Selasa, 27 Januari 2015

White Tea Jasmine (part 4)

-euros-

If you said,
You can colorised every detail of my life...
So, i want do the same.
Until years and years come, 
Can we colorised our life...together??

Jangan lagi menangis ziva...
Hidupmu terlalu berharga untuk menangisi sesuatu. Kamu terlalu kuat untuk terlihat lemah.

Respon awal saat saya melihatnya begitu lemah dan pucat adalah memeluknya, tapi menjadi sebuah kesalahan saya rasanya, karena dia semakin menangis...

Maaf...
Saya hanya ingin menenangkannya,  bukan malah membuatnya semakin sedih..bodohnya saya!!

Tak ada yang bisa saya lakukan saat melihatnya menangis, melihat orang yang begitu saya sayang tanpa suara duduk di samping saya, terdiam dan terisak nyaris 3 jam.

Saya hanya membiarkannya menangis, menikmati rasa yang saya kurang mengerti seperti apa.

Ziva,
I want let you know
This is my hand, if you want to hold on,
This is my shoulder, if you want to cry on,
This is me, if you want to hang on...

Saya tidak keberatan kok.

Saya berharap untuk bisa mengurangi semua rasa yang membuatnya menangis,
Saya ingin melakukan apapun, asal dia tidak terlihat selemah ini...

Di saat kami yang duduk bersebelahan ini terdiam, hanya memandang hamparan gunung yang berbaris di selimuti kabut tipis...

Pikiran saya pun melayang,
Beberapa hari lalu, saya meyakini diri bahwa hati ini telah begitu terpaut, begitu bergantung padanya...rasa ini kuat, semakin kuat, setiap saya menolak atau menghindarinya justru malah semakin dalam.

"Tenang zi, gw akan cari cara supaya bisa mengatasi perasaan gw sm lu nih...lu tenang aja ya, ini ga akan merubah apapun, sesuai sama yang pernah lu bilang..."

Saya mengucapkan ini setelah bilang jujur kalau saya sayang sama dia...

Tetapi,
Justru saya merasa ingkar, karena setiap saya cari cara untuk sekadar menghapus nya, rasa ini malah semakin menggila. Setiap hari saya ungkapkan rasa ini, secara langsung ataupun via whatsapp, pokoknya saya ingin dia tahu setiap hari kalau saya semakin sayang...

Dan tak pernah menemukan cara untuk menghilangkannya.

Saya takut ziva,
Takut rasa sakitnya, dan takut sosok kamu yang menghilang.

Malam itu,
Saya menjemputnya dari lokasi meetingnya bersama klien di bilangan Jakarta Timur. saat itu saya memberanikan diri untuk menjemputnya kesana, karena ia meeting dengan klien sendirian, lalu pulang pun berencana menggunakan taksi, dengan keberanian seorang pria yang tidak tega membiarkan perempuan yang disayang menempuh perjalanan malam seorang diri, saya pun menawarkan diri menjemput dan mengantarnya pulang. Seperti biasa, ia menolaknya. 

Pasir yang kita genggam terus menerus, akan lepas secara perlahan.
Karena ia menolak, sayapun tidak memaksanya..

Tetapi entah kenapa, dia mengiyakan tawaran saya. Senang rasanya.

Malam saat saya menjemputnya, ia terlihat lelah, ternyata ia benar-benar kelelahan.

"Are you okay zi?"

Dia hanya mengangguk

"Kasihan..."

Ungkap saya sambil mengusap rambutnya, dan melajukan kendaraan di jalan yang sudah lengang.

Saya mengajaknya mampir ke sebuah kedai, hanya ingin ia menghangatkan diri dengan secangkir teh poci panas.

Kedai ini tidak terlalu besar, letaknya di pinggir jalan, dan lumayan ramai untuk kedai yang aktif sejak sore hingga pagi menjelang, menu yang disediakan pun lumayan banyak, beragam mie instan dengan varian rasa, beragam jenis kopi tubruk hingga instan, roti dan pisang bakar berembel-embel cokelat bahkan keju, serta goreng-gorengan.

Kami memesan, 2 teh poci dan pisang bakar coklat. Saya melahap pisang bakar cokelat, tetapi ia terlihat lemas sekali dengan sesekali menuang teh poci ke gelas kecil terbuat dari tanah liat, lantas menyesapnya perlahan.

"Capek banget ya kamu zi?"

"Iyaa...masih banyak juga pe-er-nya..."

"Sabar yaa..."

"Iyaa...nanti juga selesai"
Dan ia tersenyum, seperi biasa, berusaha tersenyum dengan pekerjaan yang lumayan banyak, terlalu banyak menurut saya.

"Ehh iyaa...by the way, makasi yaa...udah dijemput jauh-jauh gini, mau dianter pulang, ditraktir lagi nihh...hehe makasi banyak ya ros..."

"Anytime zi..."

Lalu kami mulai bercerita banyak, dan terselip tawa, hingga kami benar-benar tertawa dan ia melupakan kelelahannya malam ini.

Sampai akhirnya, saya harus mengantarnya pulang.

Sweet memory start here.
Tak ingin melepaskan malam ini, kami terus bercerita sampai masuk ke dalam mobil, sampai sudah tak ada yang perlu diceritakan, hanya tawa yang tersisa...
Dan mata kami saling menatap.

Hening sesaat,
Jantung saya berdegup, ingin mengukir sesuatu, menggambarkan semua perasaan saya malam ini...

Tawa meninggalkan selapis senyuman di bibirnya, tangan pun meraih dagunya, dengan satu tarikan nafas saya mendekati wajahnya, terkecup.

Sedetik kemudian, ia membalasnya, lantas bibir ini saling bertaut...manis.

Tanpa sadar, saya tersenyum mengingat kejadian beberapa hari lalu, sejak hari itu perasaan ini semakin tidak karuan.

Ia sudah tidak lagi menangis,
Hanya suara senggukan yang tertinggal,
Tapi masih tetap terdiam.

"Zi...kamu lapar nggak"

Ia mengangguk

"Kita cari makan yuk...kamu mau makan apa?"

"Apa aja deh..."

"Ya udah...kita cari sambil jalan ya"

Ia mengangguk dan berjalan menuju mobil, saya menggandengnya.

***

Kami mampir di sebuah restoran sunda, memesan beberapa menu dengan ikan bakar yang terlihat lezat di buku menu.

Ia makan dengan lahap, sambil sesekali menertawai saya, yang lucu katanya, tak apa saya terlihat lucu atau konyol, yang penting, kamu tertawa.

Selesai manghabiskan makanan siang menjelang sore itu, ia mulai bercerita.

Saya mendengarkan, hingga habis minuman kami, dan kami kembali memesan 2 gelas teh tarik.

Speechless dengan ceritanya,
Bingung untuk berkomentar, dia hebat dengan menjalankan semua persiapan sendirian, sedangkan pasangannya sibuk  di pulau seberang, tetapi dia yakin semua akan berjalan sesuai rencana. Menjalankan sebuah hubungan jarak jauh, jarang bertemu, susah berkomunikasi, wajar saja banyak letupan-letupan. Tapi dia selalu mengatakan, semua baik-baik saja, kalaupun ada masalah pasti nantinya selesai...dan kembali baik.

Ya,
Semua akan baik-baik saja zi...

11 hari lagi kamu dilamar,
29 hari lagi saya naik pelaminan.

Kepala ini terasa berat, ingin menunduk saja rasanya, jantung pun terasa mencelos entah kemana, sedangkan hati ini menari-nari kegirangan, perasaan ini ingin selalu dimenangkan, dan memang akhirnya menang. 
Siapa yang patut disalahkan, apa yang harus di salahkan.

Jangan pernah merasa salah, karena ini memang salah
Jangan pernah merasa menyesal, karena tidak ada yang harus disesalkan...

Perasaan ini tidak salah, dan perasaan ini tidak layak buat disesalkan. 
Simpan saja!!!

***

Kalau kamu diminta untuk berkata jujur,
Kamu akan bilang apa?

pertanyaan yang selalu berputar-putar di kepala saya, pertama kali menerima pertanyaan ini, saya jawab kalau saya sayang sama dia, janji mencari cara untuk menghilangkan perasaan ini, tapi tidak hilang juga.

Saya tidak bisa.

Saya mematikan batang rokok yang belum juga pendek, duduk merasakan angin malam di teras.

Akhirnya, saya menahan berat kepala ini dengan 2 telapak tangan, menutup mata, mencoba bangkit dan berharap ini hanya mimpi, perasaan saya dengannya ini hanya goresan cerita mimpi yang indah, bahkan kedua tangan ini tak sanggup menopang beratnya kepala dengan pikiran yang berputar-putar, banyak.

Inhale...exhale.
Semua akan baik-baik saja.

Saya cuma ingin jujur zi...
Sebelum kamu bertanya lagi,

Dengan pikiran yang liar malam ini,
Jujur...
Saya ingin terus ada disampingmu,
Tertawa setiap hari,
Menggandeng tanganmu,
Memelukmu saat kamu sedih,
Memenuhi semua kebutuhanmu,
Menjadi orang yang selalu kamu butuhkan,
Bikin kamu bahagia...









Saya ingin memiliki kamu seutuhnya zi...



Can we colorised our life...together?

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar