-I’m happy with my loneliness-
myself
beberapa minggu terlewati, tanpa bayang-bayang seorang Rengga.
Dan makin akrab dengan sosok mas Adhi, terkadang merasa curang, merasa saya selingkuh dari Rengga, tapi seperti yang dikatakan Rengga, Hidup memang harus memilih, dan saya memilih menjalani hidup dengan pilihan saya, Mas Adhi.
Semua ini berjalan cepat sekali, tak lama setelah hubungan saya berakhir dengan Rengga, tepatnya hanya saya yang mengakhiri hubungan ini, saya makin akrab dengan mas Adhi, walaupun saya yakin mas Adhi nggak akan segampang itu jatuh cinta dengan sosok brutal, slengean dan cuek seperti saya.
Tapi saya menikmati tiap detik kedekatan saya dengan mas Adhi. Apalagi kalo ternyata saya harus daprt plotingan tugas bareng sama dia. Minggu depan kami berangkat ke Jogja, kota yang saya kagumi. Tak disangka saya pergi ke kota itu juga dengan sosok yang saya kagumi, ya…nampaknya saya memang sangat kagum dengan sosok mas Adhi yang dewasa dalam hal apapun, menentukan sikap dan keputusan mengenai pekerjaannya, dia sangat tanggung jawab.
Hari keberangkatan kami menuju Jogja pun tiba, serasa ingin dandan dan bergaya secantik mungkin, padahal sebelumnya, tugas luar kota dengan mas Adhi terasa biasa saja, kenapa yang ini jadi agak berlebihan yaaaa….
Alhasil saking senangnya saya malam itu membayangkan keberangkatan esoknya, saya telat sampai di kantor untuk berangkat ke bandara, akhirnya saya harus menyusul tim ke bandara menggunakan taksi, boros….
Sesampainya disana, pesawat saya sudah boarding, tampak jelas di wajah tim saya yang kecewa, tak henti-hentinya saya mengucapkan maaf sama mereka, termasuk mas Adhi yang baru itu saya lihat memberikan teguran yang cukup serius sama saya…bad day!!
Selama penerbangan, saya duduk terpisah dengan mas Adhi, seperti biasa menunggu 45 menit penerbangan menuju Jogja, saya bersiap dengan Ipod yang memutar lagu akustik Because of You-nya Sabrina
-And I know this much is true, baby you have become my addicton, I’m so strung out on you I can barely move, but I like itand it’s all because of you-
Sabrina
Terlena dengan lagu-lagu di Ipod, sampai lupa kalau saya masih ada di dalam pesawat, dan saya terbangun karena suara yang amat sangat saya idamkan….
“Yes…Yessiii…”
saat membuka mata, Damn! It’s so sweet, mas Adhi tepat berada di depan wajah saya…dan sayapun tersadar
“mau ikut pesawatnya balik lagi ke Jakarta?”
saya hanya tersenyum, shit!! Really my bad day!!
Setibanya di Jogja, kami makan siang dulu sebelum liputan, saya mulai melupakan kesialan saya hari ini, tertutup dengan beberapa pekerjaan untuk liputan, kontak sana-sini, cari berita, bertemu dengan beberapa orang…
Dan disaat ini saya tersadar, seseorang memperhatikan saya, dia.
Merhatiin kerjaan saya nampaknya, secara seharian salah melulu….
Lupa dengan urusan hati selama beberapa hari di Jogja, ternyata hari terkahir syuting, kami tidak mendapatkan gambar yang kami inginkan, akhirnya kami harus menambah 2 hari liputan kami, karena menurut info warga, besok aka nada badai, kuatir gambar kami nggak dapet gambar lagi, jadi mas Adhi memutuskan untuk menambah 2 hari lagi.
Malam harinya, setelah hujan reda, saya memutuskan untuk jalan-jalan keluar hotel, pengen minum the poci panas, makan nasi kucing, mantap!! Langkah saya dengan pasti menuju lift dan lobi, dan saya melihat mas Adhi dengan seorang wanita…cantik pastinya. Entah kenapa timbul rasa kepo, ada apa ya? Siapa ya dia?
Pikiran saya mulai macam-macam, jangan-jangan dia pacarnya, calon istrinya….nggak ingin mikir, akhirnya saya meninggalkan rasa kepo saya menuju tempat nasi kucing yang ramai di Jalan Malioboro, sendirian.
