Selasa, 27 Januari 2015

White Tea Jasmine (part 4)

-euros-

If you said,
You can colorised every detail of my life...
So, i want do the same.
Until years and years come, 
Can we colorised our life...together??

Jangan lagi menangis ziva...
Hidupmu terlalu berharga untuk menangisi sesuatu. Kamu terlalu kuat untuk terlihat lemah.

Respon awal saat saya melihatnya begitu lemah dan pucat adalah memeluknya, tapi menjadi sebuah kesalahan saya rasanya, karena dia semakin menangis...

Maaf...
Saya hanya ingin menenangkannya,  bukan malah membuatnya semakin sedih..bodohnya saya!!

Tak ada yang bisa saya lakukan saat melihatnya menangis, melihat orang yang begitu saya sayang tanpa suara duduk di samping saya, terdiam dan terisak nyaris 3 jam.

Saya hanya membiarkannya menangis, menikmati rasa yang saya kurang mengerti seperti apa.

Ziva,
I want let you know
This is my hand, if you want to hold on,
This is my shoulder, if you want to cry on,
This is me, if you want to hang on...

Saya tidak keberatan kok.

Saya berharap untuk bisa mengurangi semua rasa yang membuatnya menangis,
Saya ingin melakukan apapun, asal dia tidak terlihat selemah ini...

Di saat kami yang duduk bersebelahan ini terdiam, hanya memandang hamparan gunung yang berbaris di selimuti kabut tipis...

Pikiran saya pun melayang,
Beberapa hari lalu, saya meyakini diri bahwa hati ini telah begitu terpaut, begitu bergantung padanya...rasa ini kuat, semakin kuat, setiap saya menolak atau menghindarinya justru malah semakin dalam.

"Tenang zi, gw akan cari cara supaya bisa mengatasi perasaan gw sm lu nih...lu tenang aja ya, ini ga akan merubah apapun, sesuai sama yang pernah lu bilang..."

Saya mengucapkan ini setelah bilang jujur kalau saya sayang sama dia...

Tetapi,
Justru saya merasa ingkar, karena setiap saya cari cara untuk sekadar menghapus nya, rasa ini malah semakin menggila. Setiap hari saya ungkapkan rasa ini, secara langsung ataupun via whatsapp, pokoknya saya ingin dia tahu setiap hari kalau saya semakin sayang...

Dan tak pernah menemukan cara untuk menghilangkannya.

Saya takut ziva,
Takut rasa sakitnya, dan takut sosok kamu yang menghilang.

Malam itu,
Saya menjemputnya dari lokasi meetingnya bersama klien di bilangan Jakarta Timur. saat itu saya memberanikan diri untuk menjemputnya kesana, karena ia meeting dengan klien sendirian, lalu pulang pun berencana menggunakan taksi, dengan keberanian seorang pria yang tidak tega membiarkan perempuan yang disayang menempuh perjalanan malam seorang diri, saya pun menawarkan diri menjemput dan mengantarnya pulang. Seperti biasa, ia menolaknya. 

Pasir yang kita genggam terus menerus, akan lepas secara perlahan.
Karena ia menolak, sayapun tidak memaksanya..

Tetapi entah kenapa, dia mengiyakan tawaran saya. Senang rasanya.

Malam saat saya menjemputnya, ia terlihat lelah, ternyata ia benar-benar kelelahan.

"Are you okay zi?"

Dia hanya mengangguk

"Kasihan..."

Ungkap saya sambil mengusap rambutnya, dan melajukan kendaraan di jalan yang sudah lengang.

Saya mengajaknya mampir ke sebuah kedai, hanya ingin ia menghangatkan diri dengan secangkir teh poci panas.

Kedai ini tidak terlalu besar, letaknya di pinggir jalan, dan lumayan ramai untuk kedai yang aktif sejak sore hingga pagi menjelang, menu yang disediakan pun lumayan banyak, beragam mie instan dengan varian rasa, beragam jenis kopi tubruk hingga instan, roti dan pisang bakar berembel-embel cokelat bahkan keju, serta goreng-gorengan.

Kami memesan, 2 teh poci dan pisang bakar coklat. Saya melahap pisang bakar cokelat, tetapi ia terlihat lemas sekali dengan sesekali menuang teh poci ke gelas kecil terbuat dari tanah liat, lantas menyesapnya perlahan.

"Capek banget ya kamu zi?"

"Iyaa...masih banyak juga pe-er-nya..."

"Sabar yaa..."

"Iyaa...nanti juga selesai"
Dan ia tersenyum, seperi biasa, berusaha tersenyum dengan pekerjaan yang lumayan banyak, terlalu banyak menurut saya.

"Ehh iyaa...by the way, makasi yaa...udah dijemput jauh-jauh gini, mau dianter pulang, ditraktir lagi nihh...hehe makasi banyak ya ros..."

"Anytime zi..."

Lalu kami mulai bercerita banyak, dan terselip tawa, hingga kami benar-benar tertawa dan ia melupakan kelelahannya malam ini.

Sampai akhirnya, saya harus mengantarnya pulang.

Sweet memory start here.
Tak ingin melepaskan malam ini, kami terus bercerita sampai masuk ke dalam mobil, sampai sudah tak ada yang perlu diceritakan, hanya tawa yang tersisa...
Dan mata kami saling menatap.

Hening sesaat,
Jantung saya berdegup, ingin mengukir sesuatu, menggambarkan semua perasaan saya malam ini...

Tawa meninggalkan selapis senyuman di bibirnya, tangan pun meraih dagunya, dengan satu tarikan nafas saya mendekati wajahnya, terkecup.

Sedetik kemudian, ia membalasnya, lantas bibir ini saling bertaut...manis.

Tanpa sadar, saya tersenyum mengingat kejadian beberapa hari lalu, sejak hari itu perasaan ini semakin tidak karuan.

Ia sudah tidak lagi menangis,
Hanya suara senggukan yang tertinggal,
Tapi masih tetap terdiam.

"Zi...kamu lapar nggak"

Ia mengangguk

"Kita cari makan yuk...kamu mau makan apa?"

"Apa aja deh..."

"Ya udah...kita cari sambil jalan ya"

Ia mengangguk dan berjalan menuju mobil, saya menggandengnya.

***

Kami mampir di sebuah restoran sunda, memesan beberapa menu dengan ikan bakar yang terlihat lezat di buku menu.

Ia makan dengan lahap, sambil sesekali menertawai saya, yang lucu katanya, tak apa saya terlihat lucu atau konyol, yang penting, kamu tertawa.

Selesai manghabiskan makanan siang menjelang sore itu, ia mulai bercerita.

Saya mendengarkan, hingga habis minuman kami, dan kami kembali memesan 2 gelas teh tarik.

Speechless dengan ceritanya,
Bingung untuk berkomentar, dia hebat dengan menjalankan semua persiapan sendirian, sedangkan pasangannya sibuk  di pulau seberang, tetapi dia yakin semua akan berjalan sesuai rencana. Menjalankan sebuah hubungan jarak jauh, jarang bertemu, susah berkomunikasi, wajar saja banyak letupan-letupan. Tapi dia selalu mengatakan, semua baik-baik saja, kalaupun ada masalah pasti nantinya selesai...dan kembali baik.

Ya,
Semua akan baik-baik saja zi...

11 hari lagi kamu dilamar,
29 hari lagi saya naik pelaminan.

Kepala ini terasa berat, ingin menunduk saja rasanya, jantung pun terasa mencelos entah kemana, sedangkan hati ini menari-nari kegirangan, perasaan ini ingin selalu dimenangkan, dan memang akhirnya menang. 
Siapa yang patut disalahkan, apa yang harus di salahkan.

Jangan pernah merasa salah, karena ini memang salah
Jangan pernah merasa menyesal, karena tidak ada yang harus disesalkan...

Perasaan ini tidak salah, dan perasaan ini tidak layak buat disesalkan. 
Simpan saja!!!

***

Kalau kamu diminta untuk berkata jujur,
Kamu akan bilang apa?

pertanyaan yang selalu berputar-putar di kepala saya, pertama kali menerima pertanyaan ini, saya jawab kalau saya sayang sama dia, janji mencari cara untuk menghilangkan perasaan ini, tapi tidak hilang juga.

Saya tidak bisa.

Saya mematikan batang rokok yang belum juga pendek, duduk merasakan angin malam di teras.

Akhirnya, saya menahan berat kepala ini dengan 2 telapak tangan, menutup mata, mencoba bangkit dan berharap ini hanya mimpi, perasaan saya dengannya ini hanya goresan cerita mimpi yang indah, bahkan kedua tangan ini tak sanggup menopang beratnya kepala dengan pikiran yang berputar-putar, banyak.

Inhale...exhale.
Semua akan baik-baik saja.

Saya cuma ingin jujur zi...
Sebelum kamu bertanya lagi,

Dengan pikiran yang liar malam ini,
Jujur...
Saya ingin terus ada disampingmu,
Tertawa setiap hari,
Menggandeng tanganmu,
Memelukmu saat kamu sedih,
Memenuhi semua kebutuhanmu,
Menjadi orang yang selalu kamu butuhkan,
Bikin kamu bahagia...









Saya ingin memiliki kamu seutuhnya zi...



Can we colorised our life...together?

***

Cup of tea (part 5)

-ziva-

Ruang Warna



Hai bantuan, 
sudah seberapakah kamu mewarnai jalanmu yang gelap kelabu?

Aku masih ada di belakangmu,
Melihatmu memberikan warna,
Masih dengan kuas yang kecil.

Bantuan,
Kamu melangkah terlalu jauh dari awal aku mengajakmu berbelok

Tapi tenang,
Aku mencoba menghafal jalannya,
Aku selalu menoleh ke belakang
Dan mengukur, sudah seberapa jauhkah ini...

Terkadang,
Kamu lupa mewarnai jalanmu bantuan,
Membuatku sulit mengingat jalannya...

Bantuan,
Bolehkah aku kembali ke ruangku sejenak?

Kamu diam,
Kamu menggeleng.

Tapi aku harus kembali.
Aku janji, akan menyusul jalanmu.
Aku pasti menemukanmu bantuan.

Tapi,
Ternyata...

Kamu mengikutiku setiap aku kembali.

Maaf...
Aku tidak bisa membiarkanmu masuk ke ruangku...

Aku tengok jendela warnaku,
Kamu ada disana, membelakangi pintu ruangku...
Sesekali menoleh ke pintuku.

Bantuan,
Berharap aku bukakah pintu ini untukmu?

Panas,
Hujan,
Saat kamu benar-benar kedinginan, kamu masih disana bantuan.

Kenapa,
Kamu biarkan bola karet biru di dalam kotak serat kayu birumu terus berlonjak-lonjak?

Aku buka ya pintu ruang ini
Dan persilahkan kamu masuk,

Tapi sebelumnya,
Biarkan aku bercerita tentang ruang ini.

This is my room,
Dengan banyak kotak-kotak memori berwarna-warni...

Tiap kisah yang aku simpan selalu memiliki warna yang berbeda,

Barisan paling depan,
Adalah kotak-kotak dengan memori terbaru, dengan warna yang masih segar terlihat

Jika kamu perhatikan,
Di barisan paling belakang kotak-kotak ini berwarna kelabu, dan semakin lama menghitam,

Itu kotak-kotak yang tidak pernah aku sentuh, mereka berdebu.

Sedangkan ruangannya sendiri, 
Belum memiliki warna...

Bantuan,
Mari silahkan masuk,
Saya ceritakan tentang warna ruang ini...

Kanan kiri ruangan ini perspektif panjang sekali, dindingnya dingin berlapis semen

Iya..
Belum aku beri warna.

Bantuan,
Maukah kita bermain?

Bermain memberikan warna pada ruang ini...

Aku ingin memberi warna dinding ini biru terang, warna kesukaanmu...

Lalu,
Kamu harus memberi warna selain warna biru...

Kamu memulainya,
Dengan warna merah.

Setiap langkah,
Sentuhan, di ruang ini,
Menghasilkan warna.

Setiap gerakanmu menghasilkan warna.

Sekarang ruang ini berwarna.

Sassttt...
Bantuan,
Jangan katakan pada siapapun, saya punya ruangan ini,

Ssssttt...
Bantuan,
Jangan biarkan orang lain tahu,
Kamu mewarnai ruangku...

***


Sabtu, 24 Januari 2015

Cup of tea (part 4)

-ziva-

Tuhan menciptakan langit dan bumi dengan sederhana. Dan sesederhana itu juga aku bilang ke kamu kalau aku suka. Suka sama semua kelebihan dan kekurangan yang kamu punya. Dan suka cara kamu meminum teh dan menyisakannya untukku.

-anugerah secangkir teh-

sesederhana kamu bilang sayang sama aku.

Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Tapi aku memilih untuk berpikir simple, 
Atau setidaknya memilih untuk jujur.

Jujur pada diriku sendiri.
Seperti yang selalu kamu bilang.

Kaget?
Ya...pasti aku kaget begitu kamu mengucapkan kata sayang,
Hellooo...ini lebih dari kata naksir loh,
Do you know that?

Awalnya aku berpikir, kalau cuma naksir yaa...rasa itu masih bisa di simpan, dalam hati. Tapi kalau sayang, itu sudah ada lebih dalam dari sekadar naksir.

Malam ini, malam yang ke sekian kalinya kamu mengajakku melihat bintang lagi, lalu kita mengobrol tentang banyak hal seperti biasa.

Satu hal yang ga pernah kita bahas,
Kondisi...

Ya...kondisi tentang hal-hal yang pribadi sekali.

Tentang,
Kamu dengannya,
Aku dengannya.

Yang ada cuma, 
Aku dan kamu, dan sesuatu atau bahkan semua hal yang mereka, orang-orang yang seharusnya dekat dan paling tahu tentang kita, justru kita yang saling lebih tahu, dan mengerti dibanding mereka.
Sesuatu hal yang mereka tidak tahu, tapi kita saling tahu.

Kamu ingin aku tahu,
Aku ingin kamu tahu,
Thats it, thats us.

Dia merasa begini juga ga ya...

Setiap hari, aplikasi whatsapp-ku selalu ada kata...
"Love u Ziva😘😘"

Setiap hari.

Dia mengirimkan ini setiap hari, 
Tanpa aku balas.

Duh Gusti...
Aku nggak berani lebih dalam, tapi ga bisa bohong, ada rasa aneh yang terus menari-nari, inikah istilah...

'Butterfly in my stomach'



***

"Eros..."

"ya..."

"Nama lu tuh bagus ya?"

"Hah? Emang tahu arti nama gw"

"Nama lu itu kan sebenernya Euros..."
Lantas saya mengeja kelima huruf namanya

E...U...R...O...S

"seharusnya pengucapannya yuros, tapi kenapa ya orang-orang manggilnya eros?"
Tanyaku.

"Namanya juga lidah orang Indonesia zi, biar gampang aja, yuros tuh terlalu kebarat-baratan ga sihh...secara muka gw ga bule-bule banget haha..."

"Iyaa...ga cocok, muka lu kayak mas-mas..."

Hahahhaa...

Saya suka dengan arti namanya,
Euros itu adalah salah satu dewa angin di mitologi yunani, ada 4 dewa angin yang diceritakan, sesuai dengan arah mata angin, euros adalah dewa angin timur yang diasosiasikan dengan musim gugur dan hujan, simbolnya adalah vas terbalik yang berarti kucuran air.

Dia memiliki 2 unsur kehidupan dalam namanya, air dan angin. Bagus ya...

"Lu tahu dari mana arti nama gw itu zi"
Tanyanya setelah aku menceritakan hasil browsingan namanya di google

"Dari google lah, gw suka cerita-cerita tentang mitologi dewa dewi yunani, bagus taukk...pas lagi browsing nama dewa apaa gitu, eh ada nama lu hihihii..."

"Terus..."

"Terus apa..."

"Ooo...ga ada lagi ya, kirain jadi jatuh hati gitu sama gw...hahah"

"Iiisshhh...pedee luu..."

Iya...
Aku sudah mulai jatuh hati ros.

Jatuh hati sama kamu.

***

Will you cater to every fantasy I got?
Will you hose me down with holy water, if I get too hot?
Will you take me places I've never known?

After a while you'll forget everything
It was a brief interlude and a midsummer night's fling
And you'll see that it's time to move on

I'd do anything for love-Meat Loaf

Aku membaca jadwal penerbangan yang terpampang di dekat pintu kedatangan.

Just landed.

Tung

Message whatsappku berbunyi

"I just landed, saya ambil bagasi dulu ya...miss you so bad zi😘😘"

Tanpa senyum,
Tanpa ekspresi begitu aku membaca pesan ini, dan menutup ponsel tanpa membalas.

Message dari Dion, adalah sesuatu yang selalu aku tunggu setiap saat, sedikit saja tanda whatsapp berbunyi, aku langsung yakin itu message darinya, lantas aku langsung meraihnya dan selalu membalasnya dengan ceria. Tapi kini, ada rasa yang menutupi itu.

Ada sesuatu yang aneh,
Rasanya ia datang dengan terpaksa, setelah aku memintanya dengan paksa untuk memastikan tanggal lamaran, begitu dia bilang pasti dengan tanggalnya, aku langsung memesan tiket agar dia berangkat ke Jakarta, aku ga mau lagi batal hanya karena tidak dapat tiket yang ia pesan secara mendadak bahkan membelinya langsung di bandara untuk penerbangan saat itu juga. Ia dapat cuti selama 2 minggu di Jakarta, ini berarti 14 hari dari hari ini, dan tanggal lamaranku 12 hari lagi, 2 hari kemudian dia harus kembali dengan kesibukannya.

Tak apa, setidaknya ia sudah disini, dan lamaran pasti akan berjalan sesuai rencana.

Aku melihatnya di pintu kaca, ia berjalan dengan begitu gagahnya, kaos berkerah marun yang simple dengan padanan blue jeans pekat, dan topi hitam serta kacamata hitamnya, menyeret kopernya dengan tangan kanan dan ponsel yang ditempelkan di telinga sebelah kirinya, siapa yang tidak terpesona dengan penampilannya, kulit putih bersih, rentetan gigi yang rapi saat ia tersenyum, dan suara khas nya yang berat, ini salah satu yang membuat aku tertarik dengannya sejak duduk di bangku kuliah semester awal, dan dia adalah senior yang sempat mengospekku, padahal beda jurusan...dan kami baru resmi jadian saat ia telah lulus kuliah dan aku sedang menyusun skripsi saat itu. Salah satu sosok yang digemari banyak perempuan di kampus, gonta ganti pasangan, tetapi awet pacaran 5 tahun denganku dan kini sukses di tanah borneo, dalam waktu yang begitu singkat setelah ia lulus dari kuliahnya. Siapa yang makin ga tergila-gila dengan sosoknya, yang bahkan akan melamar si itik buruk rupa macam aku ini...semua orang tertawa pastinya.

"Haii honey...are you missing me?"

Dia memelukku seperti biasa. Masih dengan ponsel yang tertempel di telinganya, aku menunggunya hingga selesai dengan percakapannya itu.

"Hold on...hold on, wait a moment please..."
Ia menghentikan percakapannya, tapi tidak menyudahinya.

"Zi, kamu kok bengong aja, mobilnya kamu parkir dimana...yuk sekalian kita jalan kesana aja..."

Aku hanya mengangguk dan berjalan di depannya menuju tempatku memarkir mobil.

Sesampainya di mobil, ia masih sibuk dengan ponselnya, lantas aku duduk di kursi kemudi, setelah ia masuk ke dalam mobil, aku nyalakan mesin tanpa basa basi.

Di tengah perjalanan, ia merubah rencana.
"Zi, kita mampir ke kantor pusat ku dulu ya...sebentar aja kok taro berkas, abis itu baru ke apartemen aku...boleh ya honey?"

Aku hanya berdeham sambil mengangguk, dan berbelok ke arah sudirman.

Aku pikir sebentar itu, hanya meletakkan berkas lantas langsung kembali ke mobil dan beranjak ke apartemennya, because he promised me, we have a little dinner this night.

Ternyata lama, dan langit mulai gelap, bukan mulai gelap, tapi...sudah gelap, dan aku masih di dalam mobil menunggunya.

Begitu lama akhirnya ia muncul, membuka pintu dan aku menutup buku yang sedang aku baca, lalu tancap gas.

"Maaf yaa zi...tadi aku ketemu bos aku, dia tau aku ke Jakarta hari ini, jadi besok dia ajak aku dinner sama klien-klien yang di Jakarta..."

Dia terhenti,

"Ehh iya...kita kapan ya mau dinner zi?"

Aku hanya meliriknya,

"This night.."
Jawabku singkat

Dia menepok jidatnya,
"Aduhh...aku lupa, maaf ya..tapi kemaleman kayaknya ya..."

Aku melambungkan pikiranku entah kemana, yang pasti tidak disampingnya yang sedang berceloteh, entah tentang apa...telingaku tidak mampu menangkap suara-suara rasanya.

Sesampainya di apartemen, ia meletakkan kopernya dan langsung menuju kamarnya, lantas terlelap.

Aku pun melangkahkan kaki keluar apartemen, menuju parkiran mobil, menyalakan mesin, dan berharap ini adalah mesih waktu, aku ingin kembali ke saat-saat aku menjadi ceria.

Entah mau kemana ini,
Aku butuh teh...

Aku butuh sendiri,
Aku butuh tenang,

Dan terlelap hingga matahari membangunkanku dengan paksa.


***

Tung...

"Happy sunday ziva..."
Message whatsapp yang membuatku mendapatkan sedikit suntikan energi,

Eros.

Aku membuka dan membacanya, bingung harus membalas apa, berkata jujurkah, berceritakah...atau apa?

"I need a little power..."
Entah kenapa aku ingin sekali mengetik kata-kata ini.

"Ziva, are u okay?"

"I need someone to hang on..."
Balasku, entah aku mau bilang apa sama eros, hanya bisa mengetik kata-kata ini, yang ada di hati dan pikiranku saat ini.

Aku menutup aplikasi whatsapp-ku

Lantas kembali online, banyak message dari eros, dia kuatir denganku...

"Ziva, let me know, what happen to you?" (10:56)

"Ziva.." (10:59)

"Hellooo...ziva..." (11:11)

"Dont make me worry please...answer me" (11:25)

"Ziva...i know you are online..."

Lalu aku menjawabnya dengan kebingungan.

"So sorry, i cant tell you here..."

"Okay, i will pick you up...for an hour, is it okay?"

"Yess..."
Jawabku singkat

"Let me drawning in my pillow for 5 minutes"
Lanjutku.

"Take your time, and wait for me..."

Aku menangis,
Tenggelam dengan pikiranku diatas bantal kesayanganku.

***




Selasa, 20 Januari 2015

White Tea Jasmine (part 3)

-euros-

if i could give you one thing, i would give you the ability to see yourself through my eyes, only then would you realize how special you are to me...

Yess...kamu spesial!

Iyaa...saya memang ambil jaket itu buat kamu zi..khusus buat kamu.

Kenapa harus bohong yaa...

Aneh...perasaan ini aneh, 
Ada rasa kuatir hanya karena dia kedinginan, kuatir dia kurang konsentrasi sama meetingnya yang panjang dan banyak.

Lebih aneh lagi, kenapa saya harus bohong, apa saya juga harus jujur tentang apa yang saya rasakan ke dia?
Kalo saya bilang jujur, dia akan berpikir apa ya? Kemungkinan terbesar saya di gampar...hehe

Saya tersenyum sambil membayangkan wajahnya yang silly, and then i call her my silly face...setidaknya panggilan saya khusus buat dia, mungkin kalau dia tahu saya punya panggilan ini untuknya, benar-benar di gampar rasanya...

Saya pun tertawa memikirkan ini.

Seperti hari-hari sebelumnya, saya mengajaknya untuk sekadar bersama pergi ke kantor, menjemputnya di halte depan gang rumahnya, sekalian keluar tol berputar sedikit dan saya menemukan perempuan yang membuat saya selalu rindu setiap hari, membuat saya melupakan urusan saya, pekerjaan saya, bahkan diri saya sendiri, berlebihan ya...dan ia sudah berdiri manis di halte dengan beberapa orang di kanan kirinya...

Ini yang saya suka darinya, begitu melihat mobil saya berhenti di depannya, ia akan melangkah sembari tersenyum, ceria, dan saya merekam keceriaannya di balik kacamata hitam yang saya gunakan.

Membuka pintu sisi sebelah kiri, duduk manis, meletakkan tas diatas pangkuannya, melepaskan earphone dari telinganya, menyimpan ponsel ke dalam tasnya...lantas menegur saya.

This is, every detail of what her done everyday when i saw her comes in to my car. If you know...i love everything what you do!!

"Haii eros...apa kabar?"

Dia tersenyum, saya membalasnya dan menunggu celotehannya.

"Alhamdulillahh...ceria banget hari ini"

"Setiap hariii dongg..."

Nyengir,
Ya dia nyengir,
Ini dia silly face yang saya maksud.

Kami terdiam,
Saya mencari-cari sesuatu yang bisa jadi bahasan kami untuk mengisi kemacetan yang padahal sebentar lagi sampai kantor.

"Ehh eros..."

Dia duluan yang membuka obrolan 

"Ya..."

"Gw mau nanya deh..."

Saya menunggu pertanyaannya, tapi kenapa jantung ini deg-degan ya...

"Ada yang aneh deh, waktu lu ambilin jaket tempo hari buat gw, ituuu...emang sengaja buat gw, atooo..."

Jleb!!!
Iniii tandanyaa...dia ingin membahasnya
Oke...pilih kata-kata.

Saya menjawab sambil garuk-garuk kepala, mungkin ia melihat groginya saya...saya memilih untuk jujur sama diri saya sendiri, jadi saya akan jawab jujur, setidaknya menjelaskan dengan jujur.

"Yaaa...iyaa...itu emang saya ambilin khusus buat kamu"

Dia diam.

Saya perhatikan wajahnya dengan ekor mata saya, kok diem aja ya.

"Hahaha...gokil ngebela-belain ke parkiran buat ambil jaket, demi gw...isshhh baeekk bangett, makasii lohh"

Ehh...tanggapan antusias yang aneh, ini kah yang ada di pikirannya.

Ia menutupi sesuatu.
Tapi, ya sudahlah.

Obrolan berlanjut, ia bercerita tentang kegiatannya sehari-hari di rumah sebelum berangkat kantor, keribetannya dengan meeting-meeting kantor, terkadang pulang larut malam, pagi harus sudah ada di kantor lagi, ini pun saya beruntung bisa mengajaknya berangkat bareng. Terkadang, konyolnya, karena ingin mendapatkan pagi dengannya, saya mempercepat jam keberangkatan saya, biar sama dengan waktunya berangkat, hanya sekadar melepas rindu yang ia tak pernah tahu.

"Nanti malem, pulang jam berapa?"

"Asiiikk...mau ngajak ngedate ya?"
Sambil tersenyum mengejek.

"Hahaha...ngedate bukan ya namanya..."

"Ajak yang romantis doong kata-katanyaa..."

Hah...romantis, gimana caranya, saya bukan orang romantis, ehh...kok dia bikin saya GR gini yaa. 
Ok, saya coba.

"Mmmhh...ziva, saya ingin ajak kamu liat bintang malam ini, berkenankah dengan ajakan saya?"

Dia mengulum senyum sambil tertunduk. She is blushing. 

Dan, saya ga percaya diri dengan kata-kata yang saya ucapkan, terdengar konyol, ditambah dia diam saja.

"Saya berkenan..."
Jawabnya tiba-tiba.

Saya tersenyum.

Sesuatu yang manis mengumpat dalam diri kami.

***

Tung

Whatsapp message saya bunyi, dan tertulis namanya.

"Eros...kalo malam ini nge-date-nya pending dulu gimana?"

"Ehh...iyaa ga apa zi, kamu masih ribet ya?"

"Gw belum selesai nih meetingnya...lama deh"

"Iyaa ga apa, kita reschedule aja ya..take your time zi"

"Maaf ya..."

Tarik nafas.
3 jam menunggu,
5 jam yang lalu menyelesaikan pekerjaan dengan maksud, tanpa beban pekerjaan saat bersamanya.

Harus batal, its okay lah.

Hati ini sulit berkompromi hanya karena ia membatalkan janji malam ini, kok ada rasa kecewa ya...

sengaja melewati ruangnya bekerja, hanya ingin melihat sedikit sosoknya. beberapa orang di dalam ruangan ukuran 4x4 tersebut, dengan meja panjang, proyektor dan beberapa gelas air putih dan teh, serta makanan yang biasa diorder saat meeting. Saya menangkap sosoknya baru duduk dengan sebuah kertas di tangannya, lantas seorang pria mendekatinya, saya tidak kenal pastinya, langkah pun terhenti, hanya ingin memperhatikan si pria di sampingnya, dengan kepala sedikit menjulur untuk mengintip, si pria nyaris memeluknya dari belakang, dan ekspresi mereka yang saling tertawa, saya pun melangkahkan kaki dengan cepat ke ruang kerja saya.

Kenapa saya?
Ada apa dengan sosok pria itu, jangan-jangan dia suka juga sama ziva.

Kalaupun iya, kenapa memangnya?
Tapi, hati ini tidak rela rasanya.

Jealous-kah saya?

Besar. 
Rasa ini membesar.

***

Segala keribetan dimulai hari ini, dari mulai katering yang ternyata salah menu, undangan yang harusnya sudah jadi ternyata ganti tema, sampai ukuran pakaian pendamping, dan pakaian pagar ayu yang salah warna...

Oke...ini urusan perempuan, saya hanya bertugas jadi sopir.

Sembari menunggu, tangan ini bolak balik buka aplikasi whatsapp, berharap dia online, hanya sekadar ingin bertanya,  lagi apa ya dia? Lagi pake baju apa? Kangen ga ya sama saya...
Ya...saya kangen celotehnya.

"Haiii eroooss..."

Ehh dia negur duluan, senang banget ya rasanya...tanpa membiarkannya menunggu lama, saya pun langsung membalasnya

"Haiii zi...baru mau saya tegur, kamu lagi apa? Kangen ya sama saya...hahah"

Centang satu

Centang dua

Tung

"😊😊"

Hah? Cuma itu...
Cuma itu jawabannya, apa ini ya artinya, ingin mengartikan bahwa dia juga kangen sama saya sepertinya, ehh kok pede banget yaa...apapun itulah, yang jelas saya bisa chattingan sm dia.

"Ziva..."

"Yess..."

"Besok malam, masih berkenankah liat bintang sama saya?"

Centang langsung dua
Its means, she reads it

No answer.

Still online.

Ahhhh...hati ini begitu deg-degan hanya menunggu jawabannya.

Lama.

"EROS..."

Suara seorang wanita memanggil dengan keras dari arah fitting room. Saya menoleh kaget ke arahnya, sembari menutup aplikasi whatsapp, and left the chat.

"Aku manggil kamu dari tadi, sibuk banget sih sama ponselnya, emang bisa fitting baju sambil liat ponsel begitu.."

Bla bla bla...

"Nih liat, kegedean ya kayaknya, payetnya juga kurang banyak di bagian dada...gimana menurut kamu ros?"

Tanyanya sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin, dia cantik, sangat cantik, apalagi dengan kebaya untuk akad nikah kami nanti yang sedang ia gunakan sekarang.

"Kebayanya cantik...kamu juga cantik kok"

"Aku kan nanya ini kegedean yaa kebayanya, jawabannya cuma cantik..."

Ehh...salah ya jawaban saya,
Saya ga paham sebenernya sama kebaya yang kebesaran atau apalah itu, yang saya tahu cuma, dia itu cantik.

"EROSS...kamu sering bengong deh sekarang...ayo dongg waktu kita kan ga banyak nih buat nyiapin ini ituu..."
Celotehnya menggerutu.

"Biasa mbaak, laki-laki emang gitu, grogi udah mau lepas bujang hehe...banyak yang dipikirin jadinya ya mass..."
Ledek seseorang, entah siapa, yang sedang membantu calon saya itu mengenakan kebaya.

"Mas-nya, daripada bengong, mendingan fitting juga yuk beskapnya...ga seribet kebaya kok mas...yuk monggo mas"

Saya pun melangkah dengan gontai mengikuti si mbak-mbak yang meminta saya untuk fitting.

Sembari menuju ruang fitting, saya masih menyemptkan diri menengok aplikasi whatsapp, berharap ada balasan.

Tung

"Iya masih berkenan kok, besok malam ya...see you tomorrow eros😘😘"

Ehh...double happy, double power.
Pertama, dia masih berkenan dengan ajakan saya.
Kedua, dia kasih emoticon kiss, aahh makin ga karuan rasanya, yang pasti rasanya senang, tetiba fitting beskap ini menyenangkan.

Tak sabar menunggu besok, ingin memutar waktu jadi lebih cepat rasanya, tapi sekarang, disini, waktu berjalan begitu lamban.

***

"Did i ever say that i love you?"
"No"
"I love you"
"Still?"
"Always"

Waktu yang ditunggu pun akhirnya tiba, dia sudah duduk manis di sisi kiri saya, seperti biasa, bercerita lebih banyak. 

If you know, i miss you badly.

"By the way, ini mau kemana ya? Hahah...sorry ya gw cerita ngalor ngidul ga jelas gitu...hehe"

"Ehh ga apa, gw dengerin kok..."

"Jadi, kita mau kemana?"

"Gw ada tempat yang oke banget, menurut gw lu akan suka, tapi gw ga tau ya, lu udah pernah kesana atau belum..."

"Tempat apa?"

Aduh...mau jadi surprise sebenernya, tapi ga bisa kayaknya...tahan!

"Kok lu diem...tempat mesum ya?"
Tebaknya sambil memicingkan matanya dengan jail...

Saya pun tertawa dengan ekspresinya.

"Hahahaha...silly face"

"Apaaa...silly face?"

Ehhh aduhh...keceplosan saya, digampar deh ini..

"Panggilan buat gw, kok silly face, is my face that silly?"

"Ga...maksud gw, silly-nya tuh lucu, lu suka ada ekpresi yang gw ga duga gitu, lucu banget...maaf ya, gw bilangnya silly face..."

Dia manyun,
Hahaha...makin lucu mukanya.

"Okay...thats okay, i have a silly face...lucu juga..."

Ini dia tanggapan yang saya kira dia akan marah dengan panggilan itu, ternyata dia bilang lucu...dan dia ga marah, dan saya ga di gampar.

Hahahaaa...

***


Saya mengajaknya ke sebuah tempat penikmat dan penggila teh di bilangan Jakarta Selatan. sebagai seorang pecinta teh, seharusnya dia pernah kesini, jadi ga surprise kalo ternyata dia sering kesini, tapi ga apa, yang penting malam ini bisa bareng sama dia.

"Waduh..."
Teriaknya.

"Ehh kenapa?"

"Gw sama sekali ga tau loh kalo ada tempat khusus teh gini di daerah sini...kok lu bisa tau?"

"Browsing..."

And she is so surprised.
I did it.

"Masuk yuk..."
Saya mengajaknya masuk.

Dan dia memperhatikan setiap detil design tempat ini, sesekali menyentuhnya dan bergumam takjub. Tempat bernuansa vintage ini terasa homy. dengan kaca oval besar beraksen list ukiran berwarna putih, sisi seberang kaca ini adalah sebuah ruangan dengan nuansa ruang tamu, almari buku yang besar, meja dan sofa yang tampak nyaman, dan terlihat lebih private.

"Kita disini aja yuk ros...seru deh ini"

Kami pun memasuki ruangan itu, tetapi tak lama kami keluar lagi, setelah membaca sebuah tulisan di atas mejanya, minimum order Rp.400.000,
Memangnya kami mau pesan seberapa banyak teh dan cemilan.

"Kita pilih meja lain aja yuk..."
Ucapnya sambil menggandeng tangan saya di belakangnya menuju sebuah meja di pojok dengan tembok berwarna merah, 4 kursi yang menyerupai kursi baca, dan sebuah almari buku yang tidak terlalu besar, wajah saya memerah pasti, hanya karena ia menggandeng tangan saya dengan cepat, dan melepasnya begitu kami sampai di meja, mudah-mudahan dia ga liat.

Karena grogi, saya langsung memanggil pelayan untuk order, dan dia masih tertawa geli mengomentari tulisan di ruang tamu tadi, manis.

Pelayan pun datang, memberikan 2 buku menu.

Dia terlihat antusias karena ingin memesan semua teh itu katanya.

Dan banyak bertanya,

"Java tea ini apa ya mas?"
Tanyanya penasaran.

"Teh merah cenderung agak hitam, nanti akan kita berikan sirup gula terpisah mbak"

"Pahit banget ya? Kayak teh poci gitu ga rasanya?"

"Yang ini lebih pekat mbak..."

"Bukan celup kan ya?"

"Bukan mbak...kita sajikan semua pakai teko kok..."

Dan ia memesan java tea. Lalu melirik saya.

"Kalo white tea jasmine ini apa mas?"
Saya pun penasaran, ada teh warna putih, masa sihh...

"Ini teh putih mas...dilengkapi dengan aroma jasmine, ada bunga melatinya nanti di dalam cup-nya, kita kasih sirup gula juga"

"Kok bisa putih warnanya?" Tanya saya masih penasaran

"Iya mas, teh itu banyak warnanya, kalo teh putih ini dipetik saat masih kuncup, jadi dia warnanya putih..."

"Oke...saya pesan yang ini"

Kami mengobrol sedikit sebelum pelayan datang dengan orderan kami.

Tak lama,
Pelayan datang dengan orderan java tea miliknya, lalu nachos pesanannya.

Menyusul white tea pesanan saya,
Penampilannya cantik sekali, sebuah cangkir bening dengan jasmine didalamnya, saat pelayan menuangkan white tea dari teko, jasmine itu mengambang, dan warna tehnya benar-benar putih bening, dilengkapi dengan sirup gula, lucunya, sendok sirup gula ini seperti sendok madu yang digunakan winnie the pooh.

Dan ia memandangi cangkir bening white tea ini dengan sangat takjub.

"Lu mau tukeran...mau yang ini?"
Tanya saya.

"Ehh..nggak kok, suka aja sama warnanya...gelasnya cantik, boleh nyobain ga?"

"Boleh dongg..."

Dan kami menghabiskan malam itu dengan tertawa, banyak sekali tawa.

Saya baru sadar, teh itu warna-warni ya ternyata, seperti hidup kamu zi.

***

Tak terasa malam pun kian larut, tak ingin ini berakhir rasanya, waktu berjalan begitu cepat, jika saya bersamanya, tak bisakah bertambah beberapa jam lagi, tetapi wajahnya tak bisa bohong kalau dia sudah mengantuk, dan besok harus kembali bekerja.

Saya memutuskan untuk mengantarnya pulang sampai di depan rumahnya. Kali ini dia tak pernah menolak permintaan saya untuk mengantarnya pulang.

Ada rasa tak rela melepasnya saat ia turun dari mobil, ingin terus bersama rasanya, ingin memeluknya, konyol ya.

Saya pun melanjutkan perjalanan menuju rumah, ditemani lantunan lagu labrinth...

Would you let me
See beneath your beautifull
Would you let me
See beneath your perfect...

Take it off now girl
Take it off now girl
I wanna see inside

Would you let me
See beneath your beautifull
Tonight.

Lampu merah,
Saya membuka aplikasi whatsapp
Ada sesuatu yang mendorong saya untuk membiarkan dia tahu apa yang saya rasakan.

She is online.

"Love you ziva😘😘"

Mungkin saya terdengar playboy, terdengar murah dengan mengumbar kata-kata ini...tapi perasaan ini hanya ingin jujur, tak ingin lama-lama membohongi diri.

Setidaknya, dia tahu, saya menyayanginya setiap hari.

She is not replied.

But its okay.

Mungkin, ia akan menjauhi saya besok.
Setidaknya, saya tidur nyenyak tanpa ada yang mengganjal di hati.

Nite Ziva.

***













Senin, 19 Januari 2015

Cup of tea (part 3)

-ziva-

I can't give u something special, but i can make your life colourfull like mine...

Hai bantuan,
Cuma ini yang bisa aku berikan,
Jika kamu melihat jalan yang panjang, lurus tanpa berbelok, dan itu hanya gelap kelabu...

Aku akan membantumu membuatnya lebih berwarna, tetapi aku akan bawa kamu berbelok sedikit ya?

Maukah?

Tapi aku janji, akan bawa kamu kembali...

Tak ada maksud lain,
Aku hanya ingin kamu melihat hidupku yang berwarna, seperti yang pernah aku ceritakan...

Jika jalan ini, jalanmu, dan tampak gelap kelabu, aku ajarkan kamu memberinya sedikit warna ya...

Ada 3 warna yang selalu aku gunakan, hijau, kuning dan oranye, terkadang merah...

jangan tanyakan terbuat dari apa bahan warna-warna ini, aku pun tidak yakin..setiap aku sebut warnanya, mereka akan muncul begitu saja, hanya dengan sekerjap mata

Maukah kamu mencobanya bantuan?

Aku bantu yah?
Oke...biarkan aku yang memberikan warnanya lebih dulu

Jika, jalan lurus ini gelap, warna yang pertama aku berikan adalah kuning untuk jalan aspalnya

Kenapa kuning?

Warna ini terang sekali, hanya dengan satu warna ini, gelap kelabumu terwakili...

Mari aku bantu untuk warna selanjutnya...

Langitnya beri saja warna oranye, warna senja, cantik yahh...

kamu tertawa loh bantuan...
Dan aku suka.

Kamu tahu tidak,
Aku beri kotakku, kotak kecil dengan pohon yang besar, warna pink keungu-unguan, fusia katanya...

Dan pohon ini, sudah tidak lagi tumbuh besar, tapi dia aktif bergerak, mungkin sekarang bentuknya seperti cumi-cumi ungu dengan tentakel yang selalu bergerak-gerak

Dan...
Dia terus bergerak saat kamu tertawa bantuan,
Saat kamu bercerita, saat kamu...









Saat kamu di sampingku...

Hai bantuan
Punyakah kamu kotak sepertiku,
Kotak perasaanmu seperti apa?
Apa bentuknya?
Apa warnanya?

Bagaimana perasaanmu setiap hari bantuan?

***