Minggu, 11 Januari 2015

Cup of tea (part 2)

-ziva-

Closer, closer I moved near you
The way I want you makes me fear you

Love breaks and love divides
Love laughs and love can make you cry
I can't believe the ways
That love can give
And love can take away

I find it hard to explain
It's crazy but it's happening
And I'm falling again
Much further than I've ever been
I'm falling deeper than the ocean
I am lost in this emotion -The Corrs-

kantor ini dingin banget hari ini, dan lupa bawa jaket...aaarrrkkk!!!

Tung
suara message whatsapp masuk, sebenernya udah tahu ini dari siapa, karena belakangan ini, sosoknya yang selalu ramai bolak balik di aplikasi chattingan whatsapp. Aku pun membukanya, dan seperti biasanya dihiasi dengan senyuman.

"Kedinginan?"

"Iya...😁"
Balasku dengan cepat dan singkat. Dan terjadilah percakapan via whatsapp di tengah meeting yang tak kunjung usai.

"Mau gw ambilin jaket?"
Tanyanya.

"Jaket siapa?"

"Jaket gw lah..."

"Bukannya di mobil ya jaket lu?"

"Iyaa...ga apa, nanti gw ambilin, kalo emang lu mau"

"Ga deh...ngerepotin"

"Ya udah kalo ga mau..."

Whatsapp pun berakhir untuk 15 menit kemudian.

Tung
Message whatsapp lagi, dari dia lagi.

"Jaket ada di meja lu ya, gw titip OB buat taro di meja lu, pake aja...nanti ga konsen lagi meetingnya karena dingin"

Jempol pun hanya melayang-layang diatas keypad, tanpa tahu harus membalas apa. Message selanjutnya masuk...

"Oiya...gw minta OB juga bikinin teh buat lu sekalian, pake gelas lu...diambil sekarang ya di meja lu, mumpung masih panas"

Okay...aku makin bingung harus balas apa. Satu message darinya masuk lagi. Mungkin karena aku read tapi tidak menjawab apapun.

"Ehh...tapi kalo mau aja ya, kalo ga mau nanti biar gw yang minum hehe..."

2 menit kemudian, saya baru menjawabnya.

"Eehh ya ampuuunn...makasii banyakk lohh, ini baik bangett ya lu sama gw, perhatian banget dah, tar gw melted gegara teh buatan lu, repot lu😄😄"

He is still online, and just read.

"Kan gw udah bilang, jangan bikinin teh buat gw, gampang terharu soalnya gw...dan melted nih😝😝"

Tung

"Hahahahaa..."
Hanya itu balasannya...

Aku pun ke meja dan kembali melanjutkan meeting, sambil menyesap segelas teh instan buatannya, ehh...bukan, buatan OB tapi orderan dia.

Pikiran pun melayang di tiap sesapan teh hangat yang melalui kerongkonganku.

2 hari lalu, tubuh ini lelah sekali karena pekerjaan yang terlampau banyak, aku pun harus benar-benar bilang hari itu melelahkan, tapi...lelah ini ditemani oleh sosoknya, yang menghibur.

Lelaki kaku, yang seperlunya banget, dan jarang tertawa, karena rasa penasaranku, akupun mencoba menaklukannya...kekakuannya maksudku.

Hari yang melelahkan itu, ia menawariku segelas teh buatannya, lantas aku menolak, entah kenapa aku menolak, padahal aku penggila teh. Yang aku takutkan saat itu hanyalah, kedekatan ini akan jadi aneh, akan terbawa sampai ke hati, dan aku menghindari itu.

Rasa penasaran dan ingin tahu tentang dirinya terlampau di luar batas, dan aku menuruti perasaan itu. Awalnya hanya untuk bercandaan, serius...hanya untuk bercanda, dan memuaskan sedikit rasa penasaranku.

Teh buatku adalah hal yang menenangkan juga menyenangkan, menghilangkan lelah, jenuh bahkan sakit.
Itu alasan aku tidak mau ia membuatkanku teh. Takut menjadi awal rasa nyaman dengannya. Untungnya waktu itu, dia tidak membuatkannya untukku.

Tetapi hari ini, karena dingin...
Dia pun berani membuatkanku segelas teh panas, walaupun itu melalui OB.

Melted.
Yess...banget.

Tapi rasanya lebih ke rasa kuatir karena takut jadi perasaan yang aneh

But...its okay.
Nikmati aja dulu.

Aku tahu ini tidak boleh, aku tidak boleh mengganggu perasaannya, apalagi harus hadir di hidupnya.

Iseng...
Aku pun mengiriminya message whatsapp, yang kebetulan sedang online.

"Ehhh...makasi ya ini teh sama jaketnya, membantu banget loh"

Centang, langsung dua

Typing...

"Anytime zi...kirain ga mau di minum"

"Gw minum, sayaang kali udah dibikin malah dianggurin"

Hening...
But we are still online.

"Mmhh...ini sengaja ya ngambilin jaket buat gw, bukannya parkiran mobil lu agak jauh?"

Online

Typing

Online

Typing

Kok lama ya balesnya...

Tung

"Sekalian beli sesuatu tadi di supermarket deket parkiran..."

Aku terlampau GR kalo dia ambil jaketnya karena khusus buat aku, ternyata tidak.

Ehh tapi ada rasa yang aneh, dia bohong ya...memangnya kenapa kalau dia ambil jaket itu bukan khusus buat aku, aneh...perasaan ini aneh.

***

Ketika kau tidak mampu meminum teh pahit,kau dengan sengaja menambahkan gula agar teh terasa manis. Sama seperti hidup.

-anugerah secangkir teh-

Aku menutup ponselku dengan sedikit rasa sedih...

3 kali...

Yaa...ini ketiga kalinya, Dion batal untuk datang, lebih memilih bekerja di tanah borneo...tidak hanya sekadar batal datang, sudah biasa rasanya dia membatalkan perjanjian kami. tapi...kali ini membatalkan tanggal lamaran, 5 tahun menjalin hubungan bukan waktu yang sebentar, tetapi setahun belakangan isinya hanya tanggal lamaran yang selalu mundur...

Semua kebutuhan sudah dipersiapkan, dan aku sudah mempersiapkan segalanya dengan manis, sendiri...

Membayangkan, menyiapkan semuanya berdua itu diluar pemikiran walau hati berkata ingin...

But its okay...
Aku sudah terbiasa dengan ini.
Kesendirian.

Tung
Suara whatsapp message

"Ziva, maaf ya...kamu ga marah kan, tanggal selanjutnya aku pastikan ga akan mundur lagi. I promise you"

Ada yang mengumpat dalam hati, 
Kemarin juga janjinya tidak akan ada yang berubah lagi. Tapi ya sudahlah...walaupun ini pahit rasanya.

Dengan pasti ponsel itu meluncur masuk ke dalam tas ku.

Dan memilih menunggu sesuatu yang manis datang menjemput.

Sejak kejadian segelas teh panas itu, aku pun jadi lebih sering memperhatikan sosoknya, aaiiiishhh...tak boleh lah ini...sambil memukul-mukul keningku.

Dan mobil miliknya yang sudah aku tunggu-tunggu pun datang, aku melangkah mendekati kendaraan hitam itu, membuka pintu depan, dan duduk tepat di sampingnya.

Seperti biasa aku pun melempar senyuman termanisku siang itu. 

"Hai ziva...apa kabar?" 
Tanyanya

"Baik..."
Jawabku sambil tersenyum.

Hening

"Sibuk ga hari ini?"

"Mmhh...lumayan, ada beberapa meeting, kenapa?"

"Mau ajak makan malem bareng, ehh tapi kalo lagi ga sibuk aja"

"Boleh..."
Jawabku sambil mengangguk pasti.

Aku menundukkan kepala menyembunyikan senyuman.

Menambahkan banyak gula di secangkir teh pahitku, manis.

Aku meninggalkan sisa pekerjaan hanya untuk sosok kaku yang seperlunya banget ini, butuh sedikit me-refresh pikiran setelah seharian di ruang meeting dan mengerjakan ini dan itu, mungkin ini alasan yang tepat aku menerima ajakannya untuk makan malam, bukan kali yang pertama, tapi untuk ke sekian kalinya, dan di ke sekian kalinya ini, aku masih terus tersenyum.

Pertemuan ini selalu berjalan manis, awalnya ia sosok yang sulit sekali bercerita, merangkai kata, bahkan kata-kata yang mudah diucapkan (menurutku) terkadang sulit sekali keluar dari mulutnya. Tapi belakangan, aku menyadari dia bukan sosok kaku yang aku pikirkan. Hidupnya menarik, ia menikmati masa mudanya dengan kenakalan-kenakalan yang biasa dilakukan pemuda kebanyakan, entah kenapa aku selalu tertarik dengan sosok yang dulunya mungkin tergolong pria bandel, dari duduk di bangku SMA aku selalu mengagumi sosok lelaki yang seperti ini. Karena menurutku bandel di usia muda itu hal yang wajar, dan ia akan bebenah diri di usia yang beranjak dewasa.

Ada lagi cerita yang paling menarik dan membuat aku tertawa, tentang kisahnya yang ternyata dikagumi banyak perempuan, sampai-sampai tumpukan surat cinta mendarat di laci meja kelasnya, tanpa ia sadari sudah menumpuk sekian lama. Lalu kisahnya yang cukup mengharukan menurutku, saat ia sadar sekolahnya sudah amat terbengkalai dan harus menuju ujian akhir, ia membuktikan pada semua orang, nakal bukan berarti tidak pintar, urutan pertama nilai tertinggi di akhir sekolahnya pun dapat ia raih, nakal tak selamanya busuk kan?
And he did it.

Ehhh...ada perasaan tertarik yang aneh, rasa penasaran yang amat sangat untuk tahu lebih dalam tentang dia...makin banyak ia bercerita, makin sadar dia sosok yang kemungkinan tipe lelaki yang aku kagumi, mungkin saat aku SMA. Bukan sekarang, tidak boleh!

***
Malam makin larut, akhirnya kami beranjak pulang, kali ini aku mengiyakan untuk diantar pulang

Perjalanan pulang, dengan jalanan Jakarta yang masih macet, membuat kami punya banyak waktu dan kesempatan untuk  berbincang, berbicara dan membahas tentang apapun...merasa tanpa batas.

Padahal, kami punya sebuah batas kaca tebal, aku bisa melihatnya melalui kaca itu, dia pun demikian...tapi kami berbatas untuk saling sentuh

Mellow...
Yess aku mellow.
Perasaan ini mellow.

Just let it flow ziva.

Lalu pertanyaan iseng pun muncul
"Eros, lu lagi mikir apa?"

Eros menyembulkan asap rokoknya keluar jendela mobilnya sambil tertawa kecil mendengar pertanyaanku

"Kenapa nanya gitu"

"Pengen tahu aja apa yang ada di pikiran lu"

"Ga mikir apa-apa sih yaa"

Aku memutar otak, karena penasaran dengan apa yang sedang ia pikirkan, lantas pertanyaan selanjutnya pun meluncur dari mulutku

"Kalo lu mau jujur malam ini sama gw, apa yg bakal lu bilang ke gw ros"

Ia pun tertawa,
Aku tertawa,
Kami tertawa...

"Jujur apa yaa...lu penasaran sama yang gw pikirin ya?"

Aku mengangguk, sambil nyengir

Lama 

Tik tok

Menunggu

...

Aku masih menunggu

...

"Ga usah deh ya lu tau yang gw pikirin, bahaya kayaknya heheee..."

"Loh kenapaaa...bikin gw makin penasaran dehh"

Lama membujuknya karena aku benar-benar penasaran...

Ia grogi
Berkali-kali membakar batang rokoknya

"Apa sihhh...gw janji deh ga akan gimana-gimana"

Kataku sambil mengangkat 2 jari telunjuk dan jari tengahku

"Bener yaaa?"

Masih dengan 2 jari di udara dan tersenyum manis, lalu mengangguk

Menunggu...

"Gw sayang sama lu ziva..."

Hening

...






  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar