Kamis, 29 Desember 2011

I'M HAPPY WITH THIS GAME!!


-I’m falling for you deeper everyday-
The Corrs

Mas adhi adalah sosok yang membuat saya semakin dewasa, selama menjalani hubungan ini, saya semakin belajar bagaimana menghargai orang lain, cara mengerti orang lain…karena dia selalu melakukan itu, memberikan contoh yang amat sangat baik untuk saya.

He is my best man, walaupun bukan orang yang romantis, tetapi ia selalu berusaha membuat saya jatuh cinta setiap hari. Contohnya saja, memberikan sebuah lagu yang sebenarnya klasik, tapi lagu itu benar-benar memiliki makna, menggambarkan tentang suasana hatinya terhadap saya.

Setiap hari saya selalu merasa beruntung bisa memiliki sosok seperti dia, saya memujanya dengan sangat, dia memberikan saya kebebasan dalam memilih, memutuskan sesuatu, melakukan sesuatu yang saya inginkan, dan tidak memberikan batasan apapun. Sosok yang saya idamkan, bahkan setiap wanita di kantor mangidamkan sosoknya. Saya pun memberikan kebebasan yang sama, mas Adhi suka naik gunung, terkadang ia cuti dari kantor dan pergi untuk beberapa hari hanya untuk naik gunung, saya nggak ngerti banyak dengan hal-hal yang berbau hobinya itu, tapi saya berusaha untuk mengetahuinya walaupun sedikit….

Hubungan ini pun berjalan nyaris 2 tahun, seluruh isi kantor ini tahu kami pasangan yang terbilang adem, walaupun sebenarnya kami juga sering ribut, tapi dia selalu mengajarkan saya bukan mencari siapa yang salah, tapi apa solusi yang bisa dilakukan dari kesalahan. Dan tiap masalah yang kami hadapi, selalu selesai hari itu.

Suatu hari, saat meyaksikan sebuah acara televisi, saya melihat sosok Rengga yang sedang hangat dibicarakan  publik, sebuah lukisan yang menjadi trade mark-nya hingga keluar negeri, penampilannya sangat berbeda saat sesi wawancara dengan media, lebih rapi dan matang. Apa dia sudah berubah dan sudah meninggalkan kebebasannya?

Saya sudah merasa hidup saya cukup dengan sosok mas Adhi disamping saya…pilihan saya pasti tepat, memilih hidup bersama mas Adhi.

Hari itu perjalanan kami menuju kota Bogor untuk raker program kami, dia asik dengan mp3 player kesayangannya, dan ia memberikan earpiece-nya pada saya, memberikan sebuah lagu James Blunt yang membuat saya merinding dan tergila-gila…saya mendengarkan lagu itu danmendengar bisikannya, “buat kamu…”

Slide over here let your hands feel the way
There’s no better method to communicate
Girl stop talking
Words just get in the way
I’ll be your man
So baby come over
From the end of the sofa
I’ll be your man
I’ll be your man

Dan dia bilang, “lagu yang ini bikin saya selalu semangat dan inget kamu terus” This Love Again-James Blunt

Cause this love, I’ve been dying for this love, again.
Oh, I missed love, I’ve been dying for this love again
Don’t cut me, just to hear me screaming your name
There’s a million ways I can feel less pain
So why oh why is it this love that I’ve been dying for?

Semenjak hubungan ini, mas Adhi suka banget dengeri lagu-lagu yang ia ungkapkan untuk saya, karena baginya tak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan perasaannya, menurutnya lagu bisa menggembarkan suasana hatinya belakangan ini.

Semua temannya di kantor bilang kalau dia lebih bersemangat belakangan ini, lebih banyak tertawa, apalagi kerjaannya makin bagus dan ia promo untuk jadi produser. Hubungan ini sama sekali tidak mengganggu kinerja kami yang sampai saat ini masih satu program.

Sama sepertinya saya pun tak bisa menggambarkan isi hati saya mengenai hubungan ini, it’s really special and we can’t imagine it…

Bahkan saya sering membayangkan, one day dia datang dan bilang “will you marry me?”
And I’ll say….i do!

I do…I do do do do do… -colbie caillat

I'M IN THIS GAME



-I’m happy with my loneliness-
myself

beberapa minggu terlewati, tanpa bayang-bayang seorang Rengga.
Dan makin akrab dengan sosok mas Adhi, terkadang merasa curang, merasa saya selingkuh dari Rengga, tapi seperti yang dikatakan Rengga, Hidup memang harus memilih, dan saya memilih menjalani hidup dengan pilihan saya, Mas Adhi.

Semua ini berjalan cepat sekali, tak lama setelah hubungan saya berakhir dengan Rengga, tepatnya hanya saya yang mengakhiri hubungan ini, saya makin akrab dengan mas Adhi, walaupun saya yakin mas Adhi nggak akan segampang itu jatuh cinta dengan sosok brutal, slengean dan cuek seperti saya.
Tapi saya menikmati tiap detik kedekatan saya dengan mas Adhi. Apalagi kalo ternyata saya harus daprt plotingan tugas bareng sama dia. Minggu depan kami berangkat ke Jogja, kota yang saya kagumi. Tak disangka saya pergi ke kota itu juga dengan sosok yang saya kagumi, ya…nampaknya saya memang sangat kagum dengan sosok mas Adhi yang dewasa dalam hal apapun, menentukan sikap dan keputusan mengenai pekerjaannya, dia sangat tanggung jawab.

Hari keberangkatan kami menuju Jogja pun tiba, serasa ingin dandan dan bergaya secantik mungkin, padahal sebelumnya, tugas luar kota dengan mas Adhi terasa biasa saja, kenapa yang ini jadi agak berlebihan yaaaa….

Alhasil saking senangnya saya malam itu membayangkan keberangkatan esoknya, saya telat sampai di kantor untuk berangkat ke bandara, akhirnya saya harus menyusul tim ke bandara menggunakan taksi, boros….

Sesampainya disana, pesawat saya sudah boarding, tampak jelas di wajah tim saya yang kecewa, tak henti-hentinya saya mengucapkan maaf sama mereka, termasuk mas Adhi yang baru itu saya lihat memberikan teguran yang cukup serius sama saya…bad day!!

Selama penerbangan, saya duduk terpisah dengan mas Adhi, seperti biasa menunggu 45 menit penerbangan menuju Jogja, saya bersiap dengan Ipod yang memutar lagu akustik Because of You-nya Sabrina

-And I know this much is true, baby you have become my addicton, I’m so strung out on you I can barely move, but I like itand it’s all because of you-
Sabrina

Terlena dengan lagu-lagu di Ipod, sampai lupa kalau saya masih ada di dalam pesawat, dan saya terbangun karena suara yang amat sangat saya idamkan….
“Yes…Yessiii…”
saat membuka mata, Damn! It’s so sweet, mas Adhi tepat berada di depan wajah saya…dan sayapun tersadar
“mau ikut pesawatnya balik lagi ke Jakarta?”
saya hanya tersenyum, shit!! Really my bad day!!

Setibanya di Jogja, kami makan siang dulu sebelum liputan, saya mulai melupakan kesialan saya hari ini, tertutup dengan beberapa pekerjaan untuk liputan, kontak sana-sini, cari berita, bertemu dengan beberapa orang…
Dan disaat ini saya tersadar, seseorang memperhatikan saya, dia.
Merhatiin kerjaan saya nampaknya, secara seharian salah melulu….

Lupa dengan urusan hati selama beberapa hari di Jogja, ternyata hari terkahir syuting, kami tidak mendapatkan gambar yang kami inginkan, akhirnya kami harus menambah 2 hari liputan kami, karena menurut info warga, besok aka nada badai, kuatir gambar kami nggak dapet gambar lagi, jadi mas Adhi memutuskan untuk menambah 2 hari lagi.

Malam harinya, setelah hujan reda, saya memutuskan untuk jalan-jalan keluar hotel, pengen minum the poci panas, makan nasi kucing, mantap!! Langkah saya dengan pasti menuju lift dan lobi, dan saya melihat mas Adhi dengan seorang wanita…cantik pastinya. Entah kenapa timbul rasa kepo, ada apa ya? Siapa ya dia?

Pikiran saya mulai macam-macam, jangan-jangan dia pacarnya, calon istrinya….nggak ingin mikir, akhirnya saya meninggalkan rasa kepo saya menuju tempat nasi kucing yang ramai di Jalan Malioboro, sendirian.

Kenyang makan dan minum teh poci panas, pikiran saya mulai tenang, dan saya memutuskan kembali ke hotel, ternyata gerimis, jadi saya melangkah kaki setengah berlari . sesampainya di lobi hotel, mas Adhi masih disana, duduk di deretan sofa berwarna merah
“hai…” sapanya
“hai…belum tidur mas?”
“darimana?”
“makan nasi kucing di malioboro”
“sendirian?”
saya mengangguk, kok dia banyak pertanyaan, tapi kok saya senang ya…
“tadi saya ketuk kamar kamu, saya pikir udah tidur, tahu gitu saya ikutan kamu makan nasi kucing ya, saya nggak bisa tidur”
“banyak pikiran ya mas? Karena hujan terus, jadi nggak pulang-pulang ya…”
tiba-tiba kami terdiam…dia memulai pembicaraan lagi
“kamu.. udah ngantuk?”
“belum sih…masih mau main game dulu di Ipod tadinya…”
mau ngapain ya diaaa…ngajak saya menghabiskan malam, duh senangnya….ishhh saya GR banget yaaa…
“mau temenin saya ngobrol dulu di belakang, deket kolam…”
mana mungkin saya nolak….langsung saya mengangguk.

Tak terasa 2 jam kami ngobrol
Dia cerita banyak, saya pun begitu, kami saling mendengarkan dan tertawa.
Saat bahan tertawaan habis kami pun hening,
“Yes…padahal kamu cuek banget ya orangnya, kok bisa sih?”
“kok aneh sih mas pertanyaannya, ya bisalah, emang dari sananya begini…”
dia tertawa senang sekali…
“maksud saya, kayak nggak ada beban aja gitu, kalo merhatiin kamu dengan kekonyolan dan cerobohnya kamu…”
“mas…merhatiin saya terus? Kok dari tadi saya perhatiin mas tahu banget kebiasaan saya…saya suka apa, kata-kata yang sering saya lontarkan, cara saya becanda…”
isengnya saya bertanya begitu, bikin dia malah diam dan tak lama tersenyum,
“entah kenapa ya, kamu hiburan tiap saya ke kantor, kamu solusi penat saya. Kalo lagi penat sama kerjaan, biasanya saya cari kamu, cukup merhatiin kamu aja…”
I’m blushing, OMG!!!
“you are blushing” dia mempertegasnya.
Yes, I’m blushing, tapi saya tetap terdiam.
“apa ya rasanya kalo saya yang serius dan jarang becanda gini, punya hubungan yang serius sama orang kayak kamu?”
saya makin membatu, can’t move!!

Saya menatapnya dengan wajah bingung, dan dia kembali tertawa.
“kok kamu bingung sih, kayaknya karena umur kita lumayan jauh, kata-kata saya kurang gaul ya?”
saya makin memberikan wajah yang bingung.
“baru kali ini saya liat kamu diem, bingung dan nggak tahu mau ngomong apa, sambil terus-terusan blushing lagi…”
saya tertawa kecil, malu sih sebenernya.
“iya Yes, dari awal ketemu kamu, saya terus merhatiin kamu, cara kamu menjalani hidup yang santai banget, cuek banget, terus saya mikir, mana ada yang mau jadi pacar kamu atau malah punya hubungan serius sama kamu…”
dia menghentikan kata-katanya, dan kelihatannya sedang mempersiapkan kata-kata selanjutnya.
“tapi kayaknya saya…kepikiran untuk menjalankan hubungan yang serius sama kamu…”
makinlah saya bingung…ini maksudnya dia nembak saya ya…aduhh otak saya nggak sampe sama sekali

“udahlah, hampir pagi nih, jam 8 kita mesti kerja lagi, nggak usah dijawab sekarang, anggep aja cuma ceracauan om-om yang lagi godain kamu…yuk”
dia berdiri dan menawarkan tangannya pada saya, dan saya menyambutnya.

Sejak hari itu, kedekatan kami menjadi hubungan yang kami jalani dengan serius, saya amat sangat berharap hubungan ini akan jadi ending yang saya harapkan.

-saat kamu mengatakan cinta, itu saatnya kamu harus bisa berkorban kapanpun-
Someone Quote

I'M PLAYING THE GAME


-Now im speechless, over the edge I just breathless, I never thought that I get hit by this lovebug again-
Jonas Brother

Semenjak malam kebersamaan kami itu, akhirnya saya mulai akrab dengan sosok mas Adhi, makin tahu tentang pribadinya.

Saya harus bicara jujur, bukan pada mas Adhi, tapi pada Rengga.

Surya Rengga, seorang pria yang hampir 5 tahun ini menemani saya, hubungan yang terbilang spesial… setahun belakangan kami memang jarang sekali bertemu, saya dengan kesibukan saya dan dia dengan kesibukannya, melukis, memahat patung membuat pagelaran teater dan pameran, Rengga memang memiliki jiwa seni yang tak perlu diragukan lagi, maklum ayahnya juga seorang seniman yang lumayan terkenal.

Kesibukan kami yang membuat hubungan ini jadi aneh, makin aneh. Saya ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius dengan Rengga, tetapi ia tak pernah siap, justru ia ingin kami tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan, jiwa seninya terlalu mendarahdaging, baginya bebas menciptakan, karya bebas juga memilih jalan hidup.

Terakhir kali kami bertemu, kami membahas hal ini, lagi-lagi dia hanya menjawab “Hidup ini pilihan yes, seni adalah pilihan hidup saya, kalo kamu ingin tetap dengan saya, ya kamu memilih untuk ikut aturan hidup saya”

Sekian banyak pendapat hidupnya tentang seni dan kebebasan, selama 4 tahun ini saya menyetujui jalan hidup yang menjadi pilihannya, tetapi saat saya bertanya serius tentang hubungan ini, dia menjawab atas dasar kebebasan dan jiwa seninya.
Saya jatuh hati pada Rengga, karena dia smart, ahli di bidang seni sejak kuliah dulu, dipercaya banyak orang, sukses di setiap pagelaran dan pamerannya, hidupnya benar-benar bebas tanpa aturan ini dan itu… ia pun membebaskan saya untuk memilih, memilih menjalani hubungan ini dengan aturan kebebasannya. Tapi makin lama saya muak, kebebasan untuknya makin membuat dia cuek dengan hidupnya, seringkali marah jika saya tidak bisa memberikan ide yang brilliant untuk karyanya, merusak moodnya…dia sering marah-marah.

Egois dan klasik memang, di saat hubungan saya yang seperti ini dengan Rengga, justru mas Adhi datang dengan seribu kebaikan, saya selingkuh?
Nggak…kan belum jadian sama mas Adhi…tapi nampaknya hati saya sudah.

Hari itu saya memilih untuk mengakhiri hubungan saya dengan Rengga, saya datang ke studio lukisnya di kawasan Bintaro. Sebuah studio lukis yang lumayan besar terletak di lantai 2, lantai 1 digunakan untuk galeri, semua lukisan Rengga yang harganya selangit terpajang disini, sekaligus lukisan pelukis terkenal yang menjadi koleksi Rengga.

Langkah saya ragu saat menaiki tangga, hati saya nggak enak…
Saya buka pintu studio yang agak berantakan dengan alat lukis dan cat dimana-mana. Pintu terbuka, dan ia duduk manis disana sambil meyelesaikan sebuah lukisan, “hai sayang..” sapanya sambil menghampiri dan mencium kening saya, saya kaget dengan sikapnya…”liat deh…” ucapnya, ia menarik tangan saya dan menghampiri lukisan yang sedang ia buat, Lukisan diri saya…

“sosok wanita yang selama ini menghilang karena ngambek…”
saya diam seribu bahasa, kok dia manis sekali
“heiii…kok kamu diam aja sih, lukisannya kurang bagus yaa…”
saya menggeleng,
“ada yang ingin kamu bicarakan?”, tanyanya, dan saya mengangguk
berat rasanya, tapi saya harus ngomong, “saya kesini, untuk mengakhiri hubungan kita Ga”
Rengga diam dan menyunggingkan senyuman sinis, membuat saya makin takut
“kamu ngomong apa sih?”
“saya udah nggak bisa ngejalanin hubungan yang nggak ada ujungnya ini Ga, mau dibawa kemana? Nanti baik, nanti berantem, nanti jauh-jauhan, tiba-tiba ketemu kayak nggak ada masalah. Nggak pernah ada masalah yang selesai…”
saya mulai emosi, dan berbendung air mata…Rengga diam.
“saya nggak bisa terus-terusan ikut dan mengerti mood kamu, saya juga punya mood sendiri, punya ego sendiri…”
saya tahu dia mulai marah, I really know him so much.

Sesaat tak ada yang bergeming antara kami…
“ada laki-laki lain yan menarik hati kamu ya? Yang dengan seribu kebaikannya, jatuh hati sama kamu dan mengajak kamu untuk menikah…” saya diam dengan terkaannya yang lumayan mendekati….
“bener yes…kok kamu diem aja?” tanyanya sambil menunggu jawaban dari saya
“ya ngga gitu donk…saya cuma ingin tahu berapa lama lagi sih umur hubungan ini? Kapan kamu akan bilang kalo hubungan ini emang bener-bener serius? Mau dibawa kemana Ga?”
kami pun terdiam lagi…
“coba kamu piker, emangnya nikah itu gampang? Saya cuek, saya bebas, bukan berarti saya nggak mikirin masa depan saya. Saya cuma nggak mau kita terburu-buru yes…saya tahu banget kamu orang yang selalu mengambil keputusan dengan terburu-buru… kamu bisa santai  nggak sih?”
“tapi kan nggak sesantai kamu menanggapi hubungan kita Ga, udah 5 tahun hubungan ini, tapi nggak jelas mau dibawa kemana…”
belum selesai saya bicara, Rengga memotong pembicaraan dengan sikap kesalnya…
“mau dibawa kemana…mau dibawa kemana…itu itu aja yang kamu bahas…jangan kamu kira menikah itu gampang yes…saya nggak mau hubungan pernikahan saya nasibnya sama dengan perceraian kedua orang tua saya, saya tahu kok kamu ingin menikah muda…tapi kan menikah muda itu yang menjadi penyebab perceraian orang tua saya…” ucapnya dengan nada yang tinggi
“kan nggak semua jalannya seperti itu Ga…”
Rengga makin emosi dan mulai membanting apapun yang ada di sekitarnya…saya sudah benar-benar muak harus terus begini akhirnya, nggak pernah ada satupun masalah yang selesai.

Saya pergi meninggalkan galeri Rengga, mencoba untuk menenangkan diri, dan mulai mengambil keputusan sendiri, jika tidak pernah ada satu pun masalah yang selesai, kenapa saya nggak mencoba menyelesaikannya, saya memilih mengakhiri hubungan ini…cukup sampai disini.

Nyalakan ipod selama perjalanan menuju kosan…

-its time to say goodbye, block out the sun and pack up the sky, don’t let my tears start to make you cry, each time I try to say my goodbye-
The corrs

Jumat, 16 Desember 2011

START FORM HERE


Sebenarnya cinta itu tidak buta, cinta itu sesuatu yang logis
-Someone’s Quote-

3 Tahun lalu, inilah awal dimana saya mulai tergila-gila dengan sosok pria yang menurut saya tak memiliki kekurangan, smart, berani, dewasa, mapan dan berkacamata, menurut saya pria yang berkacamata adalah seseorang yang sangat pintar.. nggak penting yah…

Raden Adhi Satria…
Belakangan ini nama itu yang selalu berputar-putar di otak saya, mau tidur, dalam mimpi, bangun tidur perjalanan ke kantor, di kantor, tentunya bertemu dengan dia, dan pulang kantor, bersama dia juga… bagaimana tidak kalau dia terus membayangi saya. Dia adalah teman sekantor saya di sebuah stasiun televisi swasta, seorang senior kameramen di divisi pemberitaan. Awalnya kami tidak terlalu saling mengenal, tapi suatu ketika saya butuh sesuatu yang memang harus berhubungan dengannya. Dia orang yang sangat tanggap jika siapapun butuh bantuan, itu saya rasakan diawal pertemuan sekaligus perkenalan kami, saat kaset liputan saya nyangkut di player mini DV, dengan senang hati ia membantu saya, sempat tersirat dia orang yang memang terlihat baik, dari keluarga baik-baik, walaupun wajahnya tidak ganteng, tidak putih dan tidak terlalu tinggi, tapi dia punya dada yang bidang, deretan gigi yang rapid an lesung pipi yang menghiasa senyumnya….ups!! tiba-tiba sekian detik saya memperhatikan dan memujanya.
“udah bisa nih…” tegurnya sambil menyodorkan kaset mini DV yang berhasil keluar, “tapi kayaknya mesti di cek lagi, ganti player aja…” dia terus menyodorkan kaset pada saya, “saya adhi…” sekarang ia menyodorkan tangannya, “kamu yesi kan?”, kok dia tahu nama saya, “eh…iya saya Yesi, kok tahu nama saya?” “siapa emang yang nggak kenal anak baru kayak kamu” saya hanya tersenyum dan dia membalasnya sambil berlalu.

Semenjak hari itu saya sering memperhatikan sosoknya, saat presentasi di depan produser, mengajarkan tekhnik kamera anak-anak baru, bercanda dengan teman-teman seangkatannya, beragam gerak-geriknya hingga caranya berpakaian.

Hampir sebulan memperhatikan sosoknya, tibalah saat dimana rollingan program keluar dan tertempel apik di papan pengumuman kantor. Rollingan ini biasanya dilakukan selama 6 bulan hinggak setahun sekali, dimana semua kru dan tim diacak-acak dan bisa ditempatkan di program manapun, termasuk saya, yang sudah hampir dua tahun bertengger di sebuah program yang selalu tayang pagi hari. Hari ini saya dapat kesempatan untuk pindah ke program anak-anak, sesuai harapan saya memang suka dengan anak-anak. Eh…tiba-tiba iseng ingin lihat namanya, dipindah kemana ya…jri telunjuk pun menelusuri namanya, yess ketemu namanya…
“wah…kita satu program ya ternyata…” sapa seorang pria di samping saya, dengan sangat terkejut saya hanya bisa memandangnya, “lagi cari nama saya?” tanyanya sambil tersenyum, mata saya pun langsung tertuju pada jari telunjuk yang sukses berhenti di atas namanya, “eh…iya mas, eh maksudnya iya kita satu program ya” saya hanya menjawab malu sambil menarik jari telunjuk dari papan pengumuman. Dia tersenyum dan bilang “ini yang saya tunggu…pasti senang kerjasama bareng kamu” dan dia berlalu dengan misterius dengan meninggalkan sebuah pertanyaan di kepala saya “maksudnya apa ya…” kok tiba-tiba saya GR yaa…

Seminggu kemudian, tim program kami dengan kru dan formasi yang baru akhirnya melakukan miting pertama, kayaknya saya orang yang paling semangat, karena program baru? Atau ketemu sama dia? Saya pilih dua-duanya.

Miting berjalan lancar, ternyata miting ini sekaligus memberitahukan bahwa mas adhi ini sedang di promo menjadi associate producer di program baru ini, wah hebat, kok jadi makin bangga ya. Selama miting saya merasa dia merhatiin saya terus, kelewatan nih rasa GR saya…

Miting pun selesai, saatnya pulang ke kosan, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Di depan kantor lagi nggak ada ojek, susah deh, angkot udah nggak ada nih kalo jam segini.

“Yesiii…” seseorang memanggil saya, ternyata dia, jantung saya berdebar, serasa mau lepas, kepikiran lagi ribet gini, dia nganterin saya pulang…ngarep banget ya…
”mau pulang yes?” tanyanya sambil berjalan menghampiri saya
“iya mas…lagi nunggu ojek”
“emang tinggal dimana”
“kosan belakang kantor sih…” tetep ngarep banget dia nganterin saya, Please God!!
“saya juga parkir motor di belakang, jalan bareng yuk?”
jalan kaki!! Malem-malem gini!! Dari parkiran motor umum di belakang ke kosan saya, kan jauh dan gelap…
“mau nggak?” tanyanya
mau…jawab saya dalam hati, tapiiii…
“dari parkiran motor ke kosan kamu masih jauh ya?”
Saya mengangguk pelan dan pasti, “saya anter kamu sampe kosan deh, baru saya ambil motor, gimana?” tawaran yang saya harapkan akhirnya terlontar juga, seluruh jagad raya ini juga pasti tahu jawaban saya.

