Kamis, 29 Desember 2011

I'M PLAYING THE GAME


-Now im speechless, over the edge I just breathless, I never thought that I get hit by this lovebug again-
Jonas Brother

Semenjak malam kebersamaan kami itu, akhirnya saya mulai akrab dengan sosok mas Adhi, makin tahu tentang pribadinya.

Saya harus bicara jujur, bukan pada mas Adhi, tapi pada Rengga.

Surya Rengga, seorang pria yang hampir 5 tahun ini menemani saya, hubungan yang terbilang spesial… setahun belakangan kami memang jarang sekali bertemu, saya dengan kesibukan saya dan dia dengan kesibukannya, melukis, memahat patung membuat pagelaran teater dan pameran, Rengga memang memiliki jiwa seni yang tak perlu diragukan lagi, maklum ayahnya juga seorang seniman yang lumayan terkenal.

Kesibukan kami yang membuat hubungan ini jadi aneh, makin aneh. Saya ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius dengan Rengga, tetapi ia tak pernah siap, justru ia ingin kami tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan, jiwa seninya terlalu mendarahdaging, baginya bebas menciptakan, karya bebas juga memilih jalan hidup.

Terakhir kali kami bertemu, kami membahas hal ini, lagi-lagi dia hanya menjawab “Hidup ini pilihan yes, seni adalah pilihan hidup saya, kalo kamu ingin tetap dengan saya, ya kamu memilih untuk ikut aturan hidup saya”

Sekian banyak pendapat hidupnya tentang seni dan kebebasan, selama 4 tahun ini saya menyetujui jalan hidup yang menjadi pilihannya, tetapi saat saya bertanya serius tentang hubungan ini, dia menjawab atas dasar kebebasan dan jiwa seninya.
Saya jatuh hati pada Rengga, karena dia smart, ahli di bidang seni sejak kuliah dulu, dipercaya banyak orang, sukses di setiap pagelaran dan pamerannya, hidupnya benar-benar bebas tanpa aturan ini dan itu… ia pun membebaskan saya untuk memilih, memilih menjalani hubungan ini dengan aturan kebebasannya. Tapi makin lama saya muak, kebebasan untuknya makin membuat dia cuek dengan hidupnya, seringkali marah jika saya tidak bisa memberikan ide yang brilliant untuk karyanya, merusak moodnya…dia sering marah-marah.

Egois dan klasik memang, di saat hubungan saya yang seperti ini dengan Rengga, justru mas Adhi datang dengan seribu kebaikan, saya selingkuh?
Nggak…kan belum jadian sama mas Adhi…tapi nampaknya hati saya sudah.

Hari itu saya memilih untuk mengakhiri hubungan saya dengan Rengga, saya datang ke studio lukisnya di kawasan Bintaro. Sebuah studio lukis yang lumayan besar terletak di lantai 2, lantai 1 digunakan untuk galeri, semua lukisan Rengga yang harganya selangit terpajang disini, sekaligus lukisan pelukis terkenal yang menjadi koleksi Rengga.

Langkah saya ragu saat menaiki tangga, hati saya nggak enak…
Saya buka pintu studio yang agak berantakan dengan alat lukis dan cat dimana-mana. Pintu terbuka, dan ia duduk manis disana sambil meyelesaikan sebuah lukisan, “hai sayang..” sapanya sambil menghampiri dan mencium kening saya, saya kaget dengan sikapnya…”liat deh…” ucapnya, ia menarik tangan saya dan menghampiri lukisan yang sedang ia buat, Lukisan diri saya…

“sosok wanita yang selama ini menghilang karena ngambek…”
saya diam seribu bahasa, kok dia manis sekali
“heiii…kok kamu diam aja sih, lukisannya kurang bagus yaa…”
saya menggeleng,
“ada yang ingin kamu bicarakan?”, tanyanya, dan saya mengangguk
berat rasanya, tapi saya harus ngomong, “saya kesini, untuk mengakhiri hubungan kita Ga”
Rengga diam dan menyunggingkan senyuman sinis, membuat saya makin takut
“kamu ngomong apa sih?”
“saya udah nggak bisa ngejalanin hubungan yang nggak ada ujungnya ini Ga, mau dibawa kemana? Nanti baik, nanti berantem, nanti jauh-jauhan, tiba-tiba ketemu kayak nggak ada masalah. Nggak pernah ada masalah yang selesai…”
saya mulai emosi, dan berbendung air mata…Rengga diam.
“saya nggak bisa terus-terusan ikut dan mengerti mood kamu, saya juga punya mood sendiri, punya ego sendiri…”
saya tahu dia mulai marah, I really know him so much.

Sesaat tak ada yang bergeming antara kami…
“ada laki-laki lain yan menarik hati kamu ya? Yang dengan seribu kebaikannya, jatuh hati sama kamu dan mengajak kamu untuk menikah…” saya diam dengan terkaannya yang lumayan mendekati….
“bener yes…kok kamu diem aja?” tanyanya sambil menunggu jawaban dari saya
“ya ngga gitu donk…saya cuma ingin tahu berapa lama lagi sih umur hubungan ini? Kapan kamu akan bilang kalo hubungan ini emang bener-bener serius? Mau dibawa kemana Ga?”
kami pun terdiam lagi…
“coba kamu piker, emangnya nikah itu gampang? Saya cuek, saya bebas, bukan berarti saya nggak mikirin masa depan saya. Saya cuma nggak mau kita terburu-buru yes…saya tahu banget kamu orang yang selalu mengambil keputusan dengan terburu-buru… kamu bisa santai  nggak sih?”
“tapi kan nggak sesantai kamu menanggapi hubungan kita Ga, udah 5 tahun hubungan ini, tapi nggak jelas mau dibawa kemana…”
belum selesai saya bicara, Rengga memotong pembicaraan dengan sikap kesalnya…
“mau dibawa kemana…mau dibawa kemana…itu itu aja yang kamu bahas…jangan kamu kira menikah itu gampang yes…saya nggak mau hubungan pernikahan saya nasibnya sama dengan perceraian kedua orang tua saya, saya tahu kok kamu ingin menikah muda…tapi kan menikah muda itu yang menjadi penyebab perceraian orang tua saya…” ucapnya dengan nada yang tinggi
“kan nggak semua jalannya seperti itu Ga…”
Rengga makin emosi dan mulai membanting apapun yang ada di sekitarnya…saya sudah benar-benar muak harus terus begini akhirnya, nggak pernah ada satupun masalah yang selesai.

Saya pergi meninggalkan galeri Rengga, mencoba untuk menenangkan diri, dan mulai mengambil keputusan sendiri, jika tidak pernah ada satu pun masalah yang selesai, kenapa saya nggak mencoba menyelesaikannya, saya memilih mengakhiri hubungan ini…cukup sampai disini.

Nyalakan ipod selama perjalanan menuju kosan…

-its time to say goodbye, block out the sun and pack up the sky, don’t let my tears start to make you cry, each time I try to say my goodbye-
The corrs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar