-ziva-
Closer, closer I moved near you
The way I want you makes me fear you
Love breaks and love divides
Love laughs and love can make you
cry
I can't believe the ways
That love can give
And love can take away
I find it hard to explain
It's crazy but it's happening
And I'm falling again
Much further than I've ever been
I'm falling deeper than the ocean
I am lost in this emotion -The Corrs-
kantor ini dingin banget hari ini,
dan lupa bawa jaket...aaarrrkkk!!!
Tung
suara message whatsapp masuk,
sebenernya udah tahu ini dari siapa, karena belakangan ini, sosoknya yang
selalu ramai bolak balik di aplikasi chattingan whatsapp. Aku pun membukanya,
dan seperti biasanya dihiasi dengan senyuman.
"Kedinginan?"
"Iya...😁"
Balasku dengan cepat dan singkat.
Dan terjadilah percakapan via whatsapp di tengah meeting yang tak kunjung usai.
"Mau gw ambilin jaket?"
Tanyanya.
"Jaket siapa?"
"Jaket gw lah..."
"Bukannya di mobil ya jaket
lu?"
"Iyaa...ga apa, nanti gw
ambilin, kalo emang lu mau"
"Ga deh...ngerepotin"
"Ya udah kalo ga mau..."
Whatsapp pun berakhir untuk 15 menit
kemudian.
Tung
Message whatsapp lagi, dari dia
lagi.
"Jaket ada di meja lu ya, gw
titip OB buat taro di meja lu, pake aja...nanti ga konsen lagi meetingnya
karena dingin"
Jempol pun hanya melayang-layang
diatas keypad, tanpa tahu harus membalas apa. Message selanjutnya masuk...
"Oiya...gw minta OB juga
bikinin teh buat lu sekalian, pake gelas lu...diambil sekarang ya di meja lu,
mumpung masih panas"
Okay...aku makin bingung harus balas
apa. Satu message darinya masuk lagi. Mungkin karena aku read tapi tidak
menjawab apapun.
"Ehh...tapi kalo mau aja ya,
kalo ga mau nanti biar gw yang minum hehe..."
2 menit kemudian, saya baru
menjawabnya.
"Eehh ya ampuuunn...makasii
banyakk lohh, ini baik bangett ya lu sama gw, perhatian banget dah, tar gw
melted gegara teh buatan lu, repot lu😄😄"
He is still online, and just read.
"Kan gw udah bilang, jangan
bikinin teh buat gw, gampang terharu soalnya gw...dan melted nih😝😝"
Tung
"Hahahahaa..."
Hanya itu balasannya...
Aku pun ke meja dan kembali
melanjutkan meeting, sambil menyesap segelas teh instan buatannya, ehh...bukan,
buatan OB tapi orderan dia.
Pikiran pun melayang di tiap sesapan
teh hangat yang melalui kerongkonganku.
2 hari lalu, tubuh ini lelah sekali
karena pekerjaan yang terlampau banyak, aku pun harus benar-benar bilang hari
itu melelahkan, tapi...lelah ini ditemani oleh sosoknya, yang menghibur.
Lelaki kaku, yang seperlunya banget,
dan jarang tertawa, karena rasa penasaranku, akupun mencoba
menaklukannya...kekakuannya maksudku.
Hari yang melelahkan itu, ia
menawariku segelas teh buatannya, lantas aku menolak, entah kenapa aku menolak,
padahal aku penggila teh. Yang aku takutkan saat itu hanyalah, kedekatan ini
akan jadi aneh, akan terbawa sampai ke hati, dan aku menghindari itu.
Rasa penasaran dan ingin tahu
tentang dirinya terlampau di luar batas, dan aku menuruti perasaan itu. Awalnya
hanya untuk bercandaan, serius...hanya untuk bercanda, dan memuaskan sedikit
rasa penasaranku.
Teh buatku adalah hal yang
menenangkan juga menyenangkan, menghilangkan lelah, jenuh bahkan sakit.
Itu alasan aku tidak mau ia
membuatkanku teh. Takut menjadi awal rasa nyaman dengannya. Untungnya waktu
itu, dia tidak membuatkannya untukku.
Tetapi hari ini, karena dingin...
Dia pun berani membuatkanku segelas
teh panas, walaupun itu melalui OB.
Melted.
Yess...banget.
Tapi rasanya lebih ke rasa kuatir
karena takut jadi perasaan yang aneh
But...its okay.
Nikmati aja dulu.
Aku tahu ini tidak boleh, aku tidak
boleh mengganggu perasaannya, apalagi harus hadir di hidupnya.
Iseng...
Aku pun mengiriminya message
whatsapp, yang kebetulan sedang online.
"Ehhh...makasi ya ini teh sama
jaketnya, membantu banget loh"
Centang, langsung dua
Typing...
"Anytime zi...kirain ga mau di
minum"
"Gw minum, sayaang kali udah
dibikin malah dianggurin"
Hening...
But we are still online.
"Mmhh...ini sengaja ya
ngambilin jaket buat gw, bukannya parkiran mobil lu agak jauh?"
Online
Typing
Online
Typing
Kok lama ya balesnya...
Tung
"Sekalian beli sesuatu tadi di
supermarket deket parkiran..."
Aku terlampau GR kalo dia ambil jaketnya
karena khusus buat aku, ternyata tidak.
Ehh tapi ada rasa yang aneh, dia
bohong ya...memangnya kenapa kalau dia ambil jaket itu bukan khusus buat aku,
aneh...perasaan ini aneh.
***
Ketika kau tidak mampu meminum teh
pahit,kau dengan sengaja menambahkan gula agar teh terasa manis. Sama seperti
hidup.
-anugerah secangkir teh-
Aku menutup ponselku dengan sedikit
rasa sedih...
3 kali...
Yaa...ini ketiga kalinya, Dion batal
untuk datang, lebih memilih bekerja di tanah borneo...tidak hanya sekadar batal
datang, sudah biasa rasanya dia membatalkan perjanjian kami. tapi...kali ini
membatalkan tanggal lamaran, 5 tahun menjalin hubungan bukan waktu yang
sebentar, tetapi setahun belakangan isinya hanya tanggal lamaran yang selalu
mundur...
Semua kebutuhan sudah dipersiapkan,
dan aku sudah mempersiapkan segalanya dengan manis, sendiri...
Membayangkan, menyiapkan semuanya
berdua itu diluar pemikiran walau hati berkata ingin...
But its okay...
Aku sudah terbiasa dengan ini.
Kesendirian.
Tung
Suara whatsapp message
"Ziva, maaf ya...kamu ga marah
kan, tanggal selanjutnya aku pastikan ga akan mundur lagi. I promise you"
Ada yang mengumpat dalam hati,
Kemarin juga janjinya tidak akan ada
yang berubah lagi. Tapi ya sudahlah...walaupun ini pahit rasanya.
Dengan pasti ponsel itu meluncur
masuk ke dalam tas ku.
Dan memilih menunggu sesuatu yang
manis datang menjemput.
Sejak kejadian segelas teh panas
itu, aku pun jadi lebih sering memperhatikan sosoknya, aaiiiishhh...tak boleh
lah ini...sambil memukul-mukul keningku.
Dan mobil miliknya yang sudah aku
tunggu-tunggu pun datang, aku melangkah mendekati kendaraan hitam itu, membuka
pintu depan, dan duduk tepat di sampingnya.
Seperti biasa aku pun melempar
senyuman termanisku siang itu.
"Hai ziva...apa
kabar?"
Tanyanya
"Baik..."
Jawabku sambil tersenyum.
Hening
"Sibuk ga hari ini?"
"Mmhh...lumayan, ada beberapa
meeting, kenapa?"
"Mau ajak makan malem bareng,
ehh tapi kalo lagi ga sibuk aja"
"Boleh..."
Jawabku sambil mengangguk pasti.
Aku menundukkan kepala
menyembunyikan senyuman.
Menambahkan banyak gula di secangkir
teh pahitku, manis.
Aku meninggalkan sisa pekerjaan
hanya untuk sosok kaku yang seperlunya banget ini, butuh sedikit me-refresh
pikiran setelah seharian di ruang meeting dan mengerjakan ini dan itu, mungkin
ini alasan yang tepat aku menerima ajakannya untuk makan malam, bukan kali yang
pertama, tapi untuk ke sekian kalinya, dan di ke sekian kalinya ini, aku masih
terus tersenyum.
Pertemuan ini selalu berjalan manis,
awalnya ia sosok yang sulit sekali bercerita, merangkai kata, bahkan kata-kata
yang mudah diucapkan (menurutku) terkadang sulit sekali keluar dari mulutnya.
Tapi belakangan, aku menyadari dia bukan sosok kaku yang aku pikirkan. Hidupnya
menarik, ia menikmati masa mudanya dengan kenakalan-kenakalan yang biasa
dilakukan pemuda kebanyakan, entah kenapa aku selalu tertarik dengan sosok yang
dulunya mungkin tergolong pria bandel, dari duduk di bangku SMA aku selalu
mengagumi sosok lelaki yang seperti ini. Karena menurutku bandel di usia muda
itu hal yang wajar, dan ia akan bebenah diri di usia yang beranjak dewasa.
Ada lagi cerita yang paling menarik
dan membuat aku tertawa, tentang kisahnya yang ternyata dikagumi banyak
perempuan, sampai-sampai tumpukan surat cinta mendarat di laci meja kelasnya,
tanpa ia sadari sudah menumpuk sekian lama. Lalu kisahnya yang cukup
mengharukan menurutku, saat ia sadar sekolahnya sudah amat terbengkalai dan
harus menuju ujian akhir, ia membuktikan pada semua orang, nakal bukan berarti
tidak pintar, urutan pertama nilai tertinggi di akhir sekolahnya pun dapat ia
raih, nakal tak selamanya busuk kan?
And he did it.
Ehhh...ada perasaan tertarik yang
aneh, rasa penasaran yang amat sangat untuk tahu lebih dalam tentang
dia...makin banyak ia bercerita, makin sadar dia sosok yang kemungkinan tipe
lelaki yang aku kagumi, mungkin saat aku SMA. Bukan sekarang, tidak boleh!
***
Malam makin larut, akhirnya kami beranjak
pulang, kali ini aku mengiyakan untuk diantar pulang
Perjalanan pulang, dengan jalanan
Jakarta yang masih macet, membuat kami punya banyak waktu dan kesempatan untuk
berbincang, berbicara dan membahas tentang apapun...merasa tanpa batas.
Padahal, kami punya sebuah batas
kaca tebal, aku bisa melihatnya melalui kaca itu, dia pun demikian...tapi kami
berbatas untuk saling sentuh
Mellow...
Yess aku mellow.
Perasaan ini mellow.
Just let it flow ziva.
Lalu pertanyaan iseng pun muncul
"Eros, lu lagi mikir apa?"
Eros menyembulkan asap rokoknya
keluar jendela mobilnya sambil tertawa kecil mendengar pertanyaanku
"Kenapa nanya gitu"
"Pengen tahu aja apa yang ada
di pikiran lu"
"Ga mikir apa-apa sih yaa"
Aku memutar otak, karena penasaran
dengan apa yang sedang ia pikirkan, lantas pertanyaan selanjutnya pun meluncur
dari mulutku
"Kalo lu mau jujur malam ini
sama gw, apa yg bakal lu bilang ke gw ros"
Ia pun tertawa,
Aku tertawa,
Kami tertawa...
"Jujur apa yaa...lu penasaran
sama yang gw pikirin ya?"
Aku mengangguk, sambil nyengir
Lama
Tik tok
Menunggu
...
Aku masih menunggu
...
"Ga usah deh ya lu tau yang gw
pikirin, bahaya kayaknya heheee..."
"Loh kenapaaa...bikin gw makin
penasaran dehh"
Lama membujuknya karena aku
benar-benar penasaran...
Ia grogi
Berkali-kali membakar batang
rokoknya
"Apa sihhh...gw janji deh ga
akan gimana-gimana"
Kataku sambil mengangkat 2 jari
telunjuk dan jari tengahku
"Bener yaaa?"
Masih dengan 2 jari di udara dan
tersenyum manis, lalu mengangguk
Menunggu...
"Gw sayang sama lu
ziva..."
Hening
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar