Lucunya lagi, begitu sampai disana, kami harus jalan kaki memasuki sebuah desa, dan terlihat orang-orang di kampong itu hormat banget sama mas Adhi, terlihat dari penduduk yang menyapanya sambil menundukka kepala, oh…mungkin karena mereka tahu, mas Adhi adalah orang tivi, karena biasanya begitu, tiap kita liputan orang-orang pedalaman pasti sangat ramah dan memberikan hormat yang berlebihan.
Tapi dugaan saya selama perjalanan menuju rumah mas Adhi ternyata salah, ayahnya mas Adhi adalah seorang kepala desa yang cukup dihormati…wow!!!
Sesampainya di rumah mas Adhi, ia mengenalkan saya pada ayah dan ibunya, tapiiiii…sebagai teman kantor, agak bertanya-tanya tapi saya nggak mau ambil pusing…
Rumah mas Adhi ini masih asri sekali, kanan-kirinya sawah, dan berhadapan langsung sama gunung, kerennnn!!! Udaranya sejuk banget. Mas Adhi menyuruh saya untuk istirahat di kamarnya, ini yang paling saya suka dari sosoknya, kamarnya rapi sekali, daaannn tidak ada foto saya di kamarnya, ngarep!!!
Mas Adhi membuka jendela kamarnya yang pas sekali berhadapan dengan gunung, saya terpana dan langsung memperhatikan suasana sore pegunungan dan aktifitas penduduk di sawah.
“kamu istirahat aja, besok pagi kamu buka jendelanya yaaa…kamu pasti liat sesuatu yang lebih bagus dari sore ini…”
saya hanya tersenyum, lantas ia pamit dan meninggalkan saya di kamarnya,
“mas…”
ia menengok ke arah saya..
“mas tidur dimana kalo saya dikamar mas?”
dia tersenyum “saya bisa tidur di luar, masa kita mesti sekamar…” dia berlalu sambil tertawa
malam pun tiba, sebelum tidur, saya akan malam dengan keluarga mas Adhi, sangat akrab, mereka berbagi cerita di meja makan ini, mas Adhi adalah anak tunggal keluarga ini, sebelum kakaknya meninggal beberapa tahun lalu karena sebuah kecelakaan. Ayahnya juga bertanya banyak tentang pekerjaan saya, dan apa saja yang saya kerjakan dengan mas Adhi, seperti apa cara kerja mas Adhi.
Selesai makan, saya dan mas Adhi, duduk di teras depan, ngobrol kesana kemari sambil bercanda, terkadang tawa saya terlalu keras, dan ia mengingatkan saya. Tak lama, ibunya memanggil, taka da perasaan curiga saat itu…saya hanya menunggu di teras depan, dan sangat lama mas Adhi dan ibunya bicara, sambil tunggu mas Adhi, saya kepikiran untuk pergi ke toilet.
Persis di sinetron, saya mendengar samar-samar pembicaraan mereka, tampaknya tentang saya, tapi apa ya…cuma dengar mas Adhi bilang, ‘kalo memang kami serius, kenapa?’ apa ya maksudnya…kok saya agak curiga.
Selesai dari toilet, saya duduk di depan teras lagi, tak lama mas Adhi datang, dan menatap saya dengan aneh…
“ada masalah mas?” Tanya saya penasaran, berharap dia mengatakan sesuatu. Tapi inilah mas Adhi, dia hanya bilang tidak ada apa-apa, hanya masalah keluarga saja, dan saya selalu percaya saat dia bilang tidak ada apa-apa, karena dia tak pernah bohong.
Saya menikmati desa ini, di dekat jendela kamar mas Adhi ini, saya mulai menulis blog saya, perasaan saya tentang sosok mas Adhi. Tiba-tiba, ibunya datang dan mengajak saya ngobrol, dia bertanya tentang hasil riset saya mengenai desa ini, jujur, saya agak bingung, sejak kapan saya melakukan riset tentang desa ini….saya hanya jawab pertanyaannya dengan sebisa saya…ingin rasanya menanyakan hal ini sama mas Adhi, tapi saya nggak mau merusak suasana hatinya…
Liburan yang hanya beberapa hari ini pun berakhir, kami harus kembali bekerja. Di perjalanan ini, mas Adhi terlihat lebih diam dari biasanya.
Seminggu berlalu, dan mas Adhi tidak seperti biasanya setelah kepulangan kami dari kampungnya, sebenarnya ini mengundang banyak sekali pertanyaan, tapi entah kenapa saya tidak ingin menanyakan hal ini, karena saya hanya berfikir ia sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Dan siang itu, mas Adhi mengajak saya makan siang, bukan hal yang biasa, karena kami memang sering makan siang berdua, tapi hari itu, terlihat berbeda, ia terlihat lebih diam dan serius, dan perasaan saya tak tentu.
Mas Adhi membuka obrolan dengan flashback liburan kami yang hanya sebentar kemarin
“yes…maaf ya kemarin liburan di kampung saya nggak asik kayaknya yaa…”
“kata siapa…nggaklah mas, asik banget, saya seneng banget kok…”
saya membalas senyum kecilnya, dan kami hening, entah apa yang akan ia katakan selanjutnya, dan akhirnya saya berani bertanya
“ada yang aneh, semenjak kepulangan kita dari sana mas, ada apa ya? Perasaan saya selalu nggak enak, tapi saya juga nggak enak mau tanya sama mas…”
merasa ragu saya mengakhiri pertanyaan, dengan harapan ia mengerti dan ada jawaban. Ia menarik nafas panjang dan mulai merangkai kata-kata yang sangat hati-hati…
“ini yang selalu saya khawatirkan…”
ia terdiam, apa yang ia khawatirkan, orang tuanya, keluarganya, atau hubungan kami….saya makin merasa nggak nyaman, kok tiba-tiba merasa takut!!
“ini kenapa saya selalu berfikir panjang untuk sebuah hubungan yes, tapi saat saya ketemu kamu, saya merasa harus memiliki hubungan sama kamu, walau saya tahu pasti begini akhirnya…”
jujur, saya bingung dengan ucapan mas Adhi, saya nggak ngerti sama sekali…
“apa maksudnya mas, hubungan kita kenapa?” Tanya saya, dan saya berharap ini adalah bagian dari surprise kecil yang sering ia berikan pada saya. Dia menggenggam tangan saya…
“saya minta maaf yes, saya nggak pernah berani memiliki hubungan dengan orang lain karena saya tahu ibu saya nggak akan pernah setuju, dengan siapapun saya menjalin hubungan, karena ia telah menjodohkan saya dengan salah satu kerabat ayah yang sudah banyak membantu keluarga kami, awalnya perempuan ini akan dijodohkan sama abang saya, walau saya tahu abang juga nggak mau, tapi karena abang merasa balas budi dengan ayah dan ibu, akhirnya ia menerima penjodohan ini, tapi karena abang meninggal…keluarga memutuskan, saya yang harus meneruskan perjodohan ini yes…”
entah kenapa tapi saya hanya diam dan berfikir ini cuma mimpi, kisahnya sinetron banget…
“kayak cerita sinetron ya yess….tapi ini serius…”
Oooppss…!!
saya melepas genggamannya, saya nggak tahu harus berkata apa…ia mencoba meraih tangan saya kembali, entah kenapa saya ingin menangis, ingin marah, tapi saya nggak tahu bagaimana caranya…
“Yes, saya minta maaf…ini harus berakhir seperti ini, maaf saya menghabiskan waktu 3 tahun kamu…maaf yes”
tak ada yang bisa saya katakan, saya hanya berlalu tanpa memberikan respon apapun.
You’re breaking me gently, cause this love, I’ve been dying for this love, again!!!
-James Blunt-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar