Selasa, 20 Januari 2015

White Tea Jasmine (part 3)

-euros-

if i could give you one thing, i would give you the ability to see yourself through my eyes, only then would you realize how special you are to me...

Yess...kamu spesial!

Iyaa...saya memang ambil jaket itu buat kamu zi..khusus buat kamu.

Kenapa harus bohong yaa...

Aneh...perasaan ini aneh, 
Ada rasa kuatir hanya karena dia kedinginan, kuatir dia kurang konsentrasi sama meetingnya yang panjang dan banyak.

Lebih aneh lagi, kenapa saya harus bohong, apa saya juga harus jujur tentang apa yang saya rasakan ke dia?
Kalo saya bilang jujur, dia akan berpikir apa ya? Kemungkinan terbesar saya di gampar...hehe

Saya tersenyum sambil membayangkan wajahnya yang silly, and then i call her my silly face...setidaknya panggilan saya khusus buat dia, mungkin kalau dia tahu saya punya panggilan ini untuknya, benar-benar di gampar rasanya...

Saya pun tertawa memikirkan ini.

Seperti hari-hari sebelumnya, saya mengajaknya untuk sekadar bersama pergi ke kantor, menjemputnya di halte depan gang rumahnya, sekalian keluar tol berputar sedikit dan saya menemukan perempuan yang membuat saya selalu rindu setiap hari, membuat saya melupakan urusan saya, pekerjaan saya, bahkan diri saya sendiri, berlebihan ya...dan ia sudah berdiri manis di halte dengan beberapa orang di kanan kirinya...

Ini yang saya suka darinya, begitu melihat mobil saya berhenti di depannya, ia akan melangkah sembari tersenyum, ceria, dan saya merekam keceriaannya di balik kacamata hitam yang saya gunakan.

Membuka pintu sisi sebelah kiri, duduk manis, meletakkan tas diatas pangkuannya, melepaskan earphone dari telinganya, menyimpan ponsel ke dalam tasnya...lantas menegur saya.

This is, every detail of what her done everyday when i saw her comes in to my car. If you know...i love everything what you do!!

"Haii eros...apa kabar?"

Dia tersenyum, saya membalasnya dan menunggu celotehannya.

"Alhamdulillahh...ceria banget hari ini"

"Setiap hariii dongg..."

Nyengir,
Ya dia nyengir,
Ini dia silly face yang saya maksud.

Kami terdiam,
Saya mencari-cari sesuatu yang bisa jadi bahasan kami untuk mengisi kemacetan yang padahal sebentar lagi sampai kantor.

"Ehh eros..."

Dia duluan yang membuka obrolan 

"Ya..."

"Gw mau nanya deh..."

Saya menunggu pertanyaannya, tapi kenapa jantung ini deg-degan ya...

"Ada yang aneh deh, waktu lu ambilin jaket tempo hari buat gw, ituuu...emang sengaja buat gw, atooo..."

Jleb!!!
Iniii tandanyaa...dia ingin membahasnya
Oke...pilih kata-kata.

Saya menjawab sambil garuk-garuk kepala, mungkin ia melihat groginya saya...saya memilih untuk jujur sama diri saya sendiri, jadi saya akan jawab jujur, setidaknya menjelaskan dengan jujur.

"Yaaa...iyaa...itu emang saya ambilin khusus buat kamu"

Dia diam.

Saya perhatikan wajahnya dengan ekor mata saya, kok diem aja ya.

"Hahaha...gokil ngebela-belain ke parkiran buat ambil jaket, demi gw...isshhh baeekk bangett, makasii lohh"

Ehh...tanggapan antusias yang aneh, ini kah yang ada di pikirannya.

Ia menutupi sesuatu.
Tapi, ya sudahlah.

Obrolan berlanjut, ia bercerita tentang kegiatannya sehari-hari di rumah sebelum berangkat kantor, keribetannya dengan meeting-meeting kantor, terkadang pulang larut malam, pagi harus sudah ada di kantor lagi, ini pun saya beruntung bisa mengajaknya berangkat bareng. Terkadang, konyolnya, karena ingin mendapatkan pagi dengannya, saya mempercepat jam keberangkatan saya, biar sama dengan waktunya berangkat, hanya sekadar melepas rindu yang ia tak pernah tahu.

"Nanti malem, pulang jam berapa?"

"Asiiikk...mau ngajak ngedate ya?"
Sambil tersenyum mengejek.

"Hahaha...ngedate bukan ya namanya..."

"Ajak yang romantis doong kata-katanyaa..."

Hah...romantis, gimana caranya, saya bukan orang romantis, ehh...kok dia bikin saya GR gini yaa. 
Ok, saya coba.

"Mmmhh...ziva, saya ingin ajak kamu liat bintang malam ini, berkenankah dengan ajakan saya?"

Dia mengulum senyum sambil tertunduk. She is blushing. 

Dan, saya ga percaya diri dengan kata-kata yang saya ucapkan, terdengar konyol, ditambah dia diam saja.

"Saya berkenan..."
Jawabnya tiba-tiba.

Saya tersenyum.

Sesuatu yang manis mengumpat dalam diri kami.

***

Tung

Whatsapp message saya bunyi, dan tertulis namanya.

"Eros...kalo malam ini nge-date-nya pending dulu gimana?"

"Ehh...iyaa ga apa zi, kamu masih ribet ya?"

"Gw belum selesai nih meetingnya...lama deh"

"Iyaa ga apa, kita reschedule aja ya..take your time zi"

"Maaf ya..."

Tarik nafas.
3 jam menunggu,
5 jam yang lalu menyelesaikan pekerjaan dengan maksud, tanpa beban pekerjaan saat bersamanya.

Harus batal, its okay lah.

Hati ini sulit berkompromi hanya karena ia membatalkan janji malam ini, kok ada rasa kecewa ya...

sengaja melewati ruangnya bekerja, hanya ingin melihat sedikit sosoknya. beberapa orang di dalam ruangan ukuran 4x4 tersebut, dengan meja panjang, proyektor dan beberapa gelas air putih dan teh, serta makanan yang biasa diorder saat meeting. Saya menangkap sosoknya baru duduk dengan sebuah kertas di tangannya, lantas seorang pria mendekatinya, saya tidak kenal pastinya, langkah pun terhenti, hanya ingin memperhatikan si pria di sampingnya, dengan kepala sedikit menjulur untuk mengintip, si pria nyaris memeluknya dari belakang, dan ekspresi mereka yang saling tertawa, saya pun melangkahkan kaki dengan cepat ke ruang kerja saya.

Kenapa saya?
Ada apa dengan sosok pria itu, jangan-jangan dia suka juga sama ziva.

Kalaupun iya, kenapa memangnya?
Tapi, hati ini tidak rela rasanya.

Jealous-kah saya?

Besar. 
Rasa ini membesar.

***

Segala keribetan dimulai hari ini, dari mulai katering yang ternyata salah menu, undangan yang harusnya sudah jadi ternyata ganti tema, sampai ukuran pakaian pendamping, dan pakaian pagar ayu yang salah warna...

Oke...ini urusan perempuan, saya hanya bertugas jadi sopir.

Sembari menunggu, tangan ini bolak balik buka aplikasi whatsapp, berharap dia online, hanya sekadar ingin bertanya,  lagi apa ya dia? Lagi pake baju apa? Kangen ga ya sama saya...
Ya...saya kangen celotehnya.

"Haiii eroooss..."

Ehh dia negur duluan, senang banget ya rasanya...tanpa membiarkannya menunggu lama, saya pun langsung membalasnya

"Haiii zi...baru mau saya tegur, kamu lagi apa? Kangen ya sama saya...hahah"

Centang satu

Centang dua

Tung

"😊😊"

Hah? Cuma itu...
Cuma itu jawabannya, apa ini ya artinya, ingin mengartikan bahwa dia juga kangen sama saya sepertinya, ehh kok pede banget yaa...apapun itulah, yang jelas saya bisa chattingan sm dia.

"Ziva..."

"Yess..."

"Besok malam, masih berkenankah liat bintang sama saya?"

Centang langsung dua
Its means, she reads it

No answer.

Still online.

Ahhhh...hati ini begitu deg-degan hanya menunggu jawabannya.

Lama.

"EROS..."

Suara seorang wanita memanggil dengan keras dari arah fitting room. Saya menoleh kaget ke arahnya, sembari menutup aplikasi whatsapp, and left the chat.

"Aku manggil kamu dari tadi, sibuk banget sih sama ponselnya, emang bisa fitting baju sambil liat ponsel begitu.."

Bla bla bla...

"Nih liat, kegedean ya kayaknya, payetnya juga kurang banyak di bagian dada...gimana menurut kamu ros?"

Tanyanya sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin, dia cantik, sangat cantik, apalagi dengan kebaya untuk akad nikah kami nanti yang sedang ia gunakan sekarang.

"Kebayanya cantik...kamu juga cantik kok"

"Aku kan nanya ini kegedean yaa kebayanya, jawabannya cuma cantik..."

Ehh...salah ya jawaban saya,
Saya ga paham sebenernya sama kebaya yang kebesaran atau apalah itu, yang saya tahu cuma, dia itu cantik.

"EROSS...kamu sering bengong deh sekarang...ayo dongg waktu kita kan ga banyak nih buat nyiapin ini ituu..."
Celotehnya menggerutu.

"Biasa mbaak, laki-laki emang gitu, grogi udah mau lepas bujang hehe...banyak yang dipikirin jadinya ya mass..."
Ledek seseorang, entah siapa, yang sedang membantu calon saya itu mengenakan kebaya.

"Mas-nya, daripada bengong, mendingan fitting juga yuk beskapnya...ga seribet kebaya kok mas...yuk monggo mas"

Saya pun melangkah dengan gontai mengikuti si mbak-mbak yang meminta saya untuk fitting.

Sembari menuju ruang fitting, saya masih menyemptkan diri menengok aplikasi whatsapp, berharap ada balasan.

Tung

"Iya masih berkenan kok, besok malam ya...see you tomorrow eros😘😘"

Ehh...double happy, double power.
Pertama, dia masih berkenan dengan ajakan saya.
Kedua, dia kasih emoticon kiss, aahh makin ga karuan rasanya, yang pasti rasanya senang, tetiba fitting beskap ini menyenangkan.

Tak sabar menunggu besok, ingin memutar waktu jadi lebih cepat rasanya, tapi sekarang, disini, waktu berjalan begitu lamban.

***

"Did i ever say that i love you?"
"No"
"I love you"
"Still?"
"Always"

Waktu yang ditunggu pun akhirnya tiba, dia sudah duduk manis di sisi kiri saya, seperti biasa, bercerita lebih banyak. 

If you know, i miss you badly.

"By the way, ini mau kemana ya? Hahah...sorry ya gw cerita ngalor ngidul ga jelas gitu...hehe"

"Ehh ga apa, gw dengerin kok..."

"Jadi, kita mau kemana?"

"Gw ada tempat yang oke banget, menurut gw lu akan suka, tapi gw ga tau ya, lu udah pernah kesana atau belum..."

"Tempat apa?"

Aduh...mau jadi surprise sebenernya, tapi ga bisa kayaknya...tahan!

"Kok lu diem...tempat mesum ya?"
Tebaknya sambil memicingkan matanya dengan jail...

Saya pun tertawa dengan ekspresinya.

"Hahahaha...silly face"

"Apaaa...silly face?"

Ehhh aduhh...keceplosan saya, digampar deh ini..

"Panggilan buat gw, kok silly face, is my face that silly?"

"Ga...maksud gw, silly-nya tuh lucu, lu suka ada ekpresi yang gw ga duga gitu, lucu banget...maaf ya, gw bilangnya silly face..."

Dia manyun,
Hahaha...makin lucu mukanya.

"Okay...thats okay, i have a silly face...lucu juga..."

Ini dia tanggapan yang saya kira dia akan marah dengan panggilan itu, ternyata dia bilang lucu...dan dia ga marah, dan saya ga di gampar.

Hahahaaa...

***


Saya mengajaknya ke sebuah tempat penikmat dan penggila teh di bilangan Jakarta Selatan. sebagai seorang pecinta teh, seharusnya dia pernah kesini, jadi ga surprise kalo ternyata dia sering kesini, tapi ga apa, yang penting malam ini bisa bareng sama dia.

"Waduh..."
Teriaknya.

"Ehh kenapa?"

"Gw sama sekali ga tau loh kalo ada tempat khusus teh gini di daerah sini...kok lu bisa tau?"

"Browsing..."

And she is so surprised.
I did it.

"Masuk yuk..."
Saya mengajaknya masuk.

Dan dia memperhatikan setiap detil design tempat ini, sesekali menyentuhnya dan bergumam takjub. Tempat bernuansa vintage ini terasa homy. dengan kaca oval besar beraksen list ukiran berwarna putih, sisi seberang kaca ini adalah sebuah ruangan dengan nuansa ruang tamu, almari buku yang besar, meja dan sofa yang tampak nyaman, dan terlihat lebih private.

"Kita disini aja yuk ros...seru deh ini"

Kami pun memasuki ruangan itu, tetapi tak lama kami keluar lagi, setelah membaca sebuah tulisan di atas mejanya, minimum order Rp.400.000,
Memangnya kami mau pesan seberapa banyak teh dan cemilan.

"Kita pilih meja lain aja yuk..."
Ucapnya sambil menggandeng tangan saya di belakangnya menuju sebuah meja di pojok dengan tembok berwarna merah, 4 kursi yang menyerupai kursi baca, dan sebuah almari buku yang tidak terlalu besar, wajah saya memerah pasti, hanya karena ia menggandeng tangan saya dengan cepat, dan melepasnya begitu kami sampai di meja, mudah-mudahan dia ga liat.

Karena grogi, saya langsung memanggil pelayan untuk order, dan dia masih tertawa geli mengomentari tulisan di ruang tamu tadi, manis.

Pelayan pun datang, memberikan 2 buku menu.

Dia terlihat antusias karena ingin memesan semua teh itu katanya.

Dan banyak bertanya,

"Java tea ini apa ya mas?"
Tanyanya penasaran.

"Teh merah cenderung agak hitam, nanti akan kita berikan sirup gula terpisah mbak"

"Pahit banget ya? Kayak teh poci gitu ga rasanya?"

"Yang ini lebih pekat mbak..."

"Bukan celup kan ya?"

"Bukan mbak...kita sajikan semua pakai teko kok..."

Dan ia memesan java tea. Lalu melirik saya.

"Kalo white tea jasmine ini apa mas?"
Saya pun penasaran, ada teh warna putih, masa sihh...

"Ini teh putih mas...dilengkapi dengan aroma jasmine, ada bunga melatinya nanti di dalam cup-nya, kita kasih sirup gula juga"

"Kok bisa putih warnanya?" Tanya saya masih penasaran

"Iya mas, teh itu banyak warnanya, kalo teh putih ini dipetik saat masih kuncup, jadi dia warnanya putih..."

"Oke...saya pesan yang ini"

Kami mengobrol sedikit sebelum pelayan datang dengan orderan kami.

Tak lama,
Pelayan datang dengan orderan java tea miliknya, lalu nachos pesanannya.

Menyusul white tea pesanan saya,
Penampilannya cantik sekali, sebuah cangkir bening dengan jasmine didalamnya, saat pelayan menuangkan white tea dari teko, jasmine itu mengambang, dan warna tehnya benar-benar putih bening, dilengkapi dengan sirup gula, lucunya, sendok sirup gula ini seperti sendok madu yang digunakan winnie the pooh.

Dan ia memandangi cangkir bening white tea ini dengan sangat takjub.

"Lu mau tukeran...mau yang ini?"
Tanya saya.

"Ehh..nggak kok, suka aja sama warnanya...gelasnya cantik, boleh nyobain ga?"

"Boleh dongg..."

Dan kami menghabiskan malam itu dengan tertawa, banyak sekali tawa.

Saya baru sadar, teh itu warna-warni ya ternyata, seperti hidup kamu zi.

***

Tak terasa malam pun kian larut, tak ingin ini berakhir rasanya, waktu berjalan begitu cepat, jika saya bersamanya, tak bisakah bertambah beberapa jam lagi, tetapi wajahnya tak bisa bohong kalau dia sudah mengantuk, dan besok harus kembali bekerja.

Saya memutuskan untuk mengantarnya pulang sampai di depan rumahnya. Kali ini dia tak pernah menolak permintaan saya untuk mengantarnya pulang.

Ada rasa tak rela melepasnya saat ia turun dari mobil, ingin terus bersama rasanya, ingin memeluknya, konyol ya.

Saya pun melanjutkan perjalanan menuju rumah, ditemani lantunan lagu labrinth...

Would you let me
See beneath your beautifull
Would you let me
See beneath your perfect...

Take it off now girl
Take it off now girl
I wanna see inside

Would you let me
See beneath your beautifull
Tonight.

Lampu merah,
Saya membuka aplikasi whatsapp
Ada sesuatu yang mendorong saya untuk membiarkan dia tahu apa yang saya rasakan.

She is online.

"Love you ziva😘😘"

Mungkin saya terdengar playboy, terdengar murah dengan mengumbar kata-kata ini...tapi perasaan ini hanya ingin jujur, tak ingin lama-lama membohongi diri.

Setidaknya, dia tahu, saya menyayanginya setiap hari.

She is not replied.

But its okay.

Mungkin, ia akan menjauhi saya besok.
Setidaknya, saya tidur nyenyak tanpa ada yang mengganjal di hati.

Nite Ziva.

***













Tidak ada komentar:

Posting Komentar