Selama perjalanan menuju kosan, kami nggak banyak bicara, dan ia menawarkan untuk makan bubur kacang ijo yang ada di deket kosan, nggak mungkin saya tolak. Kami pun terlibat obrolan yang seru dan panjang, dari mulai alamat lengkap tempat tinggal kami, alasan ia menjadi broadcaster, hingga gossip kantor yang beredar, saya benar-benar tertawa lepas, dia pun begitu. Tana terasa, kami menghabiskan waktu nyaris 4 jam di warung bubur kacang ijo yang buka 24 jam itu.

“aduh maaf yaa…saya ngajak ngobrol sampe jam segini, kamu udah ngantuk ya? Saya anter ke kosan yuk..” tawarnya, “nggak apa mas, besok kan libur, bisa tidur seharian”

sisa perjalanan menuju kosan, kami terus membahas cerita yang sama berulang-ulang dan terus tertawa. “maaf ya yes, mengurangi jam tidur kamu” “ga apa mas, minta maaf mulu deh”
“makasih yaaa…”
“saya yang makasih mas, kemarin belum sempet bilang makasih, waktu kaset liputan saya stuck di dalam player…”
dia hanya mengangguk dan pamitan, “sampe ketemu senen yaa..”

masuk kamar kosan sambil senyum-senyum, rebahan di kasur dan berharap ini bukan mimpi…

-I want a lover who knows me, who understands how I feel inside-
Dreamlover-Mariah Carey

The music is playing in my dream now, ingin melupakan masalah yang tak pernah ada ujungnya…and let this new guy comes in, how can I?


Kamis, 15 Desember 2011

THE BEGINNING


This is me…
Setahun di negeri Singapura, akhirnya saya kembali ke tanah air. Kangen banget makan gado-gadonya si emak, kwetiau goreng bang dul, hiruk pikuk dan kemacetan Jakarta, that’s why I’m back to Jakarta.

Celingukan di bandara, nggak minta pihak keluarga atau kerabat menjemput, karena ingin memberikan surprise, nggak juga sih… tapi memang terbiasa sendiri, dan akhirnya harus terbiasa sendiri.

Menelusuri koridor bandara, dengan keramik merah yang khas, menuju tempat pengambilan bagasi, dan sudah ramai disana, orang-orang dengan trolley-nya masing-masing, I really miss this… orang Indonesia yang sesungguhnya…

Lebay banget yaaaa…padahal cuma ke Singapura aja, tapi buat saya ini adalah rekor terbaru, menetap untuk sementara di Singapura sendirian tanpa kawan dan tanpa orang yang dikenal, awalnya sangat asing, tapi setahun disana membuat saya betah juga, nuansa individunya sangat cocok untuk membuang penat dan masalah yang ada, walaupun saat kembali, masalah itu ngga selesai juga… tapi mudah-mudahan tangisan hati ini selesai dan tertinggal disana.

Nah ini dia koper kesayangan saya yang selalu menemani kemanapun saya melarikan diri. I’ts time to take a taxi, and then go home, miss my bed so much…

Bahagia banget, begitu naik taksi, hujan turun, seakan kedatangan saya disambut dengan penuh berkah… atau sebenarnya langit menangis karena kedatangan saya? Hati saya masih menangis rasanya…

Tetesan hujan di kaca taksi ini seperti air mata saya yang tempo lalu membanjiri diri saya…

Tepat satu setengah tahun yang lalu, hati saya hilang dan saya nggak tahu bagaimana mengembalikannya, bagaimana lagi mencarinya… buat saya seharusnya dia yang terakhir… ya dia memang yang terakhir, karena setelahnya saya tidak menemukan hati yang lain, tapi sepertinya saya tidak lagi bisa menemukan hati yang lain…

Raden Adhi Satria…
Ya…mas adhi, dia alasan saya singgah ke negeri singa itu. Waktu yang sangat singkat untuk melupakan orang yang sudah banyak menorah cerita di kehidupan saya…