuntungannya dia tidak banyak merepotkan orang lain, terkadang banyak rasa ruginya karena orang merasa dia hanya diam.

Si egois, melihat semua dari rasa egoisnya, mengungkapkan semua rasanya dengan egoisnya. Yang ada di pikirannya semua manusia punya rasa egois, dia rasa dia tidak egois, hanya mengungkapkan rasa dengan caranya, cara yang egois menurut orang. Egois adalah memikirkan dirinya sendiri, tapi orang tidak pernah lihat ada sisi lain di luar egoisnya, walaupun cuma setitik…tak selamanya dia terus egois, dia juga suka berbagi, berbagi semua rasa yang dia rasa…

Si pemberontak, mengungkapkan semua rasa dengan caranya, bukan berontak, tapi dia pasti punya cara untuk mengungkapkan. Dia berontak untuk hal-hal yang dia rasa memang harus diperjuangkan, hidup memang harus diperjuangkan, makanya manusia juga pasti bisa dan harus berontak, tidak harus selalu mengalah. Orang hanya menilai apapun itu, dia hanya berontak, tap buat dia tak selalu berontak, pasti dijalankan dengan caranya dan selesai tepat waktunya.

si peragu, pastinya bingung mengutarakan dan mengungkapkan semua rasanya, tapi dia tahu pasti yang dia rasa, hanya saja tidak tahu caranya… ragu dengan caranya…

Si nggak enakan, dia tahu rasanya tersakiti, ingin bertindak, tapi hanya memikirkan orang lain kalau saja ia menyakiti orang lain, karena rasa sakit itu dia yang tahu….

Semua karakter itu berkeliling, bergantian di sosok diri sendiri.

HEY GAME...I'M BACK


Here I am…sebulan di negeri singa, serasa asing begitu balik ke Jakarta. Sudah mampukah waktu sebulan ini membuang nama mas Adhi dari hati saya?
Jawaban saya…belum. 3 tahun bukan waktu yang sebentar…

Hari ini di bandara Soeta terminal 3, saya mendarat. Dan harusnya Ryandra jemput saya nih, kangen juga sama anak ini…
Malam ini, saya janjian sama Rengga, entah kenapa seminggu ini saya berkomunikasi terus dengan Rengga, semenjak pertemuan kami di pameran yang ia gelar di Singapur. Rengga banyak sekali berubah, mulai dari caranya berpakaian hingga tutur bicaranya.

Entah perubahan Rengga ini karena kami putus, atau karena sesuatu yang lain, tapi nampaknya karena sesuatu yang lain, lebih tepatnya wanita yang sekarang mendampinginya…kok saya jealous ya tiba-tiba…DAMN!!!

Satu jam menunggu Ryandra, bikin curiga kalo dia nggak bakal jemput saya hari ini, dan bener saja saat telepon masuk dari perempuan ini…
“lo kok nggak bilang kalo nggak bisa jemput Ry…aduuhhh mesti cari atm dong nih buat taksi….”
Terdengar suara minta maaf dari seberang sana.
Tak lama saya memutuskan untuk masuk kedalam bandara mencari mesin ATM.
Sekembalinya saya dari mesin ATM, saat hendak mencari taksi…sosok yang saya kenal tiba-tiba muncul di hadapan saya

Mas Adhi…!!!
Masa harus liat dia disini, aduh ngapain sihh dia, mau bulan madu kali ya sama istrinya, atau sengaja mau ketemu saya terus pamer cincin kawinnya…
Pengan nutupin muka biar dia nggak liat, ternyata dia liat…

“Hai...” sapanya
dengan malas saya mebalas sapaannya “Hai…”
terdiam…

“mau kemana mas?” saya mencoba memulai
“mau jemput kamu…”
WHAT!!! Beneran nih kayaknya, mau pamer cincin kawinnya
“saya bingung mau bawa apa uat kamu yes…kamu kan nggak suka bunga”
saya hanya menganggapinya dengan senyuman, lantas dia mengajak saya ke mobilnya…
ini pasti kerjaannya Ryandra nih, ngasih tau mas Adhi, dia nggak tahu apa saya lagi pengen banget ngelupain  mas Adhi, tanpa terasa celotehan saya ini sudah memenuhi karakter SMS dan siap ditujukan ke Ryandra…

sambil menunggu SMS balasan dari Ryandra, dalam perjalanan pulang, saya dan mas Adhi hanya diam…akhirnya mas Adhi mencoba memecah keheningan, “kamu udah makan?”
“belum”
“kita makan dulu yuk, di tempat biasa ya…”
HAH!!! Tempat biasa?? Dia masih inget yaaa…ngerasa nggak enak gini sama istrinya tiba-tiba, kalo tahu saya bisa di cap perebut suami orang…

Sampailah kami di tempat makan yang biasa kami kunjungi dulu…
Dari mulai duduk, pesen, sampe pesanan kami datang, kami masih belum membahas apapun…

Lagi-lagi mas Adhi memulai pembicaraan, “kamu…ngapain aja di sana?”
“cuma jalan-jalan aja mas…”
pengen banget nanya, tapi saya bingung, karena rasa penasaran, akhirnya saya beranikan diri….
“udah malem mas, nggak dicariin istrinya?”
dia menatap saya, serasa saya yang bersalah karena bertanya…tapi dia tertawa.
“Ryandra nggak cerita ya sama kamu?”
masih dengan wajah yang bingung, saya menggelengkan kepala, ada apa ini, rasanya cuma sebulan saya meninggalkan tanah air tapi banyak banget hal yang saya nggak tahu
“saya batal nikah…” lanjutnya
saya terpaku, tapi kan waktu itu undangannya udah ditempel…
tahu saya terdiam, mas Adhi melanjutkan “nggak lama setelah undangan tertempel di madding, saya langsung pulang ke rumah ibu, dan saya cerita semua…ternyata ibu mau mengerti, besoknya saya kembali ke Jakarta dan berniat nyari kamu, ternyata sulit sekali menemui kamu, HP kamu juga nggak aktif, akhirnya saya mampir ke kosan Ryandra, saya cerita semuanya…”
saya masih terpaku dengan cerita mas Adhi…
“terus…saya tahu kalo kamu ke singapur, dan saya memutuskan menunggu kamu pulang…”
rasanya,  bingung mau ngomong apa, mau ketawa, mau nangis, mauuu apa yaaa…
“kok kamu diem aja?”
tak terasa, saya senyum-senyum sendiri…

dan cerita ini berakhir dengan Happy ending, seperti yang saya bayangkan
I Love This Game…

Senin, 30 Januari 2012

HE BROKE MY GAME

Hari itu, mas Adhi mengajak saya untuk mengunjungi orang tuanya di kampung, daerah Bandung tapi agak kesana dikit….saya nggak begitu mengerti daerah mana, yang jelas cukup senang juga tiba-tiba dia ajak saya kenal sama orang tua dan keluarganya.

Lucunya lagi, begitu sampai disana, kami harus jalan kaki memasuki sebuah desa, dan terlihat orang-orang di kampong itu hormat banget sama mas Adhi, terlihat dari penduduk yang menyapanya sambil menundukka kepala, oh…mungkin karena mereka tahu, mas Adhi adalah orang tivi, karena biasanya begitu, tiap kita liputan orang-orang pedalaman pasti sangat ramah dan memberikan hormat yang berlebihan.

Tapi dugaan saya selama perjalanan menuju rumah mas Adhi ternyata salah, ayahnya mas Adhi adalah seorang kepala desa yang cukup dihormati…wow!!!

Sesampainya di rumah mas Adhi, ia mengenalkan saya pada ayah dan ibunya, tapiiiii…sebagai teman kantor, agak bertanya-tanya tapi saya nggak mau ambil pusing…

Rumah mas Adhi ini masih asri sekali, kanan-kirinya sawah, dan berhadapan langsung sama gunung, kerennnn!!! Udaranya sejuk banget. Mas Adhi menyuruh saya untuk istirahat di kamarnya, ini yang paling saya suka dari sosoknya, kamarnya rapi sekali, daaannn tidak ada foto saya di kamarnya, ngarep!!!

Mas Adhi membuka jendela kamarnya yang pas sekali berhadapan dengan gunung, saya terpana dan langsung memperhatikan suasana sore pegunungan dan aktifitas penduduk di sawah.
“kamu istirahat aja, besok pagi kamu buka jendelanya yaaa…kamu pasti liat sesuatu yang lebih bagus dari sore ini…”
saya hanya tersenyum, lantas ia pamit dan meninggalkan saya di kamarnya,
“mas…”
ia menengok ke arah saya..
“mas tidur dimana kalo saya dikamar mas?”
dia tersenyum “saya bisa tidur di luar, masa kita mesti sekamar…” dia berlalu sambil tertawa

malam pun tiba, sebelum tidur, saya akan malam dengan keluarga mas Adhi, sangat akrab, mereka berbagi cerita di meja makan ini, mas Adhi adalah anak tunggal keluarga ini, sebelum kakaknya meninggal beberapa tahun lalu karena sebuah kecelakaan. Ayahnya juga bertanya banyak tentang pekerjaan saya, dan apa saja yang saya kerjakan dengan mas Adhi, seperti apa cara kerja mas Adhi.

Selesai makan, saya dan mas Adhi, duduk di teras depan, ngobrol kesana kemari sambil bercanda, terkadang tawa saya terlalu keras, dan ia mengingatkan saya. Tak lama, ibunya memanggil, taka da perasaan curiga saat itu…saya hanya menunggu di teras depan, dan sangat lama mas Adhi dan ibunya bicara, sambil tunggu mas Adhi, saya kepikiran untuk pergi ke toilet.

Persis di sinetron, saya mendengar samar-samar pembicaraan mereka, tampaknya tentang saya, tapi apa ya…cuma dengar mas Adhi bilang, ‘kalo memang kami serius, kenapa?’ apa ya maksudnya…kok saya agak curiga.

Selesai dari toilet, saya duduk di depan teras lagi, tak lama mas Adhi datang, dan menatap saya dengan aneh…
“ada masalah mas?” Tanya saya penasaran, berharap dia mengatakan sesuatu. Tapi inilah mas Adhi, dia hanya bilang tidak ada apa-apa, hanya masalah keluarga saja, dan saya selalu percaya saat dia bilang tidak ada apa-apa, karena dia tak pernah bohong.

Saya menikmati desa ini, di dekat jendela kamar mas Adhi ini, saya mulai menulis blog saya, perasaan saya tentang sosok mas Adhi. Tiba-tiba, ibunya datang dan mengajak saya ngobrol, dia bertanya tentang hasil riset saya mengenai desa ini, jujur, saya agak bingung, sejak kapan saya  melakukan riset tentang desa ini….saya hanya jawab pertanyaannya dengan sebisa saya…ingin rasanya menanyakan hal ini sama mas Adhi, tapi saya nggak mau merusak suasana hatinya…

Liburan yang hanya beberapa hari ini pun berakhir, kami harus kembali bekerja. Di perjalanan ini, mas Adhi terlihat lebih diam dari biasanya.

Seminggu berlalu, dan mas Adhi tidak seperti biasanya setelah kepulangan kami dari kampungnya, sebenarnya ini mengundang banyak sekali pertanyaan, tapi entah kenapa saya tidak ingin menanyakan hal ini, karena saya hanya berfikir ia sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Dan siang itu, mas Adhi mengajak saya makan siang, bukan hal yang biasa, karena kami memang sering makan siang berdua, tapi hari itu, terlihat berbeda, ia terlihat lebih diam dan serius, dan perasaan saya tak tentu.
Mas Adhi membuka obrolan dengan flashback liburan kami yang hanya sebentar kemarin

“yes…maaf ya kemarin liburan di kampung saya nggak asik kayaknya yaa…”
“kata siapa…nggaklah mas, asik banget, saya seneng banget kok…”
saya membalas senyum kecilnya, dan kami hening, entah apa yang akan ia katakan selanjutnya, dan akhirnya saya berani bertanya
“ada yang aneh, semenjak kepulangan kita dari sana mas, ada apa ya? Perasaan saya selalu nggak enak, tapi saya juga nggak enak mau tanya sama mas…”
merasa ragu saya mengakhiri pertanyaan, dengan harapan ia mengerti dan ada jawaban. Ia menarik nafas panjang dan mulai merangkai kata-kata yang sangat hati-hati…
“ini yang selalu saya khawatirkan…”

ia terdiam, apa yang ia khawatirkan, orang tuanya, keluarganya, atau hubungan kami….saya makin merasa nggak nyaman, kok tiba-tiba merasa takut!!

“ini kenapa saya selalu berfikir panjang untuk sebuah hubungan yes, tapi saat saya ketemu kamu, saya merasa harus memiliki hubungan sama kamu, walau saya tahu pasti begini akhirnya…”

jujur, saya bingung dengan ucapan mas Adhi, saya nggak ngerti sama sekali…

“apa maksudnya mas, hubungan kita kenapa?” Tanya saya, dan saya berharap ini adalah bagian dari surprise kecil yang sering ia berikan pada saya. Dia menggenggam tangan saya…

“saya minta maaf yes, saya nggak pernah berani memiliki hubungan dengan orang lain karena saya tahu ibu saya nggak akan pernah setuju, dengan siapapun saya menjalin hubungan, karena ia telah menjodohkan saya dengan salah satu kerabat ayah yang sudah banyak membantu keluarga kami, awalnya perempuan ini akan dijodohkan sama abang saya, walau saya tahu abang juga nggak mau, tapi karena abang merasa balas budi dengan ayah dan ibu, akhirnya ia menerima penjodohan ini, tapi karena abang meninggal…keluarga memutuskan, saya yang harus meneruskan perjodohan ini yes…”

entah kenapa tapi saya hanya diam dan berfikir ini cuma mimpi, kisahnya sinetron banget…

“kayak cerita sinetron ya yess….tapi ini serius…”

Oooppss…!!
saya melepas genggamannya, saya nggak tahu harus berkata apa…ia mencoba meraih tangan saya kembali, entah kenapa saya ingin menangis, ingin marah, tapi saya nggak tahu bagaimana caranya…

“Yes, saya minta maaf…ini harus berakhir seperti ini, maaf saya menghabiskan waktu 3 tahun kamu…maaf yes”
tak ada yang bisa saya katakan, saya hanya berlalu tanpa memberikan respon apapun.

You’re breaking me gently, cause this love, I’ve been dying for this love, again!!!
-James Blunt-