Rabu, 16 Desember 2015

Dear Aira

Dear Aira
#3

@office, my behind desk

Happy birthday my bestt
Selamat 3 tahun ya nakk cantikk...

Finally
Selesai juga pembuatan souvenir ulang tahun kamu heheh..

16 Desember 2015
Sekarang kalo ditanya berapa umurnya aira?
Kamu pasti jawab ti...gaaa tauunn

Sebelum ulang tahun kamu, uyut nima meninggal nak cantik, sedih...apalagi ibu sempet galak banget sm uyut😭😭

Biasanya emak selalu bikin nasi kuning sama tumpengan kalo kamu ulang tahun, tapi tahun ini nggak dulu ya, soalnya pas 7 harian uyut...

Anyway...
Hari ini ibu happy, karena kamu ulang tahun, ibu kasih tema ulang tahun kamu ini namanya "belajar berbagi"

Berbagi kebahagiaan bertambahnya 1 umur kamu...mudah2an bisa konsisten sampai tahun-tahun berikutnya ya nak cantik...

Terus belajar ya aira, berbagi kebahagiaan itu ga cuma di tanggal kamu ulang tahun, ga juga harus berbagi dengan yang mahal, peduli sama orang-orang sekeliling kamu ya nakk...
Karena ibu melakukan itu, jadikan itu kepuasan tersendiri dengan melihat orang lain senang😊

Pagi-pagi kita udah angkut-angkut souvenir ke sekolah kamu...
Bunda-bunda di sekolah baikk banget, karena bikin acara syukuran dan doa bersama...tapii aira bagiin souvenirnya sambil ngantukk

Abis bagi-bagi souvenir di sekolah
Terus lanjut bagi-bagi souvenir temen2 aira di rumah...
Agak ujan gerimis, ditemenin abel pake payung...seru dehh☺️☺️☺️

Happy birthday nak cantik
Jadi kebanggan ibu yaa😘😘😘

Senin, 07 Desember 2015

Dear Aira

#2 

7 des 2015
Behind the desk, the computer - office

"iiihhh ibu kok kelja sih...ibu ganti baju, ganti baju, ga boleh kelja..."
n then u crying out loud Aira.

Udah jelas deh cara kamu ngomong aira, nah ini yang hampir setiap hari ibu denger kalo mau berangkat kerja hihihi..

Sedih rasanya,
Tapi ibu mesti berangkat kerja nak😊😊

Sebel ya pasti kamu ibu tinggal terus tiap hari, ibu juga pengen tiduran seharian, main sama aira, dengerin aira, ngoceh cerita apapun, tapi ibu cuma bisa kasih pengertian yang sedikit...Ibu kerja buat aira, maaf yaa waktunya mesti ibu pakai buat sesuatu yang mungkin ga harus buat aira, apalagi waktu aira bilang gini...

"ibu ga usah kelja sih...bapak aja yang kelja..."
Ibu cuma angguk-angguk dan bilang amiin ya aira...

Selalu ada jawaban kalo ibu mau pamit kerja...
"ibu kerja kan buat aira, aira mau beli apa?"

Dan kamu jawab sambil nangis,
"ila ga mau apa-apa, mau ibu aja"
☺️☺️☺️

"sepeda mau?"
"ga mauu..."
"ibu kerja kan buat aira sekolah, nanti bayar sekolahnya gimana?"
"ga usah sekolah..."

Pengen senyum-senyum deh kalo ngobrol ini sama aira hampir tiap hari.
Tapi ga bisa bohong, ada yang sakit aira hehhe...

Its okay, 
One day aira ngerti kenapa ibu mesti kerja yaa...

Ini yang namanya perngorbanan ya aira, entah lelah, sakit atau apalah rasanya, udah ga ibu rasain, tapi ibu ga pernah merasa ini berkorban...ibu mau aira tau, ibu ada loh...

Barusan ibu telpon airaaaaa...
Selalu seneng deh kalo telpon aira,
Tapi sebel kalo aira suka ga mau terima, kayak tadi tuh, aira bilang sama engkong ga mau terima telpon ibu, kata engkong lagi kesel, ga lama aira bilang sendiri sama ibu, sebel sama aal, nakal ihh kata aira...hehe

Tiap anter sekolah,
Ibu selalu bilang,
No no marah2 ya aira, no no nangis, no no galak yaa...
Temen ibu...temen ibu, sambil kasih kelingking ke aira, aira sambut kelingking ibu sambil muterin biar jempol kita ketemu, terus lidah aira bunyi 'clok' hihihihiii...

Dan selalu ibu bilang,
I love u aira
Suara cempreng aira bales, 
"i lopyu tu"

Ibu selalu cari cara supaya aira ngerti ibu harus kerja tiap hari...
Sampe akhirnya ibu jembrengin semua yang aira atau ibu lakuin setiap hari...

Salah satunya,
Kalo aira sekolah, berarti abis ibu jemput aira pulang sekolah, ibu kerja ya...

And it works...

Kamu ngerti loh...
Jadi tiap hari kalo ibu mau kerja, kamu selalu bilang,
"ibu mau kelja, boleh kok..."
Peluuukkkk....

Jadi temen terbaik ibu ya nakk...
Karena ibu bakal jadi temen terbaik aira, biarpun mungkin aira ga anggep hehe...

Love u my best



Dear aira

#1

18 nov 2015
@ behind the desk, office

Dear aira
Baru kepikiran buat bikin satu tulisan tentang aira, karena ibu ga bisa kasih apa2 ya aira, cuma mau aira ngerti one day..

Dan baru hari ini mampu meluangkan waktu menulis sedikit tentang aira, soalnya ibu lagi mempersiapkan syukuran ulang tahun aira yang ke-3 bulan depan...ibu senang aira.

Ibu cerita sedikit boleh ya cantik, mungkin dimulai dari aira lahir, mudah-mudahan ibu ga berderai air mata ya...

Waktu tahu akhirnya ibu bisa hamil, dan itu hamil kamu, serasa seluruh dunia bersyukur, ga ada alasan ibu buat ga bersyukur karena mau punya kamu aira..

Periksa USG ternyata ada bayi cantik di perut ibu, terpikir beberapa nama...
Yang mana ya, yang akan bisa mewakili sosok kamu nanti...punya pribadi yang cantik, hati yang baik, peduli sesama ya cantik...

Tercetuslah nama aira
Yang diambil dari kata air, unsur air, yang mudah beradaptasi dengan sekitar, apapun wadahnya, yang mampu menyejukkan semua orang.

Bisa juga jadi singkatan, Anak Indonesia RAya...cinta tanah air ya cantik.

Berangkat dari niat bapak dan ibu yang mau anak2 kami itu tahu dimana mereka berpijak, Indonesia, tercetuslah nama Samalona, pulau kecil cantik yang dikelilingi air, ada di Makassar pulaunya.
One day, ibu ajak kesana ya.

Bertambah usia, aira makin pinter, makin cantik...
Dan akhirnya masuk sekolah di usia 2 setengah tahun, playgroup yang ada di deket rumah emak.

Sekolahnya sederhana, biayanya juga murah, tapi didikan sekolah ini bagus menurut ibu. Aira bisa hapal doa sebelum makan, doa mau tidur bahkan beberapa surat pendek, diajarin sama bunda Fitri di sekolah, kamu cepet menghapal cantik, walau kadang kamu rewel kalo ibu minta mandi buat ke sekolah.

Ibu mesti kerja lagi nih...
Nanti berlanjut ya nak...



Sabtu, 21 November 2015

CAPEK MANA...

Kemarin siang,
Baca post dari seorang teman, a mommy with 1 son, and a carrier woman..
This is what she posted.


CAPEK MANA?

Kita, ibu rumahtangga ini, tanpa sadar sering jadi ratu drama. Merasa diri menjadi orang paling teraniaya sedunia.

Kamu kan ibu rumahtangga juga,segitunya amat sih men-judge sesama?

Lha justru karena saya ini ibu rumahtangga, maka saya bisa menilai seberapa drama-nya saya :D

Gimana nggak drama, kalau yang saya baca adalah artikel yang hanya mendukung penilaian tinggi tentang diri saya saja. Dan mengelu-elukan profesi saya yang konon paling mulia sejagat raya. 

Suatu ketika, di saat emosi sedang mencapai puncaknya, dan kelelahan fisik mendera, kita pernah donk berandai-andai jadi ibu pekerja.. yang wangi berseri setiap pagi, dengan dandanan natural dan tas yang selalu ganti..

Sedang kita masih seperti serigala kesurupan membangunkan anak-anak yang susah makan. Belum mengurusi kaus kaki suami yang keselip entah kemana.. segala keruwetan dunia sepertinya tertumpah ke kita semata.

Kita akan berfikir, sekaligus jumawa, kira-kira bisa nggak ya, ibu pekerja itu melakukan hal-hal yang kita lakukan ini? Makan siang sambil nyebokin anak BAB, tidur siang sambil berdiri (asli ini pernah saya lakukan saking lelahnya momong dua Balita), menggoreng ikan sambil menggiling pakaian sekaligus menggendong bayi, dan mendongeng buat kakaknya.. bisa nggak ya?

Sedangkan mereka pagi-pagi sudah cantik, seolah tinggal mengurusi diri sendiri saja. Anak-anak ada asisten yang entah mengapa betah kerja bertahun-tahun dengan mereka, sedang asisten kita tiap bulan minta resign karena tak betah punya majikan ibu rumahtangga..

Uang, mereka jelas ada. Suami..nggak kalah ganteng dengan suami kita. Status sosial..oh mereka di atas kita. Kita kalah telak kalau mau bersaing dengan mereka. Ditambah entah mengapa kecantikan mereka rasanya di atas rata-rata. Lengkaplah sudah penderitaan kita..

Apa bisa mereka melakukan apa yang kita lakukan?

Padahal.. di sisi lain..

Saat ibu cantik itu melewati rumah kita ketika hendak berangkat kerja, mereka ingat akan kerinduan menyuapi nasi goreng ke perut anaknya.

Perjalanan menuju kantor itu sendiri tidak pernah mudah. Apalagi tinggal di ibukota yang kalau dituruti, jalan raya ini bisa bikin gila. 

Mereka harus berdesakan dengan banyak orang di dalam kereta, di dalam bis kota. Berpeluh-peluh padahal matahari belum juga tinggi.. bisakah kita melewati pagi dengan hiruk pikuk begini?

Di kantor..tumpukan pekerjaan menanti. Bos ngomel tiada henti. Deadline menunggu ditepati. Sementara pembantu di rumah SMS melaporkan si bayi yang panas tinggi.. bisakah kita melalui hari semacam ini?

Kita makan siang sambil nyeboki. Mereka bisa jadi tak sempat makan karena jam istirahat harus ia tebus untuk memompa ASI. Atau lari ke apotek demi membeli obat si bayi..

Kita punya suami yang sangat mengerti. Gajinya tak pernah dianggap uangnya sendiri. Mereka yang kita anggap punya uang tak berseri itu, bisa jadi tak pernah menikmati uangnya sendiri karena cicilan menanti. Atau suami yang tak tahu diri.

Kita masih bisa menunda PR anak di siang hari, ketika lelah, untuk dikerjakan malam nanti. Tapi mereka, tak boleh ada kata lelah sepulang kerja. Karena anak mana pernah bisa ditunda. Mengingat hanya malam yang mereka punya.

Kita bisa menyegerakan tidur kala badan serasa habis digebuki. Toh esok masih ada hari. Tapi mereka hidup untuk anak dan suami hanya pada malam hari. Esok pagi berarti tak ada hari yang terluang kembali.

Kalau ini yang terjadi pada kita.. bisa jadi kita yang lebih dulu menyerah daripada mereka.

Kita lelah, itu sudah pasti. Ibarat petani, kita sedang memasuki mongso labuh. Masa menanam yang capeknya lahir dan batin.

Tapi bukan berarti ibu yang bukan ibu rumahtangga memiliki level kelelahan di bawah kita. Mana pernah kita tahu di balik seragam cantik itu, ada sepotong hati yang pilu?

Seorang ibu, apa pun profesinya, adalah ibu terbaik untuk anak-anak mereka.

Mari jadi ibu rumahtangga yang fokus mengurus rumah kita saja. Biarlah mereka dengan dunia dan rumah mereka. Tak perlu membandingkan. Apalagi menyesali pilihan. Ingatlah selalu, dalamnya masalah setiap orang tak pernah ada yang tahu 

Karena menjadi ibu, mau bekerja ataupun tidak bekerja, dia tetap orang yang melahirkan anak-anaknya.

Salam ibu rumahtangga


Nice post buat saya...
Saya yang ga pernah mau tahu urusan orang lain, terutama pilihan untuk jadi wanita pekerja atau ibu rumah tangga, buat saya seorang ibu yang melakukan pilihan adalah mereka yang selalu ingin jadi yang terbaik buat anak2 mereka, yang kita ga pernah tahu apa alasan mereka dengan keputusan mereka, cuma mereka yang tahu, so...buat apa ribet mikir urusan orang.

Saya,
Nggak pernah nyinyir sama sosok ibu rumah tangga yang mungkin terlihat ga gaul, ga fashionable, ga cantik atau apapun itulah, justru buat saya mereka hebat, apalagi mereka yang tadinya berkarir hebat lantas punya keputusan to be a full mom, membayangkan pekerjaan mereka yang banyakk tanpa henti mungkin, 24 jam tanpa tergaji...
Well they are a great mom.

Iri saya,
Ibu yang di rumah itu bisa full perhatian sama anak2nya, tahu persis bagaimana perkembangan anak2nya...

Betul,
Tak mudah jadi ibu pekerja,
Banyak alasan mengapa sampai sekarang saya masih bekerja.
Buat apa?
Buat yang terbaik menurut saya...
Anak dan keluarga saya.

Lelah, pasti.
Tak cuma fisik, tapi hati dan pikiran.
Lelah fisik bisa tidur, tapi saya belum pernah merasakan tidur yang lelap di hari2 saya bekerja...cuma karena ingin punya waktu lebih dari 24 jam buat si bocah, yabg akhirnya jatuhlah menjadi lelah pikiran dan lelah hati.

Menangis...
Sedih...
Jangan ditanya...sering saya mengumpat soal ini.
Betul, ada hati yang pilu
Banyak ke-khawatiran, apalagi mengenai perkembangan si bocah...
Dapat laporan ini dan itu dari guru di sekolahnya, rasanya ingin marah saja kalo laporan itu tentang kenakalannya, terkadang ga ingin juga marah karena merasa ia nakal karena kurang sentuhan ibunya...sedih.

Ya...dengan terpaksa bocah ini saya titip ke ibu saya, sejak ia lahir.
Karena masih harus bekerja, saya ga bisa juga ambil baby sitter karena khawatir, alhamdulillah ibu saya mau membantu merawat, karena ia pun ga rela si bocah dipegang orang lain.

Tapi cemoohan ga berhenti sampai disini,
Ada saja yang ngepost tetang ini dan itu,
Salah satunya adalah (saya agak lupa isinya, intinya begini...)

"ibu kita bukanlah sosok yang harus dibuat lelah dengan mengurus kita bahkan sampai harus mengurus anak2 kita, cucu mereka, sedangkan kita asyik bekerja mengumpulkan materi..."

Tak usah dibayangkan bagaimana ini menusuk hati saya...
Sampai tidak tahu harus sedih dengan menangis atau menyalahi diri sendiri.

Merasa tidak mampu.

Tak henti lah orang2 diluar sana mencaru celah salah kita. 

Buat saya, tak apa membahagiakan orang dengan membahas gosip tentang kita, yang padahal itu menyakiti kita...
Yang terpenting saya tidak melakukan hal yang sama, karena saya tidak pernah tahu alasan mereka memilih arah hidup mereka.
Walau, tak bisa juga saya menghentikan cemoohan mereka, karena mereka tidak pernah tahu kondisi atau alasan saya memilih arah hidup saya.


Minggu, 11 Oktober 2015

Wonderland jungle (6)

Knock knock!!

"who's there?"

"its me...mr nice man"

"really!!"

"yes cinderella..."

"how can I believe, u are really a nice man, or its just a name"

"do u want to open this door for me cinderella? I want to see ur face, your eyes...

I want to explain...cinderella is exist...its u!!"

"wow....really, how can u makes me believe"

"just open this door...

Please cinderella..."

"Are you begging me mr nice man...
What will you do or what will u say if I open this door...still being a liar to make me sure...that im really cinderella"

"just open it cinderella...

Are u crying cinderella...please dont"

"listen hey you mr nice man...if u are really-really a nice man...

Im just an ugly duck...
Just let me being this ugly duck
So...stop makes me sure, that im cinderella...

CINDERELLA DOESNT EXIST!!"

"so...let it exist...let cinderella exist, we just create it, create a happy cinderella, so its really exist..."

"NO...STOP!!!

you have to realise mr nice man these all never exist...

Cinderella
Wonderland jungle

Mr nice man, doesnt exist...



















you...
You are doesnt exist...!!!"


Senin, 14 September 2015

Wonderland jungle (5)

Hii mr nice man...

How are you?
How is wonderland jungle?
How is your feeling??

I walk on my destiny, like what u said before...
When i open my eyes, i always thought that u are my destiny, like what u wish...
and what i wish...

Sometimes, 
I just want to realise that i am really cinderella, princess in a fairytale...

Is it?

Every story never ended with a happiness
Thats no happy ending story for me now...

Life is not a fairytale,
Not as happy as its storied

And

Cinderella,
Doesnt exist!!


Sabtu, 11 Juli 2015

Mengadu...

Gusti maha baik...

Bulan ini, ramadan
Saya dibuat merindu teramat sangat...
Saya dibuat tersentuh teramat sangat...
Saya dibuat menangis teramat sangat...
Saya dibuat senang, lantas dicoba jatuh...

Begitu mencintanya Gusti...menegur saya untuk makin berdiri...

Saya punya banyak kotak
Warna-warni...
Ada pemiliknya di tiap kotak
Saya menamakannya kotak hidup saya yang bercerita...kotak yang selalu punya warna yang berbeda...
Di saat ada kotak yang hancur, saya berusaha membenahi kotaknya dengan mencari kekuatan dari kotak yang lain, berharap untuk semakin mengeluarkan tawa, tanpa mengukir sedih yang terlihat untuk orang luar

Ini mereka...

Hijau,
Kotak kapal saya,
Membuat saya kuat karena si bocah kecil, membuat saya bertahan dengan keinginan2 kecil, yang mungkin jadi tuntutan besar...lantas beberapa hari lalu di bulan ini, kotak itu terkoyak, dan remuk!
Pondasi yang tidak kokoh, berantakan.
No more colour for this box, no more feels in this box.

Kuning,
I called it, friendship box
Beberapa orang yang mengukir cerita di luar kotak hijau saya, pelarian saya, cerita lain tanpa sedih. Beberapa hari lalu, di bulan yang sama, kotak ini hancur...dan belum saya benahi, karena msh mencari kotak lain yang memberi saya tawa

Orange,
Kotak yang selalu bekerja, kreatif
Membuat nyaman orang2 sekitar saya yang bahkan tidak saya kenal atau dekat dengan saya....salah satu kotak pelarian di saat 2 kotak hancur. 
Beberapa hari di bulan ini, kotak ini pun retak perlahan...mungkin sebentar lagi hancur...

Last,
My last box

Grey,
Satu kotak tanpa warna, yang diam-diam memberikan warna tanpa terlihat. Give me a really little power for my any trouble, di suasana hati yang tak terduga, tapi hari ini, saya harus menghancurkannya...bahkan membuat ini hilang, kotak ini ga boleh lagi ada.

Menangis saya Gusti,

Kotak apalagi yang harus saya bentuk,
Kotak apalagi yang harus saya kasih warna Gusti,
Kotak mana lagi yang beri saya kekuatan Gusti...











Bukan kotak yang harus saya bentuk lagi, tapi potongan puzzle yang harus saya bangun.







Lets healing with a cup of tea,
or with flavour of white tea jasmine.







Rabu, 22 April 2015

Hidup itu seharusnya begini

Well...okay.

Belum nikah juga ya?
Pacar aja belum ada ya?
Kapan mau nikah?
Kapan mau punya momongan?
Jangan kerja melulu, kasian anaknya?
Siapa yang jaga anaknya di rumah, kok tega sih?
Kapan mau punya adik buat si sulung?

And bla bla bla...

Pernah dengar beberapa pertanyaan ini?
I called it, unfinished question.

Coba dipikirkan secara nalar,
Siapa yang ga mau punya pacar, siapa yang ga mau nikah, siapa yang ga mau punya anak, siapa sih yang ga mau hidupnya berjalan sesuai dengan yang seharusnya.

Mungkin karena,
Hampir setiap orang berpikir bahwa, hidup yang seharusnya adalah
Lulus sekolah tepat waktu
Dapat pekerjaan
Punya pacar
Lantas menikah
Punya anak
Satu, dua, atau bahkan sebelas anak dengan kombinasi laki-laki dan perempuan.

Lalu,
Siapa yang harus disalahkan kalau ternyata ada satu garis terputus yang akhirnya hidup seseorang tidak berjalan seperti seharusnya?

Mungkin seperti kasus saya,
Bukan kasus besar, tetapi ada di lingkungan saya, pastinya ada di lingkungan hampir semua orang.

Saya bersuami dengan 1 orang anak perempuan, wanita pekerja, memiliki 1 rumah, 1 kendaraan roda dua, 1 kendaraan roda empat

Well...sampai sini, terlihat hidup saya berjalan sesuai dengan yang seharusnya.

Mari menengok 2 orang rekan saya,
Si A, wanita pekerja, sudah menikah, pendapatan lumayan tiap bulan, smart dalam pekerjaannya, menikah 4 tahun dan belum di karuniai seorang anak, serta suami yang bekerja di luar kota, hidup terpisah.

Lalu apa yang ada di pikiran orang-orang di sekitarnya?

Mungkin ada yang berpikir seperti ini,
Suami dimana istri dimana, gimana mau bisa hamil
Istrinya sibuk sih, kecapean, gimana mau bisa hamil
Harusnya istri itu ikut suami, egois sih
Kurang usaha aja itu buat punya anak

Its so negative, setidaknya buat saya.
Tapi, secara umum beberapa orang pasti berpikir seperti ini, dan ga bisa di hindari.

Tahukah mereka,
Si A, sudah melakukan segala upaya untuk memiliki anak?
Sudah memikirkan beragam cara supaya bisa hidup berdampingan, apalah yang mereka tahu masalah di dalam rumah tangga mereka?

Lalu rekan saya, si B
Single, karir bagus, keluar negeri setiap saat karena tugas, sibuk sudah pasti, dilangkahi 2 adiknya yang harus menikah lebih dulu.

Lalu, apa yang dipikirkan orang-orang di sekitarnya?

Mungkin, mereka akan berpikir seperti ini,
Mikirin karir aja sih, ga sempet mikirin diri sendiri
2 adiknya aja udah nikah, kakaknya ini terlalu sibuk sih
Udah punya uang banyak, udah ga butuh sama lelaki
Terlalu menutup diri sih
Pemilih sih kalo cari pasangan

Noted.
Its so negative.
Setidaknya, lagi-lagi buat saya
Dan lagi-lagi ga bisa dihindari.

Tahukan mereka,
Si B ini tidak pernah menutup diri terhadap laki-laki
Diantara kesibukannya, ada cita-cita untuk berkeluarga.

2 rekan saya ini, punya harapan agar hidup mereka sesuai dengan yang mereka mau, berjalan dengan seharusnya.

Lalu, 
Siapa yang harus disalahkan?

Secara sadar, orang-orang dengan beribu pertanyaan ini pun tahu, 
Yang namanya jodoh di tangan Tuhan,
Yang namanya punya momongan itu rejeki dari Tuhan,
Ga ada yang tahu kapan datangnya,
Terus kenapa masih ada pertanyaan yang seperti itu?

Mungkin, karena ingin menambah keakraban dengan pertanyaan basa basi, yang akhirnya jadi basi, better ga usah bertanya, just say hi...

Kalau saya bilang,
Hidup saya terlihat berjalan sesuai rencana, karena saya pribadi berusaha seperti itu, tapi siapa sangka ada apa di dalamnya?
Tetap aja, saya juga mendapat pertanyaan yang dilontarkan dari mereka.
Loh ibunya kerja, anak sama siapa?
Kok masih ngrepoti orang tua?
Ga usah kerja ajalah, urus anak aja?
Kapan mau punya anak lagi?

And bla bla bla...
Unfinished question like what i said before.

Pertanyaan saya,
Bisa ga ya mereka berpikir lebih positif, atau setidaknya memutar kata agar terdengar lebih positif untuk beberapa kasus diatas?
Seperti ini misalnya,

iya ya...namanya juga ibunya kerja, ga apa titip orang tua, suka kuatir ya sama baby sitter jaman sekarang.

Jaman sekarang, perempuan juga banyak yang kerja, secara biaya sekolah mahal ya, itung-itung bantu suami ya.

Mungkin jodohnya belum dateng sekarang, masih disimpen yang terbaik dari Tuhan.

Yang namanya rejeki siapa yang tahu, mungkin aja bulan depan udah bisa hamil langsung kembar.

Its sound positive
Tanpa meninggalkan ganjalan, justru jadi penyemangat.
Saya lebih memilih yang ini.

Apa yang dijalani orang lain belum tentu kita tahu, belum tentu pula bisa kita hadapi, bisa jadi mereka lebih hebat dari kita.

Mari memulai untuk stop memberikan pertanyaan yang setidaknya meninggalkan ganjalan.

#celoteh

Sabtu, 21 Maret 2015

Wonderland jungle (4)

Hey you...
Yess you...

I love you! 

"Knock knock..."

"Who is there?"

"Its me...mr nice man"

"Holllaa mr nice man...what are you doing here? its so cold outside...but i cant let you in"

"Why cinderella? What makes you look so sad? May i know? Just let me know..."

"Why you are knocking my window, not knocking my door mr nice man?"

"I have been knocked, but you dont opened it...so i climb this wall...

Look at me cinderella...let me know, are you still waiting for me?"

"I always waiting for you..."

"So...why you dont open it...what are you thinking, theres so much question in my head..."

Serene...

" i love you cinderella...

Is it makes you feel better?"

"Yess mr nice man...thank you...

You always makes me feel better, with your own way..."

"So...telling me, what makes you feel so sad?"

"I just bored...with this, all of this, im missing wonderland jungle...and im missing you...

I feel unhappy mr nice man...i dont like this castle, me as a princess..."

"Ssssttt...you have everything, and you can share what you have to all of your people, like you always did, thats you..thats the way can makes you always be happy...dont be sad"

"Yes it is...

I just want you to be here, by my side, listen on me, makes me laugh and do everything we love..."

"You can through this cinderella...

Just act that you are happy, even you are not. Just live your destiny...this is your destiny...

And one day...
I will be your destiny!"


Senin, 16 Maret 2015

Wonderland jungle (3)

Hai Mr.nice man
Where are you??

Are you forgetting me like they do?

Do you know, 
Im so sad...
And im drawning on my sadness

Im missing lost in wonderland jungle
Im missing the trees, the smell, the rain...the scared of mine...
When im lost, 
i believe will always find you
Just believe...

Im missing your kiss.
Im missing you.

I do nothing in this big wall of castle
And i just think about this...

When you busy to care everyone around you, they just busy to forgetting you
So...always care everyone, even you are forgotten.
They are just human, like us.

If you feel sad
Does anyone care about your sadness?
Sometimes they dont
So...dont be sad

If you are happy
Everybody around you feel it too
So...be happy

Mr. Nice Man
Its makes me have a little power

I want to leave all of this
all of my luck...
As a cinderella, castle, good food, money...everything
This isnt makes me happy.

I want to live at wonderland jungle
When everything never hurt each other

Living together with you.
is it worth for me?

Are you worth for me??


Are you worth for me to sacrifice??

Sabtu, 28 Februari 2015

Wonderland jungle (2)

Hi cinderella,
I was knocking on your castle door last night, why you don't opened?

I couldn't sleep, just thinking about this, about what you were thinking? 
What happened to you?

I thought that you are waiting for me,
Like what you said before, you are waiting for me to knocking on your castle door...so why you left me with more question in my head?

Evidently, you passed this wild wonderland jungle every night you want to see me

just want to see me, just want to give me a real kiss...dont you see, theres can be much wild animal dangered you.
Are you sacrifice yourself for me?
Almost every night cinderella...

Should i climb that castle to your private room?

I have to...
If you can sacrifice yourself for me, why i am not.

That wall so high cinderella,
I know you are inside, and still waiting for me...

I passed that wild wonderland jungle for several times if you want me to,
And i climb this wall even its makes my hands hurt.
Just to prove, i want to sacrifice myself like you have done for me.

When i am on the top,
I can see you cinderella, its you, yess you are.

But, why you look so sad, its not you cinderella
You never let yourself fall to crying,
You always being cheerful, you always can cover your sadness...
What are you crying for?
Can i hug you, hold your hand, keep you warm with me...

You close your face with your 2 hands,
And you are shaking, you crying too deep...

Hey...hey you 
I love you.

Is it make you feel better??



Sabtu, 14 Februari 2015

Wonderland jungle

"knock knock.."

"Who's there?"

"Cinderella is knocking..."

"Owh...hai cinderella"

"Would you let me in?"

"Of course...please"

He open the door, and i'm seeing him

"Thanks..."

"You are very welcome"

"I bring something for you to celebrate a little valentines day"

"Wow...What is that?"

I open my wicker basket, but i close it again with the red cloth, i just want to give him a little surprise that he can not see, but he can feel it.

First...
Hugging you, when you open the door

and then...
Kissing you.

Next...
There is you in my deepest heart.

"This is so suprising me...thank you very much...theres no word can tell my happiness...o wait, and i have something for you...please sit down"

While i am sitting down,
He is whispering on my left ear from my back...

I love you everyday, not only on valentines day

Kukuk kukuk...
Its twelve o'clock

"Okay Mr Nice Man, i have to go...i have back to my castle, back to my normal life...

and waiting you knocking on my castle door..."

"One day...

One day, i will knocking on your castle door..."














Because...Cinderella never left a pair of shoes, she left one of her shoe...








Senin, 02 Februari 2015

Cup of tea (part 6)

Hey you...

Yess you are...

Saya ingin kamu lihat,
Saya sudah mewarnai hampir semua kehidupan saya...
Seperti yang kamu bilang
Kamu menemani saya hingga semua ini berwarna
Kamu menepati janji, 
Menemani hingga mengajari saya memberikan warna yang tepat...
Dan kamu berhasil.

Hingga saya lupa, 
Terlalu senang dengan warna-warni ini
Saya lupa...
Kamu selalu kembali ke ruanganmu
sekadar memberi warna untuk ruangmu...kotak-kotakmu...
Saya tenggelam dengan warna-warni ini
Hingga saya merindukanmu mengajari saya mewarnai apapun...

Saya butuh kamu...
Untuk terus mengajari saya warna warna

Lantas,
Saya memutuskan untuk sedikit melihat ruanganmu, berbelok dan menyusuri jalan menuju ruangmu...

Kamu...disana
Di depan pintu ruangmu yang terbuka
Hanya diam berdiri memandangi ruangmu...

Saya mendekat,
Tak ada warna warna disana
Apapun...
Abu-abu
Usang...

Dimana?
Dimana warna warna itu?
Dimana kotak-kotakmu?
Dimana....

Saya tidak berani lebih dekat
Kamu bediri tanpa sadar saya di belakangmu...

Saya tak lagi lihat warna-warna di sisimu
Saya tak lagi lihat keajaibanmu memberikan warna...

Apa yang kamu rahasiakan?

Ingatkah kamu,
Kamu membentuk sebuah ruang, entah di sudut yang sejauh apa...
Ruang yang masih berlapis semen, 
abu-abu
Yang pasti ruang itu untuk kita warnai berdua...

Saya sudah mewarnai yang saya miliki
Tapi...
Kamu justru berhenti mewarnai
Hanya abu-abi dan hitam.

Hey you...
Masih mau kah kamu menuju ruang abu-abu yang kamu ciptakan, dan kita warnai sesuai mau kita?

Atau...
Kamu ingin saya membantu memoles warna untuk ruangmu, sesuai keinginanmu?

Masih kah kamu memanggil saya...
Bantuan.

Siapapun yang membaca ini
Saya ingin semua orang tau...
Hidup saya berwarna karena kamu ajari saya...

Tapi...
Saya masih merahasiakan, sesuai permintaanmu...
Bahwa kamu punya ruang warna dan saya pernah membantu memberikan warna
Pertama kali saya memberikan warna...
Di ruangmu.

Saya ingin semua orang tahu
Saya ingin siapapun apapun, memberitahumu tentang ini...






























Sincerely
Bantuan

Selasa, 27 Januari 2015

White Tea Jasmine (part 4)

-euros-

If you said,
You can colorised every detail of my life...
So, i want do the same.
Until years and years come, 
Can we colorised our life...together??

Jangan lagi menangis ziva...
Hidupmu terlalu berharga untuk menangisi sesuatu. Kamu terlalu kuat untuk terlihat lemah.

Respon awal saat saya melihatnya begitu lemah dan pucat adalah memeluknya, tapi menjadi sebuah kesalahan saya rasanya, karena dia semakin menangis...

Maaf...
Saya hanya ingin menenangkannya,  bukan malah membuatnya semakin sedih..bodohnya saya!!

Tak ada yang bisa saya lakukan saat melihatnya menangis, melihat orang yang begitu saya sayang tanpa suara duduk di samping saya, terdiam dan terisak nyaris 3 jam.

Saya hanya membiarkannya menangis, menikmati rasa yang saya kurang mengerti seperti apa.

Ziva,
I want let you know
This is my hand, if you want to hold on,
This is my shoulder, if you want to cry on,
This is me, if you want to hang on...

Saya tidak keberatan kok.

Saya berharap untuk bisa mengurangi semua rasa yang membuatnya menangis,
Saya ingin melakukan apapun, asal dia tidak terlihat selemah ini...

Di saat kami yang duduk bersebelahan ini terdiam, hanya memandang hamparan gunung yang berbaris di selimuti kabut tipis...

Pikiran saya pun melayang,
Beberapa hari lalu, saya meyakini diri bahwa hati ini telah begitu terpaut, begitu bergantung padanya...rasa ini kuat, semakin kuat, setiap saya menolak atau menghindarinya justru malah semakin dalam.

"Tenang zi, gw akan cari cara supaya bisa mengatasi perasaan gw sm lu nih...lu tenang aja ya, ini ga akan merubah apapun, sesuai sama yang pernah lu bilang..."

Saya mengucapkan ini setelah bilang jujur kalau saya sayang sama dia...

Tetapi,
Justru saya merasa ingkar, karena setiap saya cari cara untuk sekadar menghapus nya, rasa ini malah semakin menggila. Setiap hari saya ungkapkan rasa ini, secara langsung ataupun via whatsapp, pokoknya saya ingin dia tahu setiap hari kalau saya semakin sayang...

Dan tak pernah menemukan cara untuk menghilangkannya.

Saya takut ziva,
Takut rasa sakitnya, dan takut sosok kamu yang menghilang.

Malam itu,
Saya menjemputnya dari lokasi meetingnya bersama klien di bilangan Jakarta Timur. saat itu saya memberanikan diri untuk menjemputnya kesana, karena ia meeting dengan klien sendirian, lalu pulang pun berencana menggunakan taksi, dengan keberanian seorang pria yang tidak tega membiarkan perempuan yang disayang menempuh perjalanan malam seorang diri, saya pun menawarkan diri menjemput dan mengantarnya pulang. Seperti biasa, ia menolaknya. 

Pasir yang kita genggam terus menerus, akan lepas secara perlahan.
Karena ia menolak, sayapun tidak memaksanya..

Tetapi entah kenapa, dia mengiyakan tawaran saya. Senang rasanya.

Malam saat saya menjemputnya, ia terlihat lelah, ternyata ia benar-benar kelelahan.

"Are you okay zi?"

Dia hanya mengangguk

"Kasihan..."

Ungkap saya sambil mengusap rambutnya, dan melajukan kendaraan di jalan yang sudah lengang.

Saya mengajaknya mampir ke sebuah kedai, hanya ingin ia menghangatkan diri dengan secangkir teh poci panas.

Kedai ini tidak terlalu besar, letaknya di pinggir jalan, dan lumayan ramai untuk kedai yang aktif sejak sore hingga pagi menjelang, menu yang disediakan pun lumayan banyak, beragam mie instan dengan varian rasa, beragam jenis kopi tubruk hingga instan, roti dan pisang bakar berembel-embel cokelat bahkan keju, serta goreng-gorengan.

Kami memesan, 2 teh poci dan pisang bakar coklat. Saya melahap pisang bakar cokelat, tetapi ia terlihat lemas sekali dengan sesekali menuang teh poci ke gelas kecil terbuat dari tanah liat, lantas menyesapnya perlahan.

"Capek banget ya kamu zi?"

"Iyaa...masih banyak juga pe-er-nya..."

"Sabar yaa..."

"Iyaa...nanti juga selesai"
Dan ia tersenyum, seperi biasa, berusaha tersenyum dengan pekerjaan yang lumayan banyak, terlalu banyak menurut saya.

"Ehh iyaa...by the way, makasi yaa...udah dijemput jauh-jauh gini, mau dianter pulang, ditraktir lagi nihh...hehe makasi banyak ya ros..."

"Anytime zi..."

Lalu kami mulai bercerita banyak, dan terselip tawa, hingga kami benar-benar tertawa dan ia melupakan kelelahannya malam ini.

Sampai akhirnya, saya harus mengantarnya pulang.

Sweet memory start here.
Tak ingin melepaskan malam ini, kami terus bercerita sampai masuk ke dalam mobil, sampai sudah tak ada yang perlu diceritakan, hanya tawa yang tersisa...
Dan mata kami saling menatap.

Hening sesaat,
Jantung saya berdegup, ingin mengukir sesuatu, menggambarkan semua perasaan saya malam ini...

Tawa meninggalkan selapis senyuman di bibirnya, tangan pun meraih dagunya, dengan satu tarikan nafas saya mendekati wajahnya, terkecup.

Sedetik kemudian, ia membalasnya, lantas bibir ini saling bertaut...manis.

Tanpa sadar, saya tersenyum mengingat kejadian beberapa hari lalu, sejak hari itu perasaan ini semakin tidak karuan.

Ia sudah tidak lagi menangis,
Hanya suara senggukan yang tertinggal,
Tapi masih tetap terdiam.

"Zi...kamu lapar nggak"

Ia mengangguk

"Kita cari makan yuk...kamu mau makan apa?"

"Apa aja deh..."

"Ya udah...kita cari sambil jalan ya"

Ia mengangguk dan berjalan menuju mobil, saya menggandengnya.

***

Kami mampir di sebuah restoran sunda, memesan beberapa menu dengan ikan bakar yang terlihat lezat di buku menu.

Ia makan dengan lahap, sambil sesekali menertawai saya, yang lucu katanya, tak apa saya terlihat lucu atau konyol, yang penting, kamu tertawa.

Selesai manghabiskan makanan siang menjelang sore itu, ia mulai bercerita.

Saya mendengarkan, hingga habis minuman kami, dan kami kembali memesan 2 gelas teh tarik.

Speechless dengan ceritanya,
Bingung untuk berkomentar, dia hebat dengan menjalankan semua persiapan sendirian, sedangkan pasangannya sibuk  di pulau seberang, tetapi dia yakin semua akan berjalan sesuai rencana. Menjalankan sebuah hubungan jarak jauh, jarang bertemu, susah berkomunikasi, wajar saja banyak letupan-letupan. Tapi dia selalu mengatakan, semua baik-baik saja, kalaupun ada masalah pasti nantinya selesai...dan kembali baik.

Ya,
Semua akan baik-baik saja zi...

11 hari lagi kamu dilamar,
29 hari lagi saya naik pelaminan.

Kepala ini terasa berat, ingin menunduk saja rasanya, jantung pun terasa mencelos entah kemana, sedangkan hati ini menari-nari kegirangan, perasaan ini ingin selalu dimenangkan, dan memang akhirnya menang. 
Siapa yang patut disalahkan, apa yang harus di salahkan.

Jangan pernah merasa salah, karena ini memang salah
Jangan pernah merasa menyesal, karena tidak ada yang harus disesalkan...

Perasaan ini tidak salah, dan perasaan ini tidak layak buat disesalkan. 
Simpan saja!!!

***

Kalau kamu diminta untuk berkata jujur,
Kamu akan bilang apa?

pertanyaan yang selalu berputar-putar di kepala saya, pertama kali menerima pertanyaan ini, saya jawab kalau saya sayang sama dia, janji mencari cara untuk menghilangkan perasaan ini, tapi tidak hilang juga.

Saya tidak bisa.

Saya mematikan batang rokok yang belum juga pendek, duduk merasakan angin malam di teras.

Akhirnya, saya menahan berat kepala ini dengan 2 telapak tangan, menutup mata, mencoba bangkit dan berharap ini hanya mimpi, perasaan saya dengannya ini hanya goresan cerita mimpi yang indah, bahkan kedua tangan ini tak sanggup menopang beratnya kepala dengan pikiran yang berputar-putar, banyak.

Inhale...exhale.
Semua akan baik-baik saja.

Saya cuma ingin jujur zi...
Sebelum kamu bertanya lagi,

Dengan pikiran yang liar malam ini,
Jujur...
Saya ingin terus ada disampingmu,
Tertawa setiap hari,
Menggandeng tanganmu,
Memelukmu saat kamu sedih,
Memenuhi semua kebutuhanmu,
Menjadi orang yang selalu kamu butuhkan,
Bikin kamu bahagia...









Saya ingin memiliki kamu seutuhnya zi...



Can we colorised our life...together?

***

Cup of tea (part 5)

-ziva-

Ruang Warna



Hai bantuan, 
sudah seberapakah kamu mewarnai jalanmu yang gelap kelabu?

Aku masih ada di belakangmu,
Melihatmu memberikan warna,
Masih dengan kuas yang kecil.

Bantuan,
Kamu melangkah terlalu jauh dari awal aku mengajakmu berbelok

Tapi tenang,
Aku mencoba menghafal jalannya,
Aku selalu menoleh ke belakang
Dan mengukur, sudah seberapa jauhkah ini...

Terkadang,
Kamu lupa mewarnai jalanmu bantuan,
Membuatku sulit mengingat jalannya...

Bantuan,
Bolehkah aku kembali ke ruangku sejenak?

Kamu diam,
Kamu menggeleng.

Tapi aku harus kembali.
Aku janji, akan menyusul jalanmu.
Aku pasti menemukanmu bantuan.

Tapi,
Ternyata...

Kamu mengikutiku setiap aku kembali.

Maaf...
Aku tidak bisa membiarkanmu masuk ke ruangku...

Aku tengok jendela warnaku,
Kamu ada disana, membelakangi pintu ruangku...
Sesekali menoleh ke pintuku.

Bantuan,
Berharap aku bukakah pintu ini untukmu?

Panas,
Hujan,
Saat kamu benar-benar kedinginan, kamu masih disana bantuan.

Kenapa,
Kamu biarkan bola karet biru di dalam kotak serat kayu birumu terus berlonjak-lonjak?

Aku buka ya pintu ruang ini
Dan persilahkan kamu masuk,

Tapi sebelumnya,
Biarkan aku bercerita tentang ruang ini.

This is my room,
Dengan banyak kotak-kotak memori berwarna-warni...

Tiap kisah yang aku simpan selalu memiliki warna yang berbeda,

Barisan paling depan,
Adalah kotak-kotak dengan memori terbaru, dengan warna yang masih segar terlihat

Jika kamu perhatikan,
Di barisan paling belakang kotak-kotak ini berwarna kelabu, dan semakin lama menghitam,

Itu kotak-kotak yang tidak pernah aku sentuh, mereka berdebu.

Sedangkan ruangannya sendiri, 
Belum memiliki warna...

Bantuan,
Mari silahkan masuk,
Saya ceritakan tentang warna ruang ini...

Kanan kiri ruangan ini perspektif panjang sekali, dindingnya dingin berlapis semen

Iya..
Belum aku beri warna.

Bantuan,
Maukah kita bermain?

Bermain memberikan warna pada ruang ini...

Aku ingin memberi warna dinding ini biru terang, warna kesukaanmu...

Lalu,
Kamu harus memberi warna selain warna biru...

Kamu memulainya,
Dengan warna merah.

Setiap langkah,
Sentuhan, di ruang ini,
Menghasilkan warna.

Setiap gerakanmu menghasilkan warna.

Sekarang ruang ini berwarna.

Sassttt...
Bantuan,
Jangan katakan pada siapapun, saya punya ruangan ini,

Ssssttt...
Bantuan,
Jangan biarkan orang lain tahu,
Kamu mewarnai ruangku...

***


Sabtu, 24 Januari 2015

Cup of tea (part 4)

-ziva-

Tuhan menciptakan langit dan bumi dengan sederhana. Dan sesederhana itu juga aku bilang ke kamu kalau aku suka. Suka sama semua kelebihan dan kekurangan yang kamu punya. Dan suka cara kamu meminum teh dan menyisakannya untukku.

-anugerah secangkir teh-

sesederhana kamu bilang sayang sama aku.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Tapi aku memilih untuk berpikir simple, 
Atau setidaknya memilih untuk jujur.

Jujur pada diriku sendiri.
Seperti yang selalu kamu bilang.

Kaget?
Ya...pasti aku kaget begitu kamu mengucapkan kata sayang,
Hellooo...ini lebih dari kata naksir loh,
Do you know that?

Awalnya aku berpikir, kalau cuma naksir yaa...rasa itu masih bisa di simpan, dalam hati. Tapi kalau sayang, itu sudah ada lebih dalam dari sekadar naksir.

Malam ini, malam yang ke sekian kalinya kamu mengajakku melihat bintang lagi, lalu kita mengobrol tentang banyak hal seperti biasa.

Satu hal yang ga pernah kita bahas,
Kondisi...

Ya...kondisi tentang hal-hal yang pribadi sekali.

Tentang,
Kamu dengannya,
Aku dengannya.

Yang ada cuma, 
Aku dan kamu, dan sesuatu atau bahkan semua hal yang mereka, orang-orang yang seharusnya dekat dan paling tahu tentang kita, justru kita yang saling lebih tahu, dan mengerti dibanding mereka.
Sesuatu hal yang mereka tidak tahu, tapi kita saling tahu.

Kamu ingin aku tahu,
Aku ingin kamu tahu,
Thats it, thats us.

Dia merasa begini juga ga ya...

Setiap hari, aplikasi whatsapp-ku selalu ada kata...
"Love u Ziva😘😘"

Setiap hari.

Dia mengirimkan ini setiap hari, 
Tanpa aku balas.

Duh Gusti...
Aku nggak berani lebih dalam, tapi ga bisa bohong, ada rasa aneh yang terus menari-nari, inikah istilah...

'Butterfly in my stomach'



***

"Eros..."

"ya..."

"Nama lu tuh bagus ya?"

"Hah? Emang tahu arti nama gw"

"Nama lu itu kan sebenernya Euros..."
Lantas saya mengeja kelima huruf namanya

E...U...R...O...S

"seharusnya pengucapannya yuros, tapi kenapa ya orang-orang manggilnya eros?"
Tanyaku.

"Namanya juga lidah orang Indonesia zi, biar gampang aja, yuros tuh terlalu kebarat-baratan ga sihh...secara muka gw ga bule-bule banget haha..."

"Iyaa...ga cocok, muka lu kayak mas-mas..."

Hahahhaa...

Saya suka dengan arti namanya,
Euros itu adalah salah satu dewa angin di mitologi yunani, ada 4 dewa angin yang diceritakan, sesuai dengan arah mata angin, euros adalah dewa angin timur yang diasosiasikan dengan musim gugur dan hujan, simbolnya adalah vas terbalik yang berarti kucuran air.

Dia memiliki 2 unsur kehidupan dalam namanya, air dan angin. Bagus ya...

"Lu tahu dari mana arti nama gw itu zi"
Tanyanya setelah aku menceritakan hasil browsingan namanya di google

"Dari google lah, gw suka cerita-cerita tentang mitologi dewa dewi yunani, bagus taukk...pas lagi browsing nama dewa apaa gitu, eh ada nama lu hihihii..."

"Terus..."

"Terus apa..."

"Ooo...ga ada lagi ya, kirain jadi jatuh hati gitu sama gw...hahah"

"Iiisshhh...pedee luu..."

Iya...
Aku sudah mulai jatuh hati ros.

Jatuh hati sama kamu.

***

Will you cater to every fantasy I got?
Will you hose me down with holy water, if I get too hot?
Will you take me places I've never known?

After a while you'll forget everything
It was a brief interlude and a midsummer night's fling
And you'll see that it's time to move on

I'd do anything for love-Meat Loaf

Aku membaca jadwal penerbangan yang terpampang di dekat pintu kedatangan.

Just landed.

Tung

Message whatsappku berbunyi

"I just landed, saya ambil bagasi dulu ya...miss you so bad zi😘😘"

Tanpa senyum,
Tanpa ekspresi begitu aku membaca pesan ini, dan menutup ponsel tanpa membalas.

Message dari Dion, adalah sesuatu yang selalu aku tunggu setiap saat, sedikit saja tanda whatsapp berbunyi, aku langsung yakin itu message darinya, lantas aku langsung meraihnya dan selalu membalasnya dengan ceria. Tapi kini, ada rasa yang menutupi itu.

Ada sesuatu yang aneh,
Rasanya ia datang dengan terpaksa, setelah aku memintanya dengan paksa untuk memastikan tanggal lamaran, begitu dia bilang pasti dengan tanggalnya, aku langsung memesan tiket agar dia berangkat ke Jakarta, aku ga mau lagi batal hanya karena tidak dapat tiket yang ia pesan secara mendadak bahkan membelinya langsung di bandara untuk penerbangan saat itu juga. Ia dapat cuti selama 2 minggu di Jakarta, ini berarti 14 hari dari hari ini, dan tanggal lamaranku 12 hari lagi, 2 hari kemudian dia harus kembali dengan kesibukannya.

Tak apa, setidaknya ia sudah disini, dan lamaran pasti akan berjalan sesuai rencana.

Aku melihatnya di pintu kaca, ia berjalan dengan begitu gagahnya, kaos berkerah marun yang simple dengan padanan blue jeans pekat, dan topi hitam serta kacamata hitamnya, menyeret kopernya dengan tangan kanan dan ponsel yang ditempelkan di telinga sebelah kirinya, siapa yang tidak terpesona dengan penampilannya, kulit putih bersih, rentetan gigi yang rapi saat ia tersenyum, dan suara khas nya yang berat, ini salah satu yang membuat aku tertarik dengannya sejak duduk di bangku kuliah semester awal, dan dia adalah senior yang sempat mengospekku, padahal beda jurusan...dan kami baru resmi jadian saat ia telah lulus kuliah dan aku sedang menyusun skripsi saat itu. Salah satu sosok yang digemari banyak perempuan di kampus, gonta ganti pasangan, tetapi awet pacaran 5 tahun denganku dan kini sukses di tanah borneo, dalam waktu yang begitu singkat setelah ia lulus dari kuliahnya. Siapa yang makin ga tergila-gila dengan sosoknya, yang bahkan akan melamar si itik buruk rupa macam aku ini...semua orang tertawa pastinya.

"Haii honey...are you missing me?"

Dia memelukku seperti biasa. Masih dengan ponsel yang tertempel di telinganya, aku menunggunya hingga selesai dengan percakapannya itu.

"Hold on...hold on, wait a moment please..."
Ia menghentikan percakapannya, tapi tidak menyudahinya.

"Zi, kamu kok bengong aja, mobilnya kamu parkir dimana...yuk sekalian kita jalan kesana aja..."

Aku hanya mengangguk dan berjalan di depannya menuju tempatku memarkir mobil.

Sesampainya di mobil, ia masih sibuk dengan ponselnya, lantas aku duduk di kursi kemudi, setelah ia masuk ke dalam mobil, aku nyalakan mesin tanpa basa basi.

Di tengah perjalanan, ia merubah rencana.
"Zi, kita mampir ke kantor pusat ku dulu ya...sebentar aja kok taro berkas, abis itu baru ke apartemen aku...boleh ya honey?"

Aku hanya berdeham sambil mengangguk, dan berbelok ke arah sudirman.

Aku pikir sebentar itu, hanya meletakkan berkas lantas langsung kembali ke mobil dan beranjak ke apartemennya, because he promised me, we have a little dinner this night.

Ternyata lama, dan langit mulai gelap, bukan mulai gelap, tapi...sudah gelap, dan aku masih di dalam mobil menunggunya.

Begitu lama akhirnya ia muncul, membuka pintu dan aku menutup buku yang sedang aku baca, lalu tancap gas.

"Maaf yaa zi...tadi aku ketemu bos aku, dia tau aku ke Jakarta hari ini, jadi besok dia ajak aku dinner sama klien-klien yang di Jakarta..."

Dia terhenti,

"Ehh iya...kita kapan ya mau dinner zi?"

Aku hanya meliriknya,

"This night.."
Jawabku singkat

Dia menepok jidatnya,
"Aduhh...aku lupa, maaf ya..tapi kemaleman kayaknya ya..."

Aku melambungkan pikiranku entah kemana, yang pasti tidak disampingnya yang sedang berceloteh, entah tentang apa...telingaku tidak mampu menangkap suara-suara rasanya.

Sesampainya di apartemen, ia meletakkan kopernya dan langsung menuju kamarnya, lantas terlelap.

Aku pun melangkahkan kaki keluar apartemen, menuju parkiran mobil, menyalakan mesin, dan berharap ini adalah mesih waktu, aku ingin kembali ke saat-saat aku menjadi ceria.

Entah mau kemana ini,
Aku butuh teh...

Aku butuh sendiri,
Aku butuh tenang,

Dan terlelap hingga matahari membangunkanku dengan paksa.


***

Tung...

"Happy sunday ziva..."
Message whatsapp yang membuatku mendapatkan sedikit suntikan energi,

Eros.

Aku membuka dan membacanya, bingung harus membalas apa, berkata jujurkah, berceritakah...atau apa?

"I need a little power..."
Entah kenapa aku ingin sekali mengetik kata-kata ini.

"Ziva, are u okay?"

"I need someone to hang on..."
Balasku, entah aku mau bilang apa sama eros, hanya bisa mengetik kata-kata ini, yang ada di hati dan pikiranku saat ini.

Aku menutup aplikasi whatsapp-ku

Lantas kembali online, banyak message dari eros, dia kuatir denganku...

"Ziva, let me know, what happen to you?" (10:56)

"Ziva.." (10:59)

"Hellooo...ziva..." (11:11)

"Dont make me worry please...answer me" (11:25)

"Ziva...i know you are online..."

Lalu aku menjawabnya dengan kebingungan.

"So sorry, i cant tell you here..."

"Okay, i will pick you up...for an hour, is it okay?"

"Yess..."
Jawabku singkat

"Let me drawning in my pillow for 5 minutes"
Lanjutku.

"Take your time, and wait for me..."

Aku menangis,
Tenggelam dengan pikiranku diatas bantal kesayanganku.

***




Selasa, 20 Januari 2015

White Tea Jasmine (part 3)

-euros-

if i could give you one thing, i would give you the ability to see yourself through my eyes, only then would you realize how special you are to me...

Yess...kamu spesial!

Iyaa...saya memang ambil jaket itu buat kamu zi..khusus buat kamu.

Kenapa harus bohong yaa...

Aneh...perasaan ini aneh, 
Ada rasa kuatir hanya karena dia kedinginan, kuatir dia kurang konsentrasi sama meetingnya yang panjang dan banyak.

Lebih aneh lagi, kenapa saya harus bohong, apa saya juga harus jujur tentang apa yang saya rasakan ke dia?
Kalo saya bilang jujur, dia akan berpikir apa ya? Kemungkinan terbesar saya di gampar...hehe

Saya tersenyum sambil membayangkan wajahnya yang silly, and then i call her my silly face...setidaknya panggilan saya khusus buat dia, mungkin kalau dia tahu saya punya panggilan ini untuknya, benar-benar di gampar rasanya...

Saya pun tertawa memikirkan ini.

Seperti hari-hari sebelumnya, saya mengajaknya untuk sekadar bersama pergi ke kantor, menjemputnya di halte depan gang rumahnya, sekalian keluar tol berputar sedikit dan saya menemukan perempuan yang membuat saya selalu rindu setiap hari, membuat saya melupakan urusan saya, pekerjaan saya, bahkan diri saya sendiri, berlebihan ya...dan ia sudah berdiri manis di halte dengan beberapa orang di kanan kirinya...

Ini yang saya suka darinya, begitu melihat mobil saya berhenti di depannya, ia akan melangkah sembari tersenyum, ceria, dan saya merekam keceriaannya di balik kacamata hitam yang saya gunakan.

Membuka pintu sisi sebelah kiri, duduk manis, meletakkan tas diatas pangkuannya, melepaskan earphone dari telinganya, menyimpan ponsel ke dalam tasnya...lantas menegur saya.

This is, every detail of what her done everyday when i saw her comes in to my car. If you know...i love everything what you do!!

"Haii eros...apa kabar?"

Dia tersenyum, saya membalasnya dan menunggu celotehannya.

"Alhamdulillahh...ceria banget hari ini"

"Setiap hariii dongg..."

Nyengir,
Ya dia nyengir,
Ini dia silly face yang saya maksud.

Kami terdiam,
Saya mencari-cari sesuatu yang bisa jadi bahasan kami untuk mengisi kemacetan yang padahal sebentar lagi sampai kantor.

"Ehh eros..."

Dia duluan yang membuka obrolan 

"Ya..."

"Gw mau nanya deh..."

Saya menunggu pertanyaannya, tapi kenapa jantung ini deg-degan ya...

"Ada yang aneh deh, waktu lu ambilin jaket tempo hari buat gw, ituuu...emang sengaja buat gw, atooo..."

Jleb!!!
Iniii tandanyaa...dia ingin membahasnya
Oke...pilih kata-kata.

Saya menjawab sambil garuk-garuk kepala, mungkin ia melihat groginya saya...saya memilih untuk jujur sama diri saya sendiri, jadi saya akan jawab jujur, setidaknya menjelaskan dengan jujur.

"Yaaa...iyaa...itu emang saya ambilin khusus buat kamu"

Dia diam.

Saya perhatikan wajahnya dengan ekor mata saya, kok diem aja ya.

"Hahaha...gokil ngebela-belain ke parkiran buat ambil jaket, demi gw...isshhh baeekk bangett, makasii lohh"

Ehh...tanggapan antusias yang aneh, ini kah yang ada di pikirannya.

Ia menutupi sesuatu.
Tapi, ya sudahlah.

Obrolan berlanjut, ia bercerita tentang kegiatannya sehari-hari di rumah sebelum berangkat kantor, keribetannya dengan meeting-meeting kantor, terkadang pulang larut malam, pagi harus sudah ada di kantor lagi, ini pun saya beruntung bisa mengajaknya berangkat bareng. Terkadang, konyolnya, karena ingin mendapatkan pagi dengannya, saya mempercepat jam keberangkatan saya, biar sama dengan waktunya berangkat, hanya sekadar melepas rindu yang ia tak pernah tahu.

"Nanti malem, pulang jam berapa?"

"Asiiikk...mau ngajak ngedate ya?"
Sambil tersenyum mengejek.

"Hahaha...ngedate bukan ya namanya..."

"Ajak yang romantis doong kata-katanyaa..."

Hah...romantis, gimana caranya, saya bukan orang romantis, ehh...kok dia bikin saya GR gini yaa. 
Ok, saya coba.

"Mmmhh...ziva, saya ingin ajak kamu liat bintang malam ini, berkenankah dengan ajakan saya?"

Dia mengulum senyum sambil tertunduk. She is blushing. 

Dan, saya ga percaya diri dengan kata-kata yang saya ucapkan, terdengar konyol, ditambah dia diam saja.

"Saya berkenan..."
Jawabnya tiba-tiba.

Saya tersenyum.

Sesuatu yang manis mengumpat dalam diri kami.

***

Tung

Whatsapp message saya bunyi, dan tertulis namanya.

"Eros...kalo malam ini nge-date-nya pending dulu gimana?"

"Ehh...iyaa ga apa zi, kamu masih ribet ya?"

"Gw belum selesai nih meetingnya...lama deh"

"Iyaa ga apa, kita reschedule aja ya..take your time zi"

"Maaf ya..."

Tarik nafas.
3 jam menunggu,
5 jam yang lalu menyelesaikan pekerjaan dengan maksud, tanpa beban pekerjaan saat bersamanya.

Harus batal, its okay lah.

Hati ini sulit berkompromi hanya karena ia membatalkan janji malam ini, kok ada rasa kecewa ya...

sengaja melewati ruangnya bekerja, hanya ingin melihat sedikit sosoknya. beberapa orang di dalam ruangan ukuran 4x4 tersebut, dengan meja panjang, proyektor dan beberapa gelas air putih dan teh, serta makanan yang biasa diorder saat meeting. Saya menangkap sosoknya baru duduk dengan sebuah kertas di tangannya, lantas seorang pria mendekatinya, saya tidak kenal pastinya, langkah pun terhenti, hanya ingin memperhatikan si pria di sampingnya, dengan kepala sedikit menjulur untuk mengintip, si pria nyaris memeluknya dari belakang, dan ekspresi mereka yang saling tertawa, saya pun melangkahkan kaki dengan cepat ke ruang kerja saya.

Kenapa saya?
Ada apa dengan sosok pria itu, jangan-jangan dia suka juga sama ziva.

Kalaupun iya, kenapa memangnya?
Tapi, hati ini tidak rela rasanya.

Jealous-kah saya?

Besar. 
Rasa ini membesar.

***

Segala keribetan dimulai hari ini, dari mulai katering yang ternyata salah menu, undangan yang harusnya sudah jadi ternyata ganti tema, sampai ukuran pakaian pendamping, dan pakaian pagar ayu yang salah warna...

Oke...ini urusan perempuan, saya hanya bertugas jadi sopir.

Sembari menunggu, tangan ini bolak balik buka aplikasi whatsapp, berharap dia online, hanya sekadar ingin bertanya,  lagi apa ya dia? Lagi pake baju apa? Kangen ga ya sama saya...
Ya...saya kangen celotehnya.

"Haiii eroooss..."

Ehh dia negur duluan, senang banget ya rasanya...tanpa membiarkannya menunggu lama, saya pun langsung membalasnya

"Haiii zi...baru mau saya tegur, kamu lagi apa? Kangen ya sama saya...hahah"

Centang satu

Centang dua

Tung

"😊😊"

Hah? Cuma itu...
Cuma itu jawabannya, apa ini ya artinya, ingin mengartikan bahwa dia juga kangen sama saya sepertinya, ehh kok pede banget yaa...apapun itulah, yang jelas saya bisa chattingan sm dia.

"Ziva..."

"Yess..."

"Besok malam, masih berkenankah liat bintang sama saya?"

Centang langsung dua
Its means, she reads it

No answer.

Still online.

Ahhhh...hati ini begitu deg-degan hanya menunggu jawabannya.

Lama.

"EROS..."

Suara seorang wanita memanggil dengan keras dari arah fitting room. Saya menoleh kaget ke arahnya, sembari menutup aplikasi whatsapp, and left the chat.

"Aku manggil kamu dari tadi, sibuk banget sih sama ponselnya, emang bisa fitting baju sambil liat ponsel begitu.."

Bla bla bla...

"Nih liat, kegedean ya kayaknya, payetnya juga kurang banyak di bagian dada...gimana menurut kamu ros?"

Tanyanya sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin, dia cantik, sangat cantik, apalagi dengan kebaya untuk akad nikah kami nanti yang sedang ia gunakan sekarang.

"Kebayanya cantik...kamu juga cantik kok"

"Aku kan nanya ini kegedean yaa kebayanya, jawabannya cuma cantik..."

Ehh...salah ya jawaban saya,
Saya ga paham sebenernya sama kebaya yang kebesaran atau apalah itu, yang saya tahu cuma, dia itu cantik.

"EROSS...kamu sering bengong deh sekarang...ayo dongg waktu kita kan ga banyak nih buat nyiapin ini ituu..."
Celotehnya menggerutu.

"Biasa mbaak, laki-laki emang gitu, grogi udah mau lepas bujang hehe...banyak yang dipikirin jadinya ya mass..."
Ledek seseorang, entah siapa, yang sedang membantu calon saya itu mengenakan kebaya.

"Mas-nya, daripada bengong, mendingan fitting juga yuk beskapnya...ga seribet kebaya kok mas...yuk monggo mas"

Saya pun melangkah dengan gontai mengikuti si mbak-mbak yang meminta saya untuk fitting.

Sembari menuju ruang fitting, saya masih menyemptkan diri menengok aplikasi whatsapp, berharap ada balasan.

Tung

"Iya masih berkenan kok, besok malam ya...see you tomorrow eros😘😘"

Ehh...double happy, double power.
Pertama, dia masih berkenan dengan ajakan saya.
Kedua, dia kasih emoticon kiss, aahh makin ga karuan rasanya, yang pasti rasanya senang, tetiba fitting beskap ini menyenangkan.

Tak sabar menunggu besok, ingin memutar waktu jadi lebih cepat rasanya, tapi sekarang, disini, waktu berjalan begitu lamban.

***

"Did i ever say that i love you?"
"No"
"I love you"
"Still?"
"Always"

Waktu yang ditunggu pun akhirnya tiba, dia sudah duduk manis di sisi kiri saya, seperti biasa, bercerita lebih banyak. 

If you know, i miss you badly.

"By the way, ini mau kemana ya? Hahah...sorry ya gw cerita ngalor ngidul ga jelas gitu...hehe"

"Ehh ga apa, gw dengerin kok..."

"Jadi, kita mau kemana?"

"Gw ada tempat yang oke banget, menurut gw lu akan suka, tapi gw ga tau ya, lu udah pernah kesana atau belum..."

"Tempat apa?"

Aduh...mau jadi surprise sebenernya, tapi ga bisa kayaknya...tahan!

"Kok lu diem...tempat mesum ya?"
Tebaknya sambil memicingkan matanya dengan jail...

Saya pun tertawa dengan ekspresinya.

"Hahahaha...silly face"

"Apaaa...silly face?"

Ehhh aduhh...keceplosan saya, digampar deh ini..

"Panggilan buat gw, kok silly face, is my face that silly?"

"Ga...maksud gw, silly-nya tuh lucu, lu suka ada ekpresi yang gw ga duga gitu, lucu banget...maaf ya, gw bilangnya silly face..."

Dia manyun,
Hahaha...makin lucu mukanya.

"Okay...thats okay, i have a silly face...lucu juga..."

Ini dia tanggapan yang saya kira dia akan marah dengan panggilan itu, ternyata dia bilang lucu...dan dia ga marah, dan saya ga di gampar.

Hahahaaa...

***


Saya mengajaknya ke sebuah tempat penikmat dan penggila teh di bilangan Jakarta Selatan. sebagai seorang pecinta teh, seharusnya dia pernah kesini, jadi ga surprise kalo ternyata dia sering kesini, tapi ga apa, yang penting malam ini bisa bareng sama dia.

"Waduh..."
Teriaknya.

"Ehh kenapa?"

"Gw sama sekali ga tau loh kalo ada tempat khusus teh gini di daerah sini...kok lu bisa tau?"

"Browsing..."

And she is so surprised.
I did it.

"Masuk yuk..."
Saya mengajaknya masuk.

Dan dia memperhatikan setiap detil design tempat ini, sesekali menyentuhnya dan bergumam takjub. Tempat bernuansa vintage ini terasa homy. dengan kaca oval besar beraksen list ukiran berwarna putih, sisi seberang kaca ini adalah sebuah ruangan dengan nuansa ruang tamu, almari buku yang besar, meja dan sofa yang tampak nyaman, dan terlihat lebih private.

"Kita disini aja yuk ros...seru deh ini"

Kami pun memasuki ruangan itu, tetapi tak lama kami keluar lagi, setelah membaca sebuah tulisan di atas mejanya, minimum order Rp.400.000,
Memangnya kami mau pesan seberapa banyak teh dan cemilan.

"Kita pilih meja lain aja yuk..."
Ucapnya sambil menggandeng tangan saya di belakangnya menuju sebuah meja di pojok dengan tembok berwarna merah, 4 kursi yang menyerupai kursi baca, dan sebuah almari buku yang tidak terlalu besar, wajah saya memerah pasti, hanya karena ia menggandeng tangan saya dengan cepat, dan melepasnya begitu kami sampai di meja, mudah-mudahan dia ga liat.

Karena grogi, saya langsung memanggil pelayan untuk order, dan dia masih tertawa geli mengomentari tulisan di ruang tamu tadi, manis.

Pelayan pun datang, memberikan 2 buku menu.

Dia terlihat antusias karena ingin memesan semua teh itu katanya.

Dan banyak bertanya,

"Java tea ini apa ya mas?"
Tanyanya penasaran.

"Teh merah cenderung agak hitam, nanti akan kita berikan sirup gula terpisah mbak"

"Pahit banget ya? Kayak teh poci gitu ga rasanya?"

"Yang ini lebih pekat mbak..."

"Bukan celup kan ya?"

"Bukan mbak...kita sajikan semua pakai teko kok..."

Dan ia memesan java tea. Lalu melirik saya.

"Kalo white tea jasmine ini apa mas?"
Saya pun penasaran, ada teh warna putih, masa sihh...

"Ini teh putih mas...dilengkapi dengan aroma jasmine, ada bunga melatinya nanti di dalam cup-nya, kita kasih sirup gula juga"

"Kok bisa putih warnanya?" Tanya saya masih penasaran

"Iya mas, teh itu banyak warnanya, kalo teh putih ini dipetik saat masih kuncup, jadi dia warnanya putih..."

"Oke...saya pesan yang ini"

Kami mengobrol sedikit sebelum pelayan datang dengan orderan kami.

Tak lama,
Pelayan datang dengan orderan java tea miliknya, lalu nachos pesanannya.

Menyusul white tea pesanan saya,
Penampilannya cantik sekali, sebuah cangkir bening dengan jasmine didalamnya, saat pelayan menuangkan white tea dari teko, jasmine itu mengambang, dan warna tehnya benar-benar putih bening, dilengkapi dengan sirup gula, lucunya, sendok sirup gula ini seperti sendok madu yang digunakan winnie the pooh.

Dan ia memandangi cangkir bening white tea ini dengan sangat takjub.

"Lu mau tukeran...mau yang ini?"
Tanya saya.

"Ehh..nggak kok, suka aja sama warnanya...gelasnya cantik, boleh nyobain ga?"

"Boleh dongg..."

Dan kami menghabiskan malam itu dengan tertawa, banyak sekali tawa.

Saya baru sadar, teh itu warna-warni ya ternyata, seperti hidup kamu zi.

***

Tak terasa malam pun kian larut, tak ingin ini berakhir rasanya, waktu berjalan begitu cepat, jika saya bersamanya, tak bisakah bertambah beberapa jam lagi, tetapi wajahnya tak bisa bohong kalau dia sudah mengantuk, dan besok harus kembali bekerja.

Saya memutuskan untuk mengantarnya pulang sampai di depan rumahnya. Kali ini dia tak pernah menolak permintaan saya untuk mengantarnya pulang.

Ada rasa tak rela melepasnya saat ia turun dari mobil, ingin terus bersama rasanya, ingin memeluknya, konyol ya.

Saya pun melanjutkan perjalanan menuju rumah, ditemani lantunan lagu labrinth...

Would you let me
See beneath your beautifull
Would you let me
See beneath your perfect...

Take it off now girl
Take it off now girl
I wanna see inside

Would you let me
See beneath your beautifull
Tonight.

Lampu merah,
Saya membuka aplikasi whatsapp
Ada sesuatu yang mendorong saya untuk membiarkan dia tahu apa yang saya rasakan.

She is online.

"Love you ziva😘😘"

Mungkin saya terdengar playboy, terdengar murah dengan mengumbar kata-kata ini...tapi perasaan ini hanya ingin jujur, tak ingin lama-lama membohongi diri.

Setidaknya, dia tahu, saya menyayanginya setiap hari.

She is not replied.

But its okay.

Mungkin, ia akan menjauhi saya besok.
Setidaknya, saya tidur nyenyak tanpa ada yang mengganjal di hati.

Nite Ziva.

***