Kenyang makan dan minum teh poci panas, pikiran saya mulai tenang, dan saya memutuskan kembali ke hotel, ternyata gerimis, jadi saya melangkah kaki setengah berlari . sesampainya di lobi hotel, mas Adhi masih disana, duduk di deretan sofa berwarna merah
“hai…” sapanya
“hai…belum tidur mas?”
“darimana?”
“makan nasi kucing di malioboro”
“sendirian?”
saya mengangguk, kok dia banyak pertanyaan, tapi kok saya senang ya…
“tadi saya ketuk kamar kamu, saya pikir udah tidur, tahu gitu saya ikutan kamu makan nasi kucing ya, saya nggak bisa tidur”
“banyak pikiran ya mas? Karena hujan terus, jadi nggak pulang-pulang ya…”
tiba-tiba kami terdiam…dia memulai pembicaraan lagi
“kamu.. udah ngantuk?”
“belum sih…masih mau main game dulu di Ipod tadinya…”
mau ngapain ya diaaa…ngajak saya menghabiskan malam, duh senangnya….ishhh saya GR banget yaaa…
“mau temenin saya ngobrol dulu di belakang, deket kolam…”
mana mungkin saya nolak….langsung saya mengangguk.
Tak terasa 2 jam kami ngobrol
Dia cerita banyak, saya pun begitu, kami saling mendengarkan dan tertawa.
Saat bahan tertawaan habis kami pun hening,
“Yes…padahal kamu cuek banget ya orangnya, kok bisa sih?”
“kok aneh sih mas pertanyaannya, ya bisalah, emang dari sananya begini…”
dia tertawa senang sekali…
“maksud saya, kayak nggak ada beban aja gitu, kalo merhatiin kamu dengan kekonyolan dan cerobohnya kamu…”
“mas…merhatiin saya terus? Kok dari tadi saya perhatiin mas tahu banget kebiasaan saya…saya suka apa, kata-kata yang sering saya lontarkan, cara saya becanda…”
isengnya saya bertanya begitu, bikin dia malah diam dan tak lama tersenyum,
“entah kenapa ya, kamu hiburan tiap saya ke kantor, kamu solusi penat saya. Kalo lagi penat sama kerjaan, biasanya saya cari kamu, cukup merhatiin kamu aja…”
I’m blushing, OMG!!!
“you are blushing” dia mempertegasnya.
Yes, I’m blushing, tapi saya tetap terdiam.
“apa ya rasanya kalo saya yang serius dan jarang becanda gini, punya hubungan yang serius sama orang kayak kamu?”
saya makin membatu, can’t move!!
Saya menatapnya dengan wajah bingung, dan dia kembali tertawa.
“kok kamu bingung sih, kayaknya karena umur kita lumayan jauh, kata-kata saya kurang gaul ya?”
saya makin memberikan wajah yang bingung.
“baru kali ini saya liat kamu diem, bingung dan nggak tahu mau ngomong apa, sambil terus-terusan blushing lagi…”
saya tertawa kecil, malu sih sebenernya.
“iya Yes, dari awal ketemu kamu, saya terus merhatiin kamu, cara kamu menjalani hidup yang santai banget, cuek banget, terus saya mikir, mana ada yang mau jadi pacar kamu atau malah punya hubungan serius sama kamu…”
dia menghentikan kata-katanya, dan kelihatannya sedang mempersiapkan kata-kata selanjutnya.
“tapi kayaknya saya…kepikiran untuk menjalankan hubungan yang serius sama kamu…”
makinlah saya bingung…ini maksudnya dia nembak saya ya…aduhh otak saya nggak sampe sama sekali
“udahlah, hampir pagi nih, jam 8 kita mesti kerja lagi, nggak usah dijawab sekarang, anggep aja cuma ceracauan om-om yang lagi godain kamu…yuk”
dia berdiri dan menawarkan tangannya pada saya, dan saya menyambutnya.
Sejak hari itu, kedekatan kami menjadi hubungan yang kami jalani dengan serius, saya amat sangat berharap hubungan ini akan jadi ending yang saya harapkan.
-saat kamu mengatakan cinta, itu saatnya kamu harus bisa berkorban kapanpun-
Someone Quote
Tidak ada komentar:
Posting Komentar