Jumat, 16 Desember 2011

START FORM HERE


Sebenarnya cinta itu tidak buta, cinta itu sesuatu yang logis
-Someone’s Quote-

3 Tahun lalu, inilah awal dimana saya mulai tergila-gila dengan sosok pria yang menurut saya tak memiliki kekurangan, smart, berani, dewasa, mapan dan berkacamata, menurut saya pria yang berkacamata adalah seseorang yang sangat pintar.. nggak penting yah…

Raden Adhi Satria…
Belakangan ini nama itu yang selalu berputar-putar di otak saya, mau tidur, dalam mimpi, bangun tidur perjalanan ke kantor, di kantor, tentunya bertemu dengan dia, dan pulang kantor, bersama dia juga… bagaimana tidak kalau dia terus membayangi saya. Dia adalah teman sekantor saya di sebuah stasiun televisi swasta, seorang senior kameramen di divisi pemberitaan. Awalnya kami tidak terlalu saling mengenal, tapi suatu ketika saya butuh sesuatu yang memang harus berhubungan dengannya. Dia orang yang sangat tanggap jika siapapun butuh bantuan, itu saya rasakan diawal pertemuan sekaligus perkenalan kami, saat kaset liputan saya nyangkut di player mini DV, dengan senang hati ia membantu saya, sempat tersirat dia orang yang memang terlihat baik, dari keluarga baik-baik, walaupun wajahnya tidak ganteng, tidak putih dan tidak terlalu tinggi, tapi dia punya dada yang bidang, deretan gigi yang rapid an lesung pipi yang menghiasa senyumnya….ups!! tiba-tiba sekian detik saya memperhatikan dan memujanya.
“udah bisa nih…” tegurnya sambil menyodorkan kaset mini DV yang berhasil keluar, “tapi kayaknya mesti di cek lagi, ganti player aja…” dia terus menyodorkan kaset pada saya, “saya adhi…” sekarang ia menyodorkan tangannya, “kamu yesi kan?”, kok dia tahu nama saya, “eh…iya saya Yesi, kok tahu nama saya?” “siapa emang yang nggak kenal anak baru kayak kamu” saya hanya tersenyum dan dia membalasnya sambil berlalu.

Semenjak hari itu saya sering memperhatikan sosoknya, saat presentasi di depan produser, mengajarkan tekhnik kamera anak-anak baru, bercanda dengan teman-teman seangkatannya, beragam gerak-geriknya hingga caranya berpakaian.

Hampir sebulan memperhatikan sosoknya, tibalah saat dimana rollingan program keluar dan tertempel apik di papan pengumuman kantor. Rollingan ini biasanya dilakukan selama 6 bulan hinggak setahun sekali, dimana semua kru dan tim diacak-acak dan bisa ditempatkan di program manapun, termasuk saya, yang sudah hampir dua tahun bertengger di sebuah program yang selalu tayang pagi hari. Hari ini saya dapat kesempatan untuk pindah ke program anak-anak, sesuai harapan saya memang suka dengan anak-anak. Eh…tiba-tiba iseng ingin lihat namanya, dipindah kemana ya…jri telunjuk pun menelusuri namanya, yess ketemu namanya…
“wah…kita satu program ya ternyata…” sapa seorang pria di samping saya, dengan sangat terkejut saya hanya bisa memandangnya, “lagi cari nama saya?” tanyanya sambil tersenyum, mata saya pun langsung tertuju pada jari telunjuk yang sukses berhenti di atas namanya, “eh…iya mas, eh maksudnya iya kita satu program ya” saya hanya menjawab malu sambil menarik jari telunjuk dari papan pengumuman. Dia tersenyum dan bilang “ini yang saya tunggu…pasti senang kerjasama bareng kamu” dan dia berlalu dengan misterius dengan meninggalkan sebuah pertanyaan di kepala saya “maksudnya apa ya…” kok tiba-tiba saya GR yaa…

Seminggu kemudian, tim program kami dengan kru dan formasi yang baru akhirnya melakukan miting pertama, kayaknya saya orang yang paling semangat, karena program baru? Atau ketemu sama dia? Saya pilih dua-duanya.

Miting berjalan lancar, ternyata miting ini sekaligus memberitahukan bahwa mas adhi ini sedang di promo menjadi associate producer di program baru ini, wah hebat, kok jadi makin bangga ya. Selama miting saya merasa dia merhatiin saya terus, kelewatan nih rasa GR saya…

Miting pun selesai, saatnya pulang ke kosan, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Di depan kantor lagi nggak ada ojek, susah deh, angkot udah nggak ada nih kalo jam segini.

“Yesiii…” seseorang memanggil saya, ternyata dia, jantung saya berdebar, serasa mau lepas, kepikiran lagi ribet gini, dia nganterin saya pulang…ngarep banget ya…
”mau pulang yes?” tanyanya sambil berjalan menghampiri saya
“iya mas…lagi nunggu ojek”
“emang tinggal dimana”
“kosan belakang kantor sih…” tetep ngarep banget dia nganterin saya, Please God!!
“saya juga parkir motor di belakang, jalan bareng yuk?”
jalan kaki!! Malem-malem gini!! Dari parkiran motor umum di belakang ke kosan saya, kan jauh dan gelap…
“mau nggak?” tanyanya
mau…jawab saya dalam hati, tapiiii…
“dari parkiran motor ke kosan kamu masih jauh ya?”
Saya mengangguk pelan dan pasti, “saya anter kamu sampe kosan deh, baru saya ambil motor, gimana?” tawaran yang saya harapkan akhirnya terlontar juga, seluruh jagad raya ini juga pasti tahu jawaban saya.

Selama perjalanan menuju kosan, kami nggak banyak bicara, dan ia menawarkan untuk makan bubur kacang ijo yang ada di deket kosan, nggak mungkin saya tolak. Kami pun terlibat obrolan yang seru dan panjang, dari mulai alamat lengkap tempat tinggal kami, alasan ia menjadi broadcaster, hingga gossip kantor yang beredar, saya benar-benar tertawa lepas, dia pun begitu. Tana terasa, kami menghabiskan waktu nyaris 4 jam di warung bubur kacang ijo yang buka 24 jam itu.

“aduh maaf yaa…saya ngajak ngobrol sampe jam segini, kamu udah ngantuk ya? Saya anter ke kosan yuk..” tawarnya, “nggak apa mas, besok kan libur, bisa tidur seharian”

sisa perjalanan menuju kosan, kami terus membahas cerita yang sama berulang-ulang dan terus tertawa. “maaf ya yes, mengurangi jam tidur kamu” “ga apa mas, minta maaf mulu deh”
“makasih yaaa…”
“saya yang makasih mas, kemarin belum sempet bilang makasih, waktu kaset liputan saya stuck di dalam player…”
dia hanya mengangguk dan pamitan, “sampe ketemu senen yaa..”

masuk kamar kosan sambil senyum-senyum, rebahan di kasur dan berharap ini bukan mimpi…

-I want a lover who knows me, who understands how I feel inside-
Dreamlover-Mariah Carey

The music is playing in my dream now, ingin melupakan masalah yang tak pernah ada ujungnya…and let this new guy comes in, how can I?